Flash Back

Saya mengenal dinar dirham pertama kali pada tahun 2007. Pada saat itu saya diberitahu bahwa untuk menjaga nilai harta kita agar tidak terus menurun dari tahun ke tahun, sebaiknya kita menyimpannya dalam bentuk koin dinar dan dirham. Karena nilainya dari jaman Rasulullah saw hingga saat ini, tidak pernah berubah : 1 dinar untuk 1 kambing. Ini artinya, harga tidak berubah dari waktu seribuan tahun yang lalu, yang artinya, tidak dikenal yang namanya inflasi! Kalau nenek kita mungkin bisa cerita, berapa harga sepotong gorengan besar nikmat pada tahun 1945 dulu, dibandingkan dengan harganya di tahun 2013 kini.

Hal ini tentu menguntungkan secara ekonomi, karena terjaga dari penurunan kekayaan akibat inflasi. Dan itu saya lakukan dari tahun ke tahun, mengkonversi tabungan rupiah ke dinar dan mengeluarkan zakat pada saat telah mencapai angka nisab. Dicairkan pada waktu-waktu tertentu ketika membutuhkan dana cukup besar dalam bentuk rupiah. Saya belum menemukan pasar yang dapat menerima uang dinar saya untuk belanja barang. Saat itu, saya belum berusaha mencari tahu. Semata karena belum tercerahkan bahwa sistem ekonomi yang berlaku sekarang, ternyata merupakan ekonomi yang mempraktekkan riba yang seluas-luasnya.

Setelah membaca beberapa artikel di EraMuslim Digest yang bertajuk Satanic Finances. Barulah mata saya terbuka lebar mengenai riba, hukum riba, dan bagaimana riba telah mencengkeram seluruh sendi kehidupan manusia di bumi ini. Mengerikan! Rupanya, riba dan pelaku-pelakunya, memang sedang mempersiapkan kedatangan dajjal laknatullah. Sistem ekonomi berbasis riba seperti sekarang ini, menelurkan sistem pemerintahan demokrasi yang berlandaskan kapitalisme. Sama sekali tidak ada keadilan, di mana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, korupsi subur di mana-mana.

Tidak heran dunia menjadi rusak seperti sekarang ini, karena Allah telah menyatakan dalam QS.2 : 275 sebagai berikut :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Hilangnya akhlak mulia, dibangun melalui penguasaan media massa audio visual oleh para penggiat riba yang berasal dari kaum Yahudi. Mereka paham bahwa untuk mempengaruhi umat Islam agar jauh dari nilai-nilai agama, adalah dengan menawan hati mereka agar bisa tertarik pada cara-cara mereka. Bila hati sudah tertarik, maka otak dan badan akan mengikuti. Terbukti, kini kerusakan akhlak di kalangan umat muslim, terjadi karena banyak yang terhipnotis oleh hiburan yang disajikan di televisi, yang lucu, cantik, tampan, ganteng, pintar, indah melenakan, sehingga mengaburkan mana yang benar dan mana yang salah. Ini salah satu link favorit saya, yang ditulis oleh orang Amerika sendiri:

THE SATANIC ELITE: AMERICAN MIND CONTROL AND WORLD GOVERNMENT

Jadi tak usah heran bila dunia menjadi rusak seperti sekarang ini. Bila yang masuk ke dalam perut kita, yang kita pakai ke badan kita, semuanya telah tersentuh oleh riba, alias haram, maka keberkahan sangat jauh dari hidup kita.

Yang terpikir oleh saya pertama kali, adalah bagaimana nanti mempertanggungjawabkan amanah sebagai orang tua dari 3 anak di hadapan Allah SWT?   Anak-anak lah yang memicu saya berpikir jauh, lingkupnya dunia akhirat, dan menyebabkan saya selalu ingin menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Setelah mencari tahu lebih jauh, dan membaca buku-buku tulisan para praktisi dinar dirham Zaim Saidi, Muhaimin Iqbal dan saya lain mengenai riba ini, saya terus menerus berpikir untuk mencari cara agar dapat melepaskan diri dan keluarga besar dari jeratan setan ini. Gerakan untuk melepaskan diri dari riba sangat lambat dan memakan energi, karena telah mempengaruhi cara berpikir sehari-hari saya, dan selain itu memerlukan persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat dalam keuangan keluarga. Hanya tuntunan dari Allah semata yang memudahkan jalan saya untuk mewujudkan kondisi bebas hutang bank. Sangat berat untuk melepas seluruh tabungan dinar untuk menutupi hutang bank, yang menurut perhitungan rasional dapat dilunasi dengan cara potong gaji bulanan, yang menurut pihak2 dari keluarga akan terbayar lunas “secara tidak terasa”. Hanya dengan tekad yang kuat saja dan menggantungkan diri kepada Allah, setelah direstui suami, bisa melangkah ke bank dan mulai memproses pelunasan.

Di bank, saya pun bukannya tidak menemui godaan. Untuk melunasi hutang, nasabah dikenakan penalti yang cukup besar,antara 1-1,5% dari total pokok sisa hutang. Kemudian harus menunggu approval pihak bank yang cukup lama rentang waktunya, hingga 2 minggu. Beda ketika saat melakukan pengajuan permohonan, nasabah yang potensial (bergaji bulanan cukup), diberikan instant approval. Namun dengan mengucap bismillah, seluruh proses dapat dilalui dengan sabar dan selamat.

Tidak berhenti di keluarga inti, saya mengajak adik-adik urunan menutup hutang orang tua yang masih ada ke bank, sekalian mendakwahkan pelunasan hutang bank kepada keluarga besar. Masya Allah, seluruh keluarga telah meyakini bahwa tidak mungkin memiliki rumah/tanah atau kendaraan, tanpa melalui pinjaman bank! Hal ini tentu saja tidak benar. Bila bersabar dan terus berusaha sedikit tentu rumah dan kendaraan dapat dimiliki.

Setelah tabungan habis untuk melunasi hutang bank, rejeki mulai terkumpul lagi dan saya mulai dapat menyimpan untuk keperluan biaya pendidikan anak-anak, karena saya tidak percaya lagi kepada asuransi sebagai produk derivasi keuangan. Semuanya berbunyi RIBA RIBA RIBA di kepala saya setiap kali mendapat telepon dari pemasar fasilitas Kredit Tanpa Agunan yang marak ditawarkan. Memang, setelah kita menjadi sensitif dengan hadirnya pengetahuan di dalam hati kita, ada rasa panas yang tidak dapat dijelaskan bilamana terjadi interaksi yang berbau riba. Namun tentu saja, saya masih belum dapat melepaskan uang kertas rupiah, sebagai alat tukar yang masih diakui oleh seluruh rakyat Indonesia, untuk belanja sehari-hari. Secara masih sangat sedikit yang telah tercerahkan dan memutuskan untuk berhijrah. Jadi tetap menyimpan uang kartal rupiah yang cukup untuk operasional bulanan.

Second Life Cycle

One thing leads to another. Setelah tidak lagi terikat kewajiban mendapat gaji bulanan (yang harus ada untuk dipotong oleh bank sebagai cicilan), saya sudah mulai dapat merencanakan untuk berhenti sebagai karyawan perusahaan, dan lebih fokus mendidik anak-anak, tinggal di rumah sehari-hari. Berusaha menjadi perempuan yang diberkahi oleh Allah SWT.

Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).

Saya buka-buka lagi lembaran blog terdahulu.

Rupaya dua tahun lalu saya memang telah memvisualisasikan, bahwa pada usia 40 tahun, hidup saya akan berbeda. Memulai second life cycle, yang lebih menyesuaikan dengan tuntunan agama. Saya yakin, Allah memang telah menetapkannya demikian. Bismillah….

Iklan

2 pemikiran pada “Second Life Cycle : Lepas dari jeratan riba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s