Awalnya agak kocak,  ketika seorang rekan kantor bercerita dia belum bisa pup selama beberapa hari.  Selain orangnya memang paling rame di kantor (kalo nggak ada dia, nggak ada yang dibullying), dia juga terkenal paling doyan makan nyaris seperti mesin giling.

Tapi ketika terdengar kabar rekan satu ini tidak bisa hadir seperti biasanya karena masuk rumah sakit, kami jadi sedih juga.  Karena jadi tidak ada yang dibullying nggak ada dia nggak rame.  Katanya perutnya perih kembung mual dan lidahnya pahit.  Badannya meriang bukan buatan dan flu nya nggak sembuh-sembuh.  Dia jadi lemas minta ampun seperti tak bertenaga.

Tapi ketika mendengar berita lanjutannya, bahwa setelah pengecekan di lab yang canggih di rumah sakit dengan peralatan USG,  ternyata dia terdeteksi kena penyakit ‘intoxinasi karena seminggu tidak pup’ yang parah, kami kembali terbahak-bahak sampai nyaris keluar air mata.

“Pelit amat sih si Fulan, sampe  tai aja disimpen-simpen…”

“Orang mah masuk rumah sakit kena malaria atau ketabrak, ini mah karena nggak bisa buang air… huh.”

Dst

Sampai ketika kasusnya terlupakan, tiba-tiba dia sudah hadir kembali di tengah kita.  Setelah itu barulah dia bisa bercerita.

“Gila, perut gua habis dipompa, digelontor supaya itunya bisa keluar.  Huah… PUASSSS…”  katanya.

“Pertama-tama, aku disuruh minum garam inggris 30 gram yang diseduh dengan segelas air.”

“Rasanya paittt… tapi gak pait dan kentel kayak jamu sih…  Kayak Pocari rasa Pait.”

“Dua jam kemudian, barulah terasa mulas-mulas.. Eh.. mungkin rasanya seperti mau melahirkan kali gitu ya???”

“Setelah itu, kalau kalian mau mencoba metoda cuci perut seperti gua, saran gua seharian tidak pergi ke mana-mana, berada dekat2 kamar mandi, dan,  tidak usah repot2 pake celana….”  Aku dan temanku yang perempuan menggelindingkan bola mata ke atas.  Buru-buru dia lanjutkan bahwa dia pakai sarung aja, katanya.

“Pup pertama, warnanya huiitaaaammmm…. dan baauuuuu…”

Tiba-tiba seluruh ruangan jadi langsung tercium bau aneh.  Saking hebohnya, kami semua otomatis menutup hidung. 

“Tapi lama-lama tinggal air, ditambah sisa-sisa seperti pasir.  Bener-bener seperti nguras bak.  Perut jadi kempes dan lega kembali.”

“Harga Garam Inggris 30 gram hanya Rp 4.000,-  tapi tidak boleh sering-sering.  Paling cepat 4 bulan sekali.  Bahaya kata dokternya, kalo keseringan perut bisa luka.”

“Tapi asam urat gua juga nggak pernah kambuh lagi nih… ”  Sambil menunjuk piring makanan di meja.    “Boleh dong gue abisin sajian gratis itu lagi….”

Huh dasar… tapi aku udah cobain tips cuci perutnya minggu kemarin.  Hihihihihi……. enak enak enak enak…!  Mulesnya juga nggak banget2, secara aku udah pengalaman 2 kali melahirkan.    Mungkin tergantung kompleksitas isi perutnya juga ya.. hehe… 😛

Iklan

11 pemikiran pada “Cerita Cuci Perut

  1. Dik Nining harus mulai membiasaken dengan hal2 daripada seperti ini, karena yang saya tulisken ini bukanlah sesuatu yang jorok, melainken adalah daripada proses alami fitrah manusia, atau bila ingin dipandang sebagai sistem input – output, boleh juga.

    1. Nggak tuh… paling2 sampai besoknya aja udah baikan. Tiap orang beda2 juga sih.. ada yg perutnya kuat ada yg enggak. Kalo saya termasuk yg lumayan kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s