Posted by: D on: Februari 4, 2010
Here’s a situation: You and your ex both work in the same company and in the same building. Both of you already have a happy marriage. Both of you have enough chance to meet each other in work related occasions. Truth is, it’s not necessarily in the same building too : Facebook and instant messenger make it easy to keep in touch whenever both of you feel like it.
Well I’ll be honest with you. I have been in that situation.
Regardless of the state that it didn’t work for both of us in the past, I have to admit to myself that I still have a feeling for my ex(s).
It’s a good thing that I was born a Virgo, who passionate in categorizing things.
So here’s what I do as soon as I realize the attraction is mutual between me and my ex. I ask myself : Is this for real, or is this just an echo from the past? An echo will eventually fade out. I immediately classify : is this merely physical, or is this mental? Physical attraction is the easiest to get rid of. If it’s mental, it takes much more effort of self will to get yourself out of the devil dance.
I have to know, because this is important for my self development. It’s always been my passion to self analyze. I just can’t help being overanalytic.
Since I have been in several relations before I finally settle down, so this method is applicable for several persons who once shared my life.
You might be in same condition which I’m in. So, to avoid damage coming from this situation in your currently happy marriage, here’s what you got to do :
First, be honest to yourself. Observe : can you handle yourself if you decide to go with your current state of the heart, or do you tend to loose control over your actions whenever he/she’s around. If you are one of rare those who know what you want in life and know how to get it and already got it, I guess you won’t have problems.
Second, decide : go with the flow, ruin your professional image among co-workers and take a chance for potential damage in your home,
or,
just stop right there and turn. And back again whenever you already get the ability of super self control.
That’s my advice folks.
D is a mother of two who claims to comprehend life and now is enjoying the process of her own’s and her loved ones’ development. If you like her posts you probably one of the kind with her. You may send love/hate letters to this address here.
Posted by: D on: Januari 29, 2010
Hehe… bosan juga bolak-balik ke sini melihat posting yang sama dari ke hari. Ini blog siapa sih, kok isinya jarang banget diupdate? :P Apa yang punya blog tau kalo aku ini pembosan? Got to do something about it!
Banyak yang terjadi, tapi tidak semuanya bisa diceritakan. Sebagian mungkin karena jiwaku sudah bisa menyerap segala kejadian tanpa harus memantulkannya lagi ke arah lain untuk berbagi kuanta. Ya ya, rasanya itu yang terjadi.
Bila hidupmu terlalu normal, maka kamu tak berbakat lagi menjadi penulis.
*tersenyum-senyum*
Kalau ingat, betapa sibuknya aku meracau beberapa tahun belakangan di blog yang ini dan yang ini. Rupanya terapi menulis cocok untukku. Selama menulis aku menganalisis diri tentang apa yang kupikirkan mengenai apa yang kualami, bagaimana reaksiku dan seberapa jauh aku dapat menangani seluruh pengalaman.
Mungkin sekarang saatnya aku berubah menjadi kupu-kupu yang santun dalam berbicara, bersikap dan mendengar.
Kupu-kupu yang membosankan?
HA HA HA HA HA :D
Aku nggak tahu seberapa lama aku bisa bertahan. Mungkin selamanya.
Posted by: D on: Januari 11, 2010
Mengamati kasus Susno jadi inget jalan cerita film Changeling.
Di film yang berdasarkan kisah nyata di tahun 1928 itu, awalnya dikisahkan mengenai wanita bernama Christine Collins yang melaporkan anak laki-lakinya Walter yang menghilang pada suatu hari kepada kepolisian LA. Namun ketika LAPD menemukan seorang anak yang mirip sekali dengan Walter, Christine (yang diperankan dengan penuh ketabahan dalam ketidakberdayaan oleh Angelina Jolie) bersikeras menolak untuk mengakui anak itu sebagai anak kandungnya.
Pangling juga nonton akting Jolie yang lain dari film-film wanita super hero yang biasa diperaninya, yang selalu penuh aksi. Tapi bukan ini topik pembicaraan kita hehe.. terus…
Pihak LAPD, yang diwakili oleh Kapten J.J Jones di Bagian Penanganan Anak sama-sama bersikeras dengan hasil kerja mereka, bahwa anak itu memang anaknya, jadi Jolie harus terima saja begitu…? Polisi yang aneh. Bagaimanapun, seorang ibu akan selalu dapat mengenali anak kandungnya. Setelah dibawa ke sekolah pun, anak itu tetap tidak dapat membuktikan dirinya sebagai Walter Collins. Begitu pula waktu diperiksa dokter gigi anaknya. Singkat kata, bukti-bukti lengkap sudah bahwa si anak bukanlah Walter. Untuk membuat kasusnya diproses, Christine mengadu pada wartawan mengenai inkompetensi para polisi itu lengkap dengan penyerahan bukti-bukti.
Penolakan Christine dan aksinya membuat kasusnya diketahui publik membuat berang JJ Jones, karena dianggap telah mempermalukan institusi kepolisian. Dan apa tindakannya kemudian? Adalah memasukkan Christine ke RS Jiwa di bagian Psikopat! Dengan alasan bahwa dia telah mengalami kelainan jiwa karena tidak mengenali anaknya sendiri.
Fakta yang ditemukan Christine lebih mengagetkan lagi, ternyata banyak pasien di sana yang merupakan ‘titipan’ dari pihak kepolisian, yang kasusnya berpola sama dengan Christine : bermasalah dengan polisi! Alih-alih menindak polisi yang salah, mereka malah menindak korbannya! Sungguh kezaliman yang tiada tara dari para pengayom masyarakat bersenjata itu.
Selama dia bersikukuh, maka siksaan demi siksaan atas nama terapi penyembuhan terus berlangsung. Satu-satunya jalan bagi Christine untuk keluar dari sana adalah dengan menandatangani pernyataan bahwa anak yang telah ditemukan tersebut adalah anak kandungnya, dan mengakui kesalahannya kepada pihak kepolisian.
Suatu solusi bodoh yang menganggap remeh kekuatan jiwa seorang manusia.
Kasus Christine yang sudah go publik membuka jalan bagi tangan Tuhan
mengungkap semuanya, hingga Kapten JJ Jones dan atasannya Kepala LAPD saat itu James E. Davis dipecat tanpa ampun karena inkompetensi dan pembiaran atas inkompetensi.
Apakah kasus Susno akan berakhir happy ending seperti kisah nyata yang akhirnya terjadi 7 tahun kemudian di Los Angeles?
Mungkinkah kita harus menunggu hingga 7 tahun agar seluruh kebobrokan institusi kepolisian terbongkar dan mendapat tindaklanjut yang semestinya sehingga keadilan dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat?
Belum terlambat untuk memulainya. Susno sudah berada di jalur yang benar dengan memainkan people power. Namun jangan coba-coba memanfaatkan kekuatan ini untuk kepentingan pribadi semata. Mengingat masyarakat kita adalah masyarakat yang selama ini terzalimi, yang pasti doa massal mereka ke langit akan membawa dampak yang luar biasa .
Nevertheless, Go Susno.
Posted by: D on: Januari 9, 2010
Kaget bercampur geli ketika aku browsing informasi spesifik tentang jerawat di usia 35 tahun ke atas, yang jadi masalahku 3 bulan terakhir.
Tadinya sih aku sok bersabar karena mikir mungkin Allah mau kasih aku ujian bagaimana kalo dicoba dengan jerawat aktif barang 3 sd 5 buah sepanjang hari, aku tahan nggak untuk tetap bersyukur? Baelaaa… dalem amat hihihi…. Sampai hari kemarin tentu saja aku masih belom terlalu ‘freak out‘, karena berpikir masih bisa dikendalikan dengan cuci muka dan obat jerawat bebas lainnya. Cuman begitu baca beberapa status temen seangkatan di fb yang heran ama mukanya yang jadi jerawatan, aku mulai berpikir, mungkin bukan cuman aku yang mengalami masalah ini, dengan kata lain mungkinkah ini sistemik? wkkk… dikit-dikit sistemik… dikit-dikit sistemik…
Ketularan kasus century nih.
Tergerak menginvestigasi problem ini, aku coba cari info mungkinkah ada hubungannya dengan hormon dan sebagainya. Perasaan sih aku cukup bersih dan menjaga kebersihan, namanya orang kantoran kayak gimana sih…
Menurut beberapa sumber, penyebabnya adalah kacaunya pola makan dan pola hidup. Ini hubungannya pasti dengan asupan toksin ke dalam tubuh, yang pastinya membawa efek tak sedap pada kulit maupun jaringan tubuh lainnya.
Yang ini sih aku rasa aku agak mendingan di banding orang lain. Pola hidup rasanya udah cukup teratur. Hmmm…. Pola makan mungkin yang masih bisa didisiplinkan lagi
Secara aku masih penikmat bakso, mie aceh, pizza, pasta dan semua makanan enak lainnya. Walaupun untuk makanan-makanan itu udah jarang banget belinya, belom tentu sebulan sekali, kecuali untuk mie Aceh
I’m addicted to mie Aceh! Apalagi yang masaknya pake ganja
*just kidding
* Tapi mosok sih gara-gara mie aceh jadi jerawatan…. hmmm….
Melanjutkan browsing, aku dapat keterangan lagi, menurut dr Jopy Wikana, vice president director Miracle Aestehtic Clinic Surabaya yang dikutip oleh Batam Pos di sini bahwa perempuan yang mudah berjerawat dikatakan lebih androgenik. Kelenjar-kelenjar selnya lebih mengarah ke hormon laki-laki. Hihihi….
Mungkinkah…. hahahaha….. pantesan aja aku merasa nggak begitu feminin…. hihihi..
Ok stop investigasi sampe di sini
Aku udah sampe pada cara mengatasinya juga. InsyaAllah nanti aku kasih tahu kalo udah berhasil mengembalikan kulit wajah seperti semula bayi *mungkin nggak ya…
*
Posted by: D on: Januari 6, 2010
Aku termangu kalau merenungkan yang ini.
Betapa aku banyak lupa dengan cerita mengenai interaksi dengan guru-guruku masa SMP-SMA bahkan kuliah. Dibanding dengan temanku Baban, yang rupanya menyimpan diary lengkap, diari yang ditulisnya sendiri maupun yang ditulis teman-teman waktu itu. Sepanjang 6 tahun itu dia kayaknya ingat nama semua guru beserta sifat-sifat mereka, nama penjaga sekolah maupun peristiwa sepanjang masa sekolah.
Tapi aku dan Baban memang dua orang yang berbeda, OK?
Waktu masih ABG, aku pernah menganggap orang baik itu membosankan. Walaupun belum tentu orang membosankan itu orang baik.
Dan sekarang, ketika aku menjadi orang dewasa yang baik *benarkah? kayaknya masih harus ditest wkkkk* aku pun terkena anggapan itu, hehe. Jadi aku sekarang menganggap diriku ini membosankan.
Tidak tidak, tidak pakai ‘agak’ lagi. Tapi mem-bo-san-kan. Okeh?
Namanya anak muda. Energi banyak, badan masih sehat dan pembakaran kalorinya efisien. Yang pasti jadi suka sama aktivitas yang banyak, ribut dan seru. Jadinya kalau ketemu suasana tenang, aman, nyaman, hangat, damai… dan nggak bisa ngapa-ngapain… seperti berada di dalam kelas yang gurunya super tenang tapi bersuara monoton lagi monolog …. ujug-ujug aja ngantuk zzzzz..zzz.. krrr…. hihihi
Makanya aku pernah ngalamin disetrap dan dimarahi sama bu guru Sejarah SMP di depan kelas, karena ketiduran di kelasnya! Maaf aku lupa namanya, saking nggak berkesan ama beliau, maaf sekali lagi… dan aku asik-asik aja, malah cenderung bangga karena berani dihukum X-) Ketika anak perempuan yang lain mungkin udah malu muncul keesokan harinya di sekolah, aku malah merasa jadi tambah ngetop di sekolah. Huahaha… kalo inget betapa aku nggak mau tau apa kata temen-temen waktu itu!
Ya jelas aku nggak peduli karena aku sebenarnya nggak bodoh-bodoh amat di pelajaran yang lainnya. Aku cuman nggak peduli ama pelajaran sejarah. Selalu bete setiap kali harus menengok masa lalu. Mungkin karena gurunya nggak bisa memberi pencerahan betapa pentingnya mengambil pelajaran dari masa lalu, tambah lagi beliau nggak punya gaya bercerita yang seru sehingga bisa menarik perhatian.
Bagiku (dan mungkin bagi guruku juga) sejarah cuman terdiri dari tanggal dan judul peristiwa yang harus dihafal supaya bisa menjawab pertanyaan pada saat ulangan.
Apa yang terjadi pada tanggal itu, hikmahnya apa saja, mboh apa ya… kalau saja pelajaran sejarah itu lebih menarik waktu itu, mungkin ceritaku di blog pada masa kini bisa lebih berwarna.. terektek tek tek…. enter Pangeran Diponegoro membawa pedang dan mengancam jenderal bule itu dengan lantangnya… hei kamu bla bla bla bla….!
Aku ingin anak-anakku sekolah di tempat yang seru seperti itu yang membuat energi muda mereka tidak sia-sia.
Aku ingin, aku berusaha dan Allah telah menolongku membuatnya nyata.
Alhamdulillah
Yang Ninggalin Jejak