Posted by: D on: Januari 15, 2012
Assalaamu’alaikum, qomm..
Bila aku lama tak muncul di sini, bukan berarti aku meninggalkanmu…
Aku sedang merenung, tentang banyak hal, tentang apa dan bagaimana oleh siapa… nah aku mulai sok filosofis lagi. Tapi, bukankah tanpa filosofi, semua ini tak ada makna, Qomm? Setiap gerakan, setiap lintasan pikiran, apakah itu hanya sekedar gerakan reflek nirkesadaran, ataukah memang sudah diskenariokan, qomm? Engkau sadar kini kan Qomm, bahwa ada yang Maha Tahu, yang di depan maupun yang di belakang kita, yaitu masa depan dan masa lalu kita, yang sudah menuliskan semuanya di Kitab-Nya yang bernama Lawuh Mahfudz.
Qomm, anggap aku sedang meracau mengeluarkan segala beban kata yang memberati pikiranku. Kau tahu aku membutuhkanmu untuk itu, Qomm.
Soal sifat-sifat Allah, sedari kecil aku sudah pernah diberi tahu oleh guru. Sudah pernah pula menghafal dengan melagukannya. Namun baru kini aku merasa tahu. Dan itu pun, belum tahap seluruhnya paham. Aku yakin, bila aku paham suatu saat nanti, maka rasa takutku pada-Nya akan bertambah. Seiring dengan bertambahnya rasa syukurku kepada-Nya, dengan menguatnya kekhusukan sholatku, dengan meningkatnya bagian waktuku dalam sehari semalam untuk mengingat-Nya.
Semua itu Qomm, dapat terjadi, hanya dengan izin-Nya! Jadi aku tidak boleh lupa untuk selalu meminta izinNya, seiring dengan ikhtiarku untuk mencapainya.
Qomm, demi kasih sayang Allah, maukah kau menjadi partnerku yang selalu mengingatkanku kepada-Nya?
Posted by: D on: Desember 8, 2011
Sewaktu kami memutuskan untuk mendaftar berangkat haji pada Des 2008, ada teman bertanya : Mengapa tidak memanfaatkan fitur ONH plus yang bisa lebih cepat waktu keberangkatannya, dan lebih singkat periode perjalanannya? Kami waktu itu memiliki alasan utama: kondisi kesehatan yang masih disangsikan, berhubung kepala saya masih dalam rangka pemulihan pasca perdarahan dan gegar otak. Karena di tanah suci cuaca ekstrim, dan rawan meningitis.
Keputusan untuk melaksanakannya secara reguler, memberikan kami waktu untuk pemulihan dengan melalui waktu tunggu antrian beberapa tahun. Alhamdulillah panggilan Allah sampai pada kami setelah menanti selama 3 tahun, pada tahun 2011 M/1432 H ini.
Ternyata, selain pertimbangan di atas, melaksanakannya secara reguler dirasakan oleh kami merupakan pilihan terbaik yang pernah kami putuskan. Selama hari-hari di Mekkah kami puas mengeksplorasi kota (baca: belanja-red) dan bisa memiliki waktu lebih lama bermesraan dengan Ka’bah dan Masjidil Harom, selain bisa melaksanakan umroh lebih sering. Demikian pula arba’in-an di Masjid Nabawi Madinnah, merupakan training secara militan selama 8 hari untuk tidak melalaikan waktu sholat dan melaksanakannya secara berjama’ah, khususnya bagi laki-laki yang memang seharusnya sholat berjama’ah di mesjid.
Namun tentunya setiap orang punya pertimbangan berbeda, dan terbaik untuk kami belum tentu terbaik untuk orang lain. Allah telah menjadikan kita berbeda-beda bukan hanya dalam segi suku, warna kulit, bahasa dan budaya. Namun juga latar belakang, kepentingan, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, bahkan niat tiap-tiap orang untuk satu aktivitas yang sama, dan segala hal yang lainnya. Perbedaan adalah sesuatu yang diciptakan Allah supaya kita saling kenal mengenal, dan itu merupakan berkah.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS-49 Al Hujuraat – 13)
Dipandang dari aspek ekonomi, adanya perbedaan telah menciptakan berbagai peluang bisnis untuk memenuhi kepentingan tiap-tiap pangsa pasar yang berbeda. Dipandang dari segi seni, sosial dan budaya perbedaan menyuguhkan warna warni indah di dunia ini. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Subhanallah…….. Allahu Akbar! Allah Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia.
Perbedaan merupakan hal yang sangat mewarnai perjalanan haji kami. Di tanah suci Mekkah dan di Madinah, di mana pun kami berada, selalu berpapasan dengan orang dari lain negara dan berbeda warna kulit dan bahasa. Orang Indonesia yang paling banyak pun, bahasanya berbeda-beda. Namun perbedaan itu tidak mempengaruhi komunikasi kami, karena bahasa isyarat sudah bisa menyampaikan inti pesan secara layak tanpa embel-embel . Sedikitnya pengetahuan mengenai bahasa negeri dari rekan sholat berjama’ah di sebelah kiri dan kanan kita bahkan mengurangi peluang untuk mengobrol ngalor ngidul. Hehe.. setidaknya untuk yang suka mengobrol seperti saya, sering sekali terjerumus ke dalam obrolan lain yang tidak penting atau dilarang Allah seperti ghibah. Jadi waktu di Harom/mesjid Nabawi dapat dihabiskan untuk berzikir/membaca Al-Qur’an kalau tidak sedang thowaf/sa’i. Untunglah teman-teman sekamar saya sepakat untuk tidak saling ketergantungan, jadi berangkat ke/pulang dari mesjid menurut waktu yang dirasa nyaman oleh masing-masing, tidak harus berbarengan yang mengakibatkan harus saling menunggu.
Betapa banyaknya berkah dari perbedaan tersebut, bila kita dapat menyikapinya dengan bijak, dengan cara mengembalikan semuanya kepada (tuntunan) Allah dan Rasul-Nya!
Posted by: D on: Oktober 1, 2011
InsyaAllah tahun ini saya dan suami akan menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat, kami tentunya perlu mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk surat wasiat apabila kami tidak ada umur untuk kembali lagi ke pangkuan keluarga. Surat wasiat yang saya buat baru saja seperti di bawah ini.
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Kepada yang kami hormati dan sayangi, Ate Hera Ganefi Tamara Dwindayani dan kakak kami Ade Suryatna, yang kami percaya untuk memegang amanah ini,
Assalamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh,
Terima kasih sebelumnya telah bersedia menyimpan surat ini, dan terima kasih lagi atas kesediaannya menyimpan dan melaksanakan amanah yang tertulis dalam surat ini, untuk kepentingan anak-anak kami Yasmin Kania Fatiha (Yasmin) dan Muhammad Salman Ahady (Salman). Semoga Allah melimpahkan kebaikan yang banyak, kekuatan, kesabaran serta limpahan balasan atas amanah yang akan dilaksanakan ini.
Saat ini, dengan kehendak Allah kami telah tiada di dunia ini, namun demikian kami tidak berkehendak meninggalkan keturunan yang lemah, dan sudah mengusahakan untuk meninggalkan bekal baik harta maupun arah pendidikannya. Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan milik Allah, semoga Allah mengabulkan keinginan kami ini melalui kasih sayang yang dianugerahkan kepada keluarga besar yang menaungi anak-anak kami selama di dunia hingga saat mereka dewasa dan mandiri.
Amanah kami adalah sebagai berikut :
- Yasmin dan Salman dididik untuk dunia dan akhirat di Pesantren Wirausaha yang dikelola Bapak Muhaimin Iqbal di daerah Jonggol, selepas dari pendidikan dasar SD di Kebon Maen hingga mereka mandiri (tabungan pendidikan dijelaskan pada lampiran).
- Hutang-hutang kami dibayarkan kepada pihak bank berbentuk cicilan rumah, cicilan pinjaman koperasi, dan pihak yang menagih dengan keyakinan yang kuat dari pihak keluarga (saat ini kami merasa tidak dalam kondisi berhutang pada pihak perorangan). Rincian hutang pada lampiran.
- Barang siapa yang berhutang pada kami, maka insyaAllah telah kami ikhlaskan seluruhnya dan tidak ada urusan lagi dengan kami pada hari penghisaban nanti.
- Apa yang telah kami sisihkan untuk tabungan pendidikan anak kami, tetap terpisah, tidak digabungkan dengan harta waris yang boleh dibagi sesuai dengan ketentuan hukum Islam.
- Hak-hak kami dari kantor perusahaan tempat kami bekerja, dapat dimasukkan kepada total harta waris yang dapat dibagikan sesuai hukum Islam.
- Membagi harta waris kami sesuai dengan ketentuan hukum Islam, atas semua harta yang kami miliki setelah dikurangi bagian yang disediakan untuk pendidikan Yasmin dan Salman serta hutang-hutang kami. Rincian harta, tabungan pendidikan anak-anak, dan hutang-hutang tertera pada lampiran.
- Bagian warisan dan tabungan pendidikan untuk anak-anak kami dapat dipergunakan untuk keperluan hariannya, dengan pengaturan oleh pemeliharanya hingga saat dewasa nanti.
Demikian amanah kami, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami, memudahkan hisab kami dan memasukkan kami ke dalam jannatun na’im, amin yaa robbal ‘aalamiin.
Wassalaamu’alaikum waroh matullaahiwabarokatuh
Yudi Sudrajat dan Dina Agustin Wulandari
Semoga Allah mengampuni seluruh dosa kami, dan menjadikan kami haji dan hajjah yang mabrur. Mohon maaf lahir bathin, izinkan kami berangkat dengan hati yang bersih dan ikhlas dari seluruh keluarga dan kerabat.
Semoga kita bertemu kembali di keabadian, amin yaa robbal ‘aalamiin.
Posted by: D on: September 21, 2011
Ketika mendengar orang berkata : ‘Aku sudah merindukan Ramadhan lagi’, aku bertanya-tanya apa motif dibalik pernyataan itu. Tentu itu bukan urusanku. Urusanku, hanyalah, di bagian mana aku akan setuju dengan mereka.
Ini ada beberapa pilihan motif :
Posted by: D on: Agustus 7, 2011
Bu Erry Soekresno, semoga Allah merahmati beliau, kemarin bercerita dengan berapi-api di hadapan para peserta seminar Parenting para orang tua murid Sekolah Komunitas Kebon Maen (6/8/2011). Betapa anak-anak sekarang sudah berada pada zaman yang berbeda dengan orang tuanya, sehingga pendidikan untuk mereka pun harus disesuaikan dengan zamannya.
Pertama-tama, beliau mengutip Ayat Q.S An-Nisa-9 :
“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. “
Selama berpuluh tahun beliau menyelami dunia psikologi pendidikan, beliau telah mencobakan berbagai macam metoda untuk menerapi anak yang ‘normal’ maupun berkebutuhan khusus. Pada akhirnya, beliau berkesimpulan bahwa tuntunan Al-Qur’an dan Rasulullah adalah yang terbaik.
Semua sahabat Rasulullah yang merupakan ulama-ulama besar, seperti sayyidina Ali bin Abu Thalib dan anggota Khulafaur Rasyiddin lainnya, dididik oleh Rasulullah dengan hafalan Qur’an.
Al-Quran yang telah dihafal isinya, berada di dalam hati dan dipahami dengan baik, merupakan kunci pembuka bagi kemampuan manusia yang limitless, dan memampukan mereka untuk menjalankan misi di dunia sebagai rahmatan lil ‘alamiin.
Oleh karenanya beliau mengungkapkan kepada para orang tua murid Kebon Maen, bahwa pendidikan spiritual merupakan hal dasar yang akan dibenahi oleh para guru bagi seluruh anak didiknya di Kebon Maen.
Sudah ada 2 kasus anak berkebutuhan khusus, yaitu Attention Deficit Disorder (ADD), yang ditangani bu Erry langsung dengan metoda ini. Pada awalnya, kedua anak tersebut ditangani dengan metoda terapi psikologi yang sudah umum. Namun selama 6,5 bulan dijalani, tidak ada progres perbaikan yang signifikan.
Metoda terapi kemudian diubah menjadi menghafal surat Al-Qur’an. Setelah satu bulan dipantau dengan intensif, terlihat anak-anak tersebut mengalami penstabilan emosi. Mereka menjadi lebih tenang, dan lebih bisa diajak berkomunikasi dari sebelumnya. Ketika mereka sudah dapat diajak berkomunikasi, maka mereka dapat belajar bersosialisasi dengan lebih baik. Setelah beberapa lama, masalah ADD tersebut sudah tidak terlihat lagi. Subhanallah.
Dengan demikian, para orang tua tidak perlu kaget atau khawatir, bila pada semester awal sekolah, yang diutamakan adalah bacaan Al-Quran anak-anak. Semester berikutnya baru fokus pada pelajaran sesuai kurikulum KTSP. Karena beliau percaya, dengan Al-Quran di dalam dada, Allah akan memudahkan urusan-urusan hambanya di dunia, termasuk urusan menghadapi ujian UN maupun UNPK. Terbukti, anak-anak Kebon Maen baik dari SD maupun SMP seluruhnya mampu lulus menembus sekolah-sekolah unggulan. Beberapa terpantau menjadi sosok leader di sekolah-sekolah baru mereka.
Ini karena anak-anak Kebon Maen dididik sesuai dengan fitrahnya masing-masing, sehingga mereka merasa nyaman dengan diri sendiri, dan berkembang dengan kemampuannya. Para guru hanya berperan sebagai fasilitator perkembangan saja, di mana mereka menggali potensi si anak dengan mendorong rasa ingin tahu anak terhadap berbagai hal, lalu mengajari mereka cara bernalar dan menganalisa. Terbukti, anak-anak Kebon Maen yang aktif dan cerita, jauh dari sikap apatis dan mati inisiatif.
Lebih jauh lagi, bu Erry menganjurkan agar para orang tua mengirimkan anak-anaknya ke luar negeri yang memiliki sistem pendidikan lebih baik daripada yang diterapkan di Indonesia.
Sekolah Kebon Maen didirikan oleh ibu Erry Soekresno 10 tahun yang lalu, sebagai buah pemikiran beliau mengenai metode pendidikan anak yang tepat pada era informasi, di mana anak sangat perlu dibekali dengan kemampuan ilmu komunikasi dan ilmu bersosialisasi. Kedua ilmu tersebut merupakan bekal anak untuk survive dalam kehidupannya di masa kini dan di masa datang.
Adapun, era ketika orang tuanya dibesarkan, kira-kira sekitar tahun 1965 sd 1980-an merupakan era industri, di mana anak-anak perlu dibekali kemampuan akademis dan perilaku penurut/taking order, karena yang diperlukan saat itu adalah meningkatnya jumlah kaum pekerja pabrik dan komersial, namun bukan entrepreneur.
Saat itu bila seseorang berkeinginan untuk menjadi seorang enterepreneur, banyak sekali kendala yang dihadapinya. Menjadi entrepreneur adalah hal yang sangat sulit dan luar biasa. Namun selalu saja ada yang dapat melakukannya, dan biasanya orang-orang yang luar biasa ini ini dapat dibedakan dari lingkungan ketika ia dibesarkan.
Era sebelumnya lagi adalah era orang tua dari orang tuanya (nenek-kakek), yang besar pada zaman penjajahan. Pada saat itu, menjadi priyayi atau orang berkedudukan tinggi di masyarakat adalah cita-cita semua orang tua untuk anak-anaknya. Kedudukan tinggi digapai dengan berbagai macam cara, karena itu adalah hal yang bergengsi.
Nah, para politikus negeri ini yang mengejar kedudukan tinggi dengan berbagai cara tanpa peduli halal ataukah tidak, itulah hasil pendidikan zaman jadoel, yang akhirnya merusak tatanan masyarakat, yang seharusnya sudah dapat masuk era beradab saat ini.
Bu Erry Soekresno,Psi dengan jajaran guru-guru mudanya yang fresh, merupakan sosok-sosok langka yang punya nyali untuk mendobrak sistem pendidikan di Indonesia yang morat-marit. Demikian pula, orang-orang tua murid yang menitipkan anak-anaknya untuk dididik di Kebon Maen, mereka punya nyali untuk berbeda dengan arus lingkungan di sekitarnya.
Nyali mereka berasal dari iman di dalam dada, yang diwujudkan dalam tindakan, bahwa tuntunan Allah dan Rasulnya adalah tuntunan yang terbaik sepanjang masa, dunia dan akhirat.
Baca juga link yang ini :
Yang Ninggalin Jejak