Depok, 29 Januari 2013

Ibrahim.  Satu kata saja.

Kata ayahku, nama itu sudah cukup mengandung segala sifat, do’a dan harapan dari kedua orang tuaku untukku.  Bila ada orang yang menanyakan, apa nama kepanjangannya?  Ibuku, (aku memanggilnya Bubu) akan menjawabnya seperti ini : “Nama panjangnya, Iiiiiiibraaaaaaaahiiiiiiiiiiiiiim….”.   Seperti ayah, dia memang suka sekali becanda.

Aku dilahirkan tepat satu tahun setelah kedua orangtuaku pulang dari berhaji.  Kata bubu, aku memang anak yang dimintakan khusus olehnya sewaktu berthawaf.   Setiap kali melewati maqom Nabi Ibrahim a.s,  ada doa khusus yang dipanjatkan, yang berasal dari doa nabi Ibrahim kala hendak dibakar oleh rejim raja Namrud, yang bunyinya seperti ini :  “Robbi adkhilnii mudkhola sidqiin, wa akhrijni mukhroja sidqiin, waj’alii milladunka sulthonan natsiiro..“.     Artinya sebagai berikut : “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dari tempat yang baik, dan keluarkanlah aku dari tempat yang baik Imagepula, sesungguhnya Engkaulah pemberi pertolongan yang terbaik.

Bubu sangat terkesan dengan doa itu.    Pada kenyataannya, bubu sangat terkesan dengan riwayat nabi Ibrahim a.s, segala pemikirannya,  cobaan yang dialaminya, segala keputusan-keputusan yang dibuatnya, betapa dia telah membuktikan dirinya sebagai  hamba Allah yang hanif.   Ritual berhaji, yaitu Thawaf,  Sa’i melempar jamarot, keduanya tidak bisa dipisahkan dari riwayat Nabi Ibrahim a.s.

Lalu, bubu merasa, kehadiran anak ketiga sepulang ayah dan bubu berhaji, akan semakin melengkapi kebahagiaan keluarga kami.   Dan itu adalah salah satu doa yang dipanjatkan kala berthawaf, yaitu, memohon pada Allah swt  mengamanahkan seorang putera yang hafiz Al-Quran, dan mewarisi kecerdasan dan kelurusan hati nabi Ibrahim a.s.

Pada awalnya sih, saudara-saudara ayah (a.k.a uwak-uwakku) yang bilang, seharusnya ayah dan bubu punya anak lebih dari dua, karena melihat kesejahteraan mereka yang cukup untuk memelihara anak banyak.  Semoga saja bukan hanya soal kesejahteraan, namun juga kedewasaan mereka sebagai orang tua yang bertanggung jawab.  Karena, menjadi orang tua pada zaman sekarang ini kata bubu terlalu banyak tantangannya.  Dulu, setiap kali digoda untuk memberikan adik bagi Salman kakakku yang kedua, selalu beliau berkata, insyaAllah, ingin berhaji dulu, baru nambah (anak) satu lagi.  Dan sekarang, sepertinya cita-cita itu telah tercapai.

Sejauh ini di kehidupanku yang baru berusia 40 hari, ibuku mengurusku dan kakak-kakakku dengan baik.  Bukan hanya masalah fisik, tapi juga mental.  Bahu membahu dengan ayahku, keduanya suka sekali mengurus rumah dan anak-anak.  Aku tak mau mengganti keduanya dengan orang lain.

Iklan

Satu pemikiran pada “Catatan Bayi Ibrahim _1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s