Posted by: D on: November 13, 2009
Ini resume parsial dari talkshow di Radio Delta tadi pagi antara presenter ’gila’ favoritku Farhan dengan DJM alias dokter Joko Maryono. Mendengar radio di mobil adalah rutinitas setiap pagi dan sore sepanjang perjalanan pergi ke dan pulang dari kantor. Mereka berdua membahas penyakit yang banyak timbul akibat pemanasan global.
Parsial, karena aku dan suami suka memindahkan channel radio setiap ketemu iklan, yang walaupun lucu tapi kalo udah sering kali didengar jadi bosan juga. *Lalu salah satu dari kami pun teriak “NEEEEEEXT!!!” sebelum memindahkan channel*. Kalau ketemu berita lain yang lebih menarik, jadi kebablasan deh nggak ngikutin lagi. Terus, aku keburu sampai di kantor jadi harus turun dari mobil, padahal talkshow masih belum selesai. Ok ok, cukup dengan pembelaan X) , langsung ke topik pembahasan.
Jadi, menurut DJM, penyakit yang banyak merebak sebagai efek pemanasan global adalah penyakit yang ditularkan dari binatang. Contohnya seperti flu babi, flu burung, kaki gajah, demam berdarah, cikungunya, malaria, pes dan sebagainya. Dan mungkin ebola juga hiii…..
Cuplikan dari Washington Post mengenai artikel yang terkait berjudul ‘Climate changes drives disease to new territory’:
Global warming – with its accompanying rise of floods and droughts – is fueling the spreads of epidemics in areas that fully unprepared for the diseases. Mice, ticks, mosquitos and other carriers are surviving warmer winters and expanding their range, bringing health threats with them.
Kalau kita jadi suka batuk berkepanjangan, itu juga salah satu efek dari kelembaban udara yang tinggi pada tingkat pemanasan bumi sekarang ini. Yaitu menyuburnya jamur yang dormant di dalam paru-paru. Yang punya bronchitis jadi batuk gak sembuh-sembuh. Ini kasus yang dialami Yasmin dan Salman. Aku sih sudah menduga karena cuaca, ternyata karena pemanasan bumi…
Entah aku harus senang karena tebakanku gak meleset-meleset amat, atau harus sedih karena anak-anakku sakit.
Waktu aku memberi mereka madu murni setiap hari, batuknya menjadi jarang. Tapi ketika madunya sudah habis, mulai lagi deh kedengeran setiap lewat tengah malam dan pagi, saatnya organ paru-paru mendetoksifikasi dirinya sendiri. Jadi tak ada pilihan lain selain melanjutkan memberi mereka madu, obat segala penyakit, makanan berkualitas no 1 menurut Al-Qur’an.
Penyakit lain yang disebabkan cuaca hangat juga bisa ditebak. Dan psst… buat perempuan, kalo kulit jadi makin banyak berjerawat, berminyak, dan banyak flek akibat matahari, jangan heran ya.
Sementara itu dulu posting kali ini ya.. semoga bermanfaat untuk pengetahuan.
Posted by: D on: November 7, 2009
Sebelum terlalu jauh memprasangkai isi tulisan ini karena judul yang dipajang di atas, aku akan melanjutkannya dengan pertanyaan yang diajukan padaku oleh beberapa orang teman :
“Apa yang membuatmu menyekolahkan anak di sekolah alam, D?”
Apa ya… hehehe *garuk-garuk* : ini adalah respon yang tidak mungkin kalian dapat sebagai jawaban
Sebagai wanita yang tahu apa yang dimau, dan bagaimana cara mendapatkannya, jawabanku pasti lugas. Tapi kita akan berputar-putar dulu sedikit, agar tulisan ini tidak terlalu pendek lagi mendebarkan.
Baiklah, perjalanan kita perpanjang sedikit, dengan beberapa pertanyaan:
Apa yang membuat Leonardo da Vinci mampu membuat lukisan Monalisa begitu memukau? Apa yang membuat Taj Mahal dibangun begitu megah sekaligus mengharukan oleh Shah Jehan? Apa yang membuat Soekarno begitu kuat dikenang sebagai pemimpin rakyat Indonesia? Apa yang membuat gedung-gedung di Dubai berdiri mencakar langit? Apa yang membuat Edmund Hillary berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia?
Sudahkah terlihat benang merahnya? Jawabannya bisa dikutip dari Wikipedia :
Passion (from the Latin verb patior, meaning to suffer or to endure, also related to compatible) is an emotion applied to a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion compelling feeling, enthusiasm, or desire for something. The term is also often applied to a lively or eager interest in or admiration for a proposal, cause, or activity or love.
Sebentar. Kita belum sampai di sana.
Alasan setiap orang tua menyekolahkan anaknya, tentunya untuk memberikan bekal ilmu bagi anak-anaknya. Ilmu, merupakan bekal yang lebih baik daripada harta. Namun, ‘memberi pendidikan’ berbeda artinya dengan ‘menyekolahkan’.
Sudah cukup, aku muak sudah dengan sistem sekolah yang menghasilkan sekolah-sekolah penghasil robot anak-anak, yang sebagiannya menjadi produk gagal. Semata karena pengajaran disamaratakan pada anak sekelas, mengabaikan bakat dan minat khusus anak. Sebagai contoh sebelum masuk kelas 1 SD, anak sudah dituntut harus sudah bisa baca, walaupun lukisannya, atau kemampuan menarinya sangat bagus untuk anak usia sebayanya. Sepanjang proses so called ‘pendidikan’ anak-anak tidak khusus diarahkan, namun dibiarkan mencari sendiri, dengan ditambah beban-beban mata pelajaran yang tidak cocok dengannya. Setelah lulus, mereka kebingungan untuk melangkah. Kebanyakan menjadi manusia yang kehilangan daya inisiatif. Dan seterusnya dan seterusnya. Orang tua pun lebih terbebani dari segi psikologis, bukan sekedar beban finansial saja. Tak heran masyarakat kita banyak yang sakit, karena daya untuk bernalar sudah dibabat habis oleh sistem pendidikan nasional!
Mereka yang terlibat di sekolah alam, adalah persona yang memiliki gairah terhadap pendidikan. Mereka berbagi passion yang sama : membentuk dan mengarahkan energi-energi murni yang sukanya berlarian, merangkak dan memanjat pohon itu, agar segera memahami potensi diri dan memahami misi keberadaan mereka, masing-masing, di dunia.
Mereka dengan berani melawan arus aturan-aturan standar sekolah umum mengenai seragam sekolah, kelas, gedung sekolah, buku pegangan, metoda pengajaran, demi sesuatu yang lebih besar : efektifitas penyampaian ilmu yang menyeluruh dari sisi spiritual, emosional maupun pengetahuan, sehingga anak didik mengetahui, mengingat hingga memahami, dan terus mengamalkannya secara konsisten dalam kehidupan mereka.
Apa ya, gunanya seragam sekolah ketika anak-anak lebih nyaman berkaus dan bersendal jepit? Apa ya, gunanya ruang kelas ber-AC ketika oksigen asli dapat mereka hirup langsung dari segarnya angin yang bermain di kerimbunan pohon? Segala hal dan gejala yang bisa langsung diamati di alam, untuk apa ya, mempelajarinya dari sumber informasi sekunder lain yang tidak menggambarkan hal dan gejala alam sejelas aslinya?
Apa untungnya berlebih-lebihan bila ujung-ujungnya malah menyusahkan? Kesederhanaan ini justru mengajarkan cara berpikir yang lebih logis, efektif, efisien, tepat guna, genius! yang kelihatannya sudah hilang rohnya dari sistem pendidikan nasional sekarang ini.
Aku simpulkan, mereka di sekolah alam melakukan setiap kegiatan dengan antusias, keberanian dan dengan cara yang terbaik!
Apakah kalian tahu penyebab bangsa ini mengalami masa kemunduran dalam tahun-tahun kemerdekaannya, padahal tidak sedikit orang-orang pintar dan berilmu berada di tengah-tengah mereka? Karena langka orang-orang berkarakter kuat yang memiliki visi, dan terlatih mempertahankan idealisme dalam perjalanan panjang mencapai visi mereka.
Aku percaya, mereka yang terlibat dalam sekolah alam (atau disebut juga sebagai sekolah komunitas, karena sekolah ini berdiri dan bertahan atas dasar guyubnya komunitas yang memiliki gairah yang sama untuk hidup selaras dengan alam), adalah orang-orang yang memiliki passion yang sama terhadap pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter kuat : amanah (dapat dipercaya, diandalkan), fathonah (cerdas/pandai), tabligh (menyampaikan ayat-ayat Allah, berani mengajak ke jalan Allah ), siddik (berbuat dan berkata benar).
Sebagian besar guru-gurunya berusia muda, berwajah segar serta bergerakan gesit, namun tak satu pun dari mereka yang tak santun ketika saling bertemu dengan manusia lain. Melihat hal ini saja, aku sudah merasa bahwa dampaknya terhadap anak didik adalah sangat kuat. Pendidikan apakah yang terbaik selain suri teladan?
Merekalah para pendidik yang akan kusapa sebagai pahlawan dan akan selalu kusebut namanya dalam do’a-doaku. Amalan mereka akan menjadi amal jariyah yang pahalanya selalu mengalir bagi mereka dan abadi sepanjang kehidupan.
Selamanya aku akan menaruh hormat pada mereka yang mengamalkan prinsip-prinsip keilmuannya dengan konsisten.
Aku hanya ingin anak-anakku hidup dalam level energi yang sama, dalam melakukan apapun yang menjadi minat mereka kala dewasa.
Semoga level energi itu akan senantiasa membuat mereka kuat dan tegar dalam upaya pendakian, serta menjaga mereka tetap on track mencapai puncak yang menjadi tujuan mereka dalam hidup.
Di ujung perjalanan mencari jati diri, mereka menemukan Tuhannya.
InsyaAllah.
Posted by: D on: November 2, 2009
Sebenarnya… sebenarnya aku sedang ingin diam. Yang lamaaa sekali.
Aku ingin hening. Hening adalah aku.
Aku sedang sedih. Sedih adalah aku.
Namun bukan sedih macam itu. Ini sedih karena seorang teman. Dan mungkin ada beberapa lagi selain dia. Bukan, bukan kamu. Aku tau kamu tidak begitu. Namun, dia, atau mereka, mungkin masih belum bisa menerima apa yang aku harus sampaikan.
Sebentuk energi yang pernah tersambung, telah membeku lalu menguap hilang dari pandangan. Kuharap setelah dia menemukan bentuk yang lain, kembali dia menemukan jalannya padaku. Karena dia membutuhkanku sebagai cermin, sebagaimana aku membutuhkan dia.
Aku sedang kehilangan.
.
Hilang adalah aku…………..
Posted by: D on: November 2, 2009
Perjalanan sudah kutempuh sejauh ini…
alhamdulillah…
tujuan yang tadinya kuharap dapat kutemukan, malah menemukanku
dan dari situ lah, aku memulai kembali
segala apa yang pernah kubuat asal, jadi bermakna
remah-remah yang tadi terserak, jadi mengenyangkan
pahit jadi manis, sendu jadi senyum , tangis: tawa ria;
dan perjalanan pulang ini, betapa menyenangkan
: ))
Posted by: D on: Oktober 5, 2009
Reaksi atas peristiwa bergoncangnya tanah yang dipijak manusia penghuni Sumatera Barat dan sekitarnya pada tanggal 30 September lalu bermacam-macam. Sedih sudah pasti, kaget bahwa alam ternyata bisa sekejam itu, pusing dan gelisah berkepanjangan menyusul kemudian. Namun aku percaya, bagi mereka yang beriman akan memiliki pegangan kuat dalam melanjutkan kehidupan. Jadi, aku tidak akan kuatir.
Seperti aku tidak kuatir lagi saat bertemu dengan kakek bongkok yang setiap pagi dalam route perjalanan ke kantor kami lihat sedang terseok memanggul dagangan sapu lidinya. Aku tidak kuatir, karena itu berarti kakek itu masih dalam jalur yang benar : tetap berusaha untuk penghidupannya melalui jalan perdagangan yang berkah. Itu lebih baik dari pada meminta-minta atau diam bergantung pada orang lain. Kala kakek itu meninggal, aku tak tahu apakah kami akan seberuntung dia karena selalu istiqomah mencari rejeki dari Allah swt.
Reaksi lain yang kuamati munculnya analisis mengenai betapa gaya hidup kita sudah banyak menjauh dari keselarasan dengan alam. Aku percaya banyak sudah yang menyadari pentingnya ‘going green’, kembali ke alam. Kembali ke kearifan nenek moyang kita masa lalu, yang banyak kita tinggalkan atas nama modernitas. Tapi, seberapa banyak sebenarnya yang sudah melakukan tindakan, bersumber dari kesadarannya itu?
Ampuni aku ya Allah, sedikit pun tidak terbersit niat bagiku untuk menyombongkan diri. Apalah yang bisa kubanggakan dihadapanMu? Aku hanya heran karena orang masih saja menganggap rumah bambu tidak akan bertahan lama. Kala bumi digoncangkan, mana rumah yang lebih bertahan lama : rumah tembok atau bilik?
Ada yang komentar : jaman nenek moyang belum ada semen. Siapa bilang: candi Borobudur dibangun tanpa semen bukan?
Kini setelah gempa besar, banyak lagi orang mencari informasi tentang rumah bambu. Aku lihat polanya musiman. Setelah peristiwa ini berlalu beberapa saat, ide rumah bambu mulai terlupakan kembali. Tidak heran:
1. masih banyak yang meragukan ketahanan bambu sebagai bahan konstruksi rumah. Juga faktor fungsinya dalam mengamankan isi rumah.
2. dan juga, masih sedikit kontraktor bambu yang bisa diandalkan, yang menghasilkan bangunan yang benar-benar berkualitas seperti yang aku dapatkan dari Yayasan Bambu Indonesia.
3. bangunan bambu masih tergolong bangunan ‘ndeso’, tidak ada orang kota yang mau memiliki rumah berdinding bilik.
Orang yang melihat pembangunan rumahku mengomentari bahwa aku dan ayah tergolong ekstrim dan ‘tidak seperti biasanya’, walaupun mungkin ada sepercik kekaguman ketika mengucapkan itu.
Yang aku tahu, kami hanya bertindak sesuai keyakinan kami.
Bagi rekan-rekan yang bermimpi memiliki rumah bambu, jangan berhenti bermimpi dan berusaha. Allah akan membantu kalian semua, seperti Dia membantu kami di dahulu.
Yang Ninggalin Jejak