Perempuan Banget!

Beberapa saat lalu aku bikin poll  iseng dalam rangka menyambut Pilpres tgl 8 Juli 2009, yang pada saat ini sudah memasuki hari tenang.  Waktu aku bikin poll ini, belum ada event pendaftaran capres.  Jadi apa yang ditanyakan agak melenceng dari kenyataan yang berkembang.  Tapi tak apalah.  Namanya juga iseng.  Pembahasannya juga iseng.  Suwer. *Ini disclaimernya.  Jadi mohon jangan pernah ada tuntutan pencemaran nama baik kepada saya*.

Untuk melihat hasilnya, klik saja hyperlink ‘view result‘ pada poll di bawah ini.  Sejauh ini, baru 24 orang yang berpartisipasi.  Mungkin selain karena pertanyaan poll yang ’nggak banget’, maka penjelasan lain adalah pengunjung yang mengisi poll sedang iseng berat juga.  Namun penjelasan yang paling masuk akal  adalah, pengunjung blog ini masih sangat sedikit hehehe..  :P   Secara gitu loh. 

Anyway, terima kasih pada seluruh responden yang telah turut meramaikan pesta demokrasi pilpres yang bebas dari pamrih dan tekanan dari pihak manapun :D     

Sebenarnya menurut tradisi, aku baru mau membahas hasil poll kalau responden sudah mencapai 30 orang, minimal.  Tapi aku khawatir tidak sempat melakukannya hingga tgl 8 menjelang nanti, secara besok dan lusa aku sedang banyak kerjaan, mau bukti? Lihat saja jerawatku tumbuh berserakan.   Ini pertanda aku sudah stress tingkat advanced.  

*Saat ini aku pingin banget bisa nampolin Jim Carrey, si Yesman.  Karena dia aku jadi sungkan menolak disposisi  kerjaan yang seharusnya bisa kuelakkan.* 

Huh.  Baiklah.  Ini dia.

Pembahasan dilakukan pada saat responden total  berjumlah 24 orang.  Dengan hasil :

Asal bukan Megawati 50% (12 votes)

 

Asal Bukan Prabowo 17% (4 votes)

 

Asal Bukan SBY 13% (3 votes)

 

Asal Bukan Hidayat Nur Wahid 8% (2 votes)

 

Asal Bukan Manusia 13% (3 votes)

 

Total Votes: 24

Hehehe…

Karena pasangan Capres No 1 adalah Mega Pro, maka yang tidak mempercayai bahwa mereka berdua akan membawa perubahan, bila digabungkan menjadi 12 + 4 = 16 votes.  O’ow… itu dua pertiga dari total responden.  Apakah ini akan menjadi kenyataan setelah hasil pilpres keluar nanti, kita lihat saja. 

Yang mengirimkan pesan mosi tidak percaya pada SBY, ada 3 orang.  Kepada Hidayat Nur Wahid, 2 orang.  Sisanya, sudah tergolong pesimis bahwa Indonesia ini bisa berubah menjadi negara yang diimpi-impikan seluruh rakyat.  Buktinya, menyampaikan pesan bahwa tak ada satu manusia pun yang bisa dipercaya lagi untuk memimpinnya.  Eh eh koq gitu sih..?   Ck ck ck….  *Keterlaluan yang udah bikin poll kayak gini.  Awas kalo ketemu orangnya.*

Hmm,… tiba pada bagian kesimpulan:  dari sekian hasil poll di atas, TIDAK ADA YANG MENOLAK PASANGAN CAPRES NO. 3 KAAAAN?  Horeeeeee :D   TERIMA KASIH TERIMA KASIH TERIMA KASIH!

*mode gila on*

Sidang Keluarga (2)

Posted by: D on: Juli 6, 2009

Pengadilan2Dalam suatu sidang, tentunya ada panel hakim, saksi dan Tergugat.  Dalam sidang keluargaku pihak Penggugat tidak diharuskan ada tersendiri, karena panel hakim bisa merangkap Penggugat.  Dan Tergugat, bisa jadi merangkap Korbannya.

Aku sendiri pernah mengalami duduk di bangku Tergugat >) 

Ketika pada suatu waktu dalam hidupku aku harus menjawab dan berargumentasi mengenai pria yang menjadi pilihan untuk menjadi calon suami.

Pengalaman itu sangat emosional, karena masalah yang dibahas menyangkut kondisi bathin.  Sebagian karena aku memang menyimpang dari prinsip keluarga, dan sebagian lagi karena aku mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem hubungan kasih sayang di antara anggota komunitas keluarga besarku :(   

Ya,  itu suatu kenyataan yang kami hadapi.   Yang menurutku tidak ada gunanya bila ditutup-tutupi dan dibiarkan.  Pilihan yang lebih baik adalah diungkapkan dan ditindaklanjuti.

Bagaimanapun, ketika seorang anggota keluarga menyimpang dari prinsip keluarga dalam membuat suatu keputusan bagi masa depannya, maka hal ini selamanya akan menjadi masalah.  Sidang keluarga merupakan salah satu proses yang rawan dalam mekanisme pertahanan dalam komunitas. 
Selepas sidang, selalu saja ada emosi-emosi negatif yang mengambang,  terutama dari sisi Tergugat.  Karena keputusan mengenai masa depan yang dipermasalahkan  merupakan keputusan pribadi yang akan dihadapi oleh si Tergugat sendiri, dan keluarga besar dianggap mencampuri urusan masa depannya sehingga semua hal yang telah direncanakan *maupun belum* buyar semua.  Tak ada yang dapat menyangkal, perubahan mendadak selalu berdampak.  Dalam hal ini, yang ada biasanya berbentuk kekecewaan.   

Menurut pengalamanku, biasanya yang duduk di kursi Tergugat adalah anggota keluarga yang sedang dalam tahap mandiri awal atau pra-mandiri, yang dalam usianya biasanya selalu optimis dalam memandang masa depan, sehingga tidak banyak memperhitungkan munculnya saat-saat sulit dalam tahapan menjalaninya.  Para tetua, sudah tertentu merupakan anggota keluarga yang sudah mengalami naik turun roda kehidupan, dan sidang keluarga merupakan mekanisme penyaluran informasi mengenai pengetahuan yang mereka dapatkan dari pengalaman.  Tergugat akan diminta dengan sangat untuk mengadopsi pengetahuan itu. 

Namun, bagi Tergugat, itu masihlah sebatas informasi, pengetahuan, teori, yang belum tentu akan terjadi padanya bila dihadapi dengan caranya sendiri.  Ketidaksepakatan inilah yang memunculkan emosi negatif selepas sidang.  

Pada kasusku dulu, aku memutuskan untuk pasrah pada perintah orang tua dan menyingkirkan semua impian dan angan-angan yang telah kurancang-rancang.    Namun ternyata, keputusan itulah yang membawa keberkahan pada kehidupanku selanjutnya.  Bagaimana mungkin aku tak yakin pada pepatah, bahwa ‘ridho Allah terletak pada ridho orang tua’.

Sekarang aku sudah masuk dalam golongan Tetua.

Namun sidang keluarga bagiku tetap merupakan upaya reaktif dan kuratif,  dan belum menunjukkan adanya kualitas dalam hubungan keluarga. 

Sebagai anak tertua dari anak tertua dari nenek yang juga anak tertua dari buyutku, aku sadar ini merupakan tanggung jawabku untuk memperbaiki sistem.  Bagaimana pun juga, yang lebih baik dari tindakan kuratif adalah tindakan preventif, sebelum luka emosi itu muncul, menganga dan meluas.

Hubungan keluarga yang berkualitas hanya bisa didapat dari aliran kasih sayang yang tak tersendat, menyampaikan prinsip yang dianut keluarga besar *yang sudah teruji mempertahankan ketenangan hidup* dengan cara yang lembut agar semua satu persepsi,  yang melakukan pertemuan semata untuk melepas rindu dan menyampaikan kabar baik, dan mendiskusikan masalah dengan mengedepankan akal sehat dan tuntunan Allah seluas-luasnya.
 
Apalagi, tantangan bagi generasi masa depan *anak-anak dari generasiku* kini merupakan sesuatu yang masih belum terlalu dikenali, dengan trendnya yang mendekati akhir dunia tentunya kami ingin keluarga dapat berkumpul kembali bersama-sama di kehidupan kekal nanti.

*Untuk sepupuku yang sedang menjadi Tergugat, kuatkan mentalmu ya Dik.  Hal ini memang terasa tidak adil bagimu, tapi percayalah tidak pernah ada niat yang buruk dari keluarga terhadapmu.  Kami mencintaimu…

This post ends here.

Sidang Keluarga

Posted by: D on: Juli 5, 2009

gambar dari patentdocsdottypepaddotcom

Setiap organisme diberi kemampuan oleh Sang Khalik untuk melindungi diri sendiri dalam rangka melangsungkan kehidupannya.  Baik itu secara individual mapun berkelompok.

Keluarga besar sebagai suatu komunitas di tingkat dasar berdasarkan hubungan darah juga perkawinan, juga memiliki mekanisme survival.   Bila ada masalah muncul yang dianggap akan berpengaruh pada seluruh keluarga, maka seperti darah putih memerangkap kuman, demikian pula para tetua keluarga turun tangan menghadapinya bersama-sama.

Dari generasi ke generasi, menurut pengalamanku, bila seorang anggota keluarga muda telah mandiri dan membentuk keluarganya sendiri, maka biasanya pertemuan tidak bisa dilakukan seintens sebelumnya.    Kegiatan silaturahim menjadi sebentuk tantangan.  Baik itu tantangan waktu di antara berbagai kesibukan pribadi atau keluarga kecil, maupun tantangan jarak bila kebetulan tinggal di lain kota.    Biasanya,  bila ada suatu keperluan mendesak *jarang karena rindu*, barulah hubungan kembali dibuka dan dijalankan. 
Ngomong-ngomong, ini hal yang kurasakan di keluarga besarku dulu *tentunya sekarang sudah mulai berubah*,  belum tentu terjadi di keluarga lain.

Karena keluarga besar memiliki anggota yang menyebar jauh hingga mencapai setengah keliling planet bumi,  kabar antar keluarga sedang apa mereka, apakah sedang dalam keadaan sehat, atau sibuk, terbilang sangat jarang.  Sebelum ada facebook, tentunya.
Namun di zaman itu, para tetua keluargaku memiliki prinsip : bila tidak ada kabar, berarti kabar baik.

Yang tidak selamanya benar :(   Bisa jadi penyebabnya adalah ada sesuatu yang ingin disembunyikan dari keluarga besar.  Bila yang terakhir ini yang terjadi, bahkan facebook pun tidak bisa membantu.

Dalam komunitas keluarga besar tentunya tidak setiap kabar dapat disebarluaskan pada seluruh anggota. 

Kadang-kadang ada yang harus masuk kotak rahasia dan tidak diungkap pada anggota yang masih belum cukup dewasa untuk bisa mengerti duduk persoalan.  Anggota yang sudah dewasa dan bisa mengerti sudah bisa digolongkan sebagai tetua. 
 
Dan untuk kasus seperti itu, para tetua *yang peduli tentu*, diajak berkumpul untuk membicarakan sikap umum keluarga terhadap masalah tersebut.  Kadang-kadang juga dihasilkan rekomendasi jalan keluar yang menjadi  hasil kesepakatan para tetua, sebagai pilar penjaga kelangsungan kehidupan *dan ketenangan* keluarga.

Dari tahun ke tahun, selalu saja ada issu yang perlu dibicarakan.  Mungkin sudah dapat diperkirakan, apa saja yang biasanya menjadi masalah dalam keluarga.  Bila tidak terkait kondisi ekonomi, biasanya juga disebabkan oleh terdeteksinya suatu hubungan seorang anggota keluarga dengan ‘orang luar’ yang tidak disetujui keluarga. 

Masalah terakhir inilah yang dalam beberapa tahun terakhir ini membuat para tetuaku beberapa kali berkumpul dan bersidang.

(karena tulisannya panjang… to be continued ya)

Freestanding Cookie

Posted by: D on: Juni 29, 2009

FCSuatu saat kau bilang,
kita butuh sebuah freestanding cooker
Freestanding  cooker, apakah itu? Aku ingat waktu itu bertanya
Itu, kompor yang berdiri sendiri tak perlu meja lagi

Aku memandangi kompor yang ada di dapur kami
sumbunya sudah menghitam, terbakar setiap hari
membuat pantat kuali gosong susah dicuci

dengan freestanding cooker semua masalahmu tak ada lagi, kau terus bicara
pantat hitam, pun asap dapur yang bikin sesak penghuni rumah ini
dengan gas yang namanya elpiji canggih nian
membuktikan kita orang yang terpuji, ya kaan?

aku baru mendengar yang namanya freestanding cooker
tapi bila kompor gas aku tahu dan aku mau
freestanding cooker adalah impian setiap ibu rumah tangga sejati, katamu
membuat kau bisa memasak ini itu kue dan ayam panggang\steak dan tumis\gorengan dan rebusan\macam-macam
baru mendengar kau bilang itu, bisa kulihat lelehan air liur di sudut bibirmu
rupanya freestanding cooker merupakan caramu untuk membujukku\memasak macam-macam untukmu\dan membuat aku menjadi kokimu
*but of course I already have a freestanding cooker, don’t you know. 

It is when I make him stand freely in front of a stove and cook just for the two of us*

:lol:

Tag:

Hehehehe….

Akhirnya sempat juga memencet-mencet tuts keyboard komputer ini, setelah upaya pengambilalihan dari tangan anak-anak nyaris gagal.  Baru sempat setelah mereka terkapar kelelahan di tempat tidur.  Heran, main kok diforsir sih. 

Sebelum ceritanya menjadi basi, aku akan memaparkan sedikit tentang Pemalang.  Kota tempat Papahku dilahirkan dan dibesarkan.

Kota ini terletak antara Tegal dan Pekalongan.  Jadi kalau menyusuri Pantura dari arah barat menuju Semarang, sudah pasti kota kecil ini terlewati dengan sukses.  Selain letaknya yang berada di tepi pantai, tidak banyak yang kuketahui tentang kota ini.  Kami sekeluarga terbilang sangat jarang mudik ke tempat mbah *sebutan bagi ibunya Papah*.  Karena dulu sewaktu Mbah masih kuat, selalu Mbah yang mengunjungi kami.  Setelah mbah mengaku sudah tidak kuat lagi, kami yang gantian mendatangi beliau.   

Kali ini kami sudah terdiri dari : Papah, Mamah, keluargaku dan keluarga ketiga adikku.   Lengkap dengan anak-anaknya.  Bagi anak-anak kami, ini adalah kali pertama mereka mengunjungi buyutnya yang di Pemalang.

Mengingat keadaan kota Pemalang seperti yang kulihat tujuh tahun lalu, aku paham mengapa Mbah selalu ingin jalan-jalan keluar kota. 

Hehe… no offense :P

Tapi ketika kami kembali minggu lalu, pencitraan kota ini sudah berubah sedikit di mataku.  Sepertinya, bukan karena kotanya yang berubah.  Tapi aku yang mulai berubah :)  

Dulu, setiap aku mengobrol dengan saudara-saudara dari pihak Papah, aku selalu mendapat kesan bahwa Pemalang adalah kota mati yang baru hidup ketika musim Lebaran tiba.  Populasinya yang berusia produktif lebih banyak merantau ke luar kota.  Seperti Papah.  Yang tersisa, bila tidak menjadi nelayan, ya berdagang atau jadi penjahit.

Namun sekarang mereka sudah punya Mall ;)

Pemalang1

Mall yang unik, dan aku sih hanya bisa menebak bahwa yang punya mall ini orang Jepang. 

Jadi ’mall’ dieja ‘Moro’.  Hehe. Gak lucu.

Jangan sedih ya, kalo melihat Moro ini hanya seluas minimart di Jakarta.  

Not bad for a start, right?   At least they dare putting on a big adboard on the street.

 

 

 

Yang paling aku suka dari kota ini : hampir seluruh rakyat Pemalang3kebanyakan memiliki alat transportasi pribadi.   Bayangkan, bahkan hampir setiap anak-anak dan remaja, sudah memiliki.    Bukan untuk gaya-gayaan,  terbukti dari utilitasnya yang sangat tinggi : ke pasar, ke sekolah, bahkan untuk nongkrong di alun-alun kota pada Malam Minggu.

Kalau orang Jakarta baru bicara Gerakan Bike To Work, Bike to Pemalang6School dan Bike to Eat,  ternyata orang Pemalang sudah mendahului.  Sejak sepeda mulai masuk negara Indonesia di tahun 60-an mungkin.

Hidup wong Pemalang!  :D

Hihihi…  tapi suasana yang sama juga kutemui di kota-kota kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian utara kok, yang kontur kotanya kebanyakan dataran,  tidak berbukit-bukit  :D 

Supaya tidak merepotkan Mbah dan keluarga di sana, kami menginap di suatu tempat di jalan Urip Sumohardjo.  Tempatnya bernama RM Segoro, rumah makan khusus seafood tapi menyediakan penginapan juga.  Kamarnya bersih, luas dan berAC.   Oh ya, aku menyebutkan AC karena kamar berAC cukup penting untuk didapat di kota yang gerah ini.    Seafoodnya juga enak :)   apalagi dimasak segera setelah baru saja dibeli dari tempat pelelangan ikan di pantai Tanjungsari.  Nyamm nyamm….

Pemalang7Tiga hari di Pemalang, hanya cukup waktu untuk mengobrol dengan Saudara-saudara yang kami kunjungi beramai-ramai, mengunjungi makam mbah laki-laki, ke Pantai Widuri (ada waterpark baru di sana, tapi tidak kami kunjungi) dan melihat suasana malam minggu di alun-alun kota, satu-satunya tempat nongkrong anak-anak muda Pemalang hingga larut malam. 

IMG_2397Pantai-pantai di sepanjang kota Pemalang rata-rata sudah mengalami abrasi. Di Tanjungsari bahkan sudah mencapai jalan aspal.  Yang membuat aku khawatir, tidak ada tanaman bakau ditanam di sana.  Tanaman ini bisa mencegah abrasi pantai maupun memecah gelombang tinggi yang datang dari laut Jawa.   Rumah penduduk hanya beberapa meter lagi sudah bisa terjilat ombak  dari pantai.

 To make long story short, akhir kata hanya cerita ini yang dapat kubagikan untuk semua dari perjalanan mudik kami ke Pemalang.

Tadinya aku mau belikan apa yang ditawarkan oleh salah satu iklan yang dipajang di dinding rumah makan tempat kami menginap.

Pemalang4

Hanya kurasa tak akan banyak yang menyambutnya :P   walaupun kualitasnya dijamin prima.

Author

Tentang

RSS All of D

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Hello Visitor!

Terima kasih telah mengunjungi blog ini

  • 49,741 kali :)

Yang Ninggalin Jejak

D di Rumah Bambu
D di Rumah Bambu
D di Rumah Bambu
D di Rumah Bambu
D di Rumah Bambu

Saya mendukung gerakan ini…

Stop Bugil