Bu Erry Soekresno, semoga Allah merahmati beliau, kemarin bercerita dengan berapi-api di hadapan para peserta seminar Parenting para orang tua murid Sekolah Komunitas Kebon Maen (6/8/2011).  Betapa anak-anak sekarang sudah berada pada zaman yang berbeda dengan orang tuanya, sehingga pendidikan untuk mereka pun harus disesuaikan dengan zamannya.

Pertama-tama, beliau mengutip Ayat Q.S An-Nisa-9 :

“ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. “

Selama berpuluh tahun beliau menyelami dunia psikologi pendidikan, beliau telah mencobakan berbagai macam metoda untuk menerapi anak yang ‘normal’ maupun berkebutuhan khusus. Pada akhirnya, beliau berkesimpulan bahwa tuntunan Al-Qur’an dan  Rasulullah adalah yang terbaik.

Semua sahabat Rasulullah yang merupakan ulama-ulama besar, seperti sayyidina Ali bin Abu Thalib dan anggota Khulafaur Rasyiddin lainnya, dididik oleh Rasulullah dengan hafalan Qur’an.

Al-Quran yang telah dihafal isinya, berada di dalam hati dan dipahami dengan baik, merupakan kunci pembuka bagi kemampuan manusia yang limitless, dan memampukan mereka untuk menjalankan misi di dunia sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Oleh karenanya beliau mengungkapkan kepada para orang tua murid Kebon Maen, bahwa pendidikan spiritual merupakan hal dasar yang akan dibenahi oleh para guru bagi seluruh anak didiknya di Kebon Maen.

Sudah ada 2 kasus anak berkebutuhan khusus, yaitu Attention Deficit Disorder (ADD), yang ditangani bu Erry langsung dengan metoda ini.    Pada awalnya, kedua anak tersebut ditangani dengan metoda terapi psikologi yang sudah umum.  Namun selama 6,5 bulan dijalani, tidak ada progres perbaikan yang signifikan.

Metoda terapi kemudian diubah menjadi  menghafal surat Al-Qur’an.   Setelah satu bulan dipantau dengan intensif, terlihat anak-anak tersebut  mengalami penstabilan emosi.  Mereka menjadi lebih tenang, dan lebih bisa diajak berkomunikasi dari sebelumnya.   Ketika mereka sudah dapat diajak berkomunikasi, maka mereka dapat belajar bersosialisasi dengan lebih baik.   Setelah beberapa lama, masalah ADD  tersebut sudah tidak terlihat lagi.  Subhanallah.

Dengan demikian, para orang tua tidak perlu kaget atau khawatir, bila pada semester awal sekolah, yang diutamakan adalah bacaan Al-Quran anak-anak.    Semester berikutnya baru fokus pada pelajaran sesuai kurikulum KTSP.   Karena beliau percaya, dengan Al-Quran di dalam dada, Allah akan memudahkan urusan-urusan hambanya di dunia, termasuk urusan menghadapi ujian UN maupun UNPK.  Terbukti, anak-anak Kebon Maen baik dari SD maupun SMP  seluruhnya mampu lulus menembus sekolah-sekolah unggulan.  Beberapa terpantau menjadi sosok leader di sekolah-sekolah baru mereka.

Ini karena anak-anak Kebon Maen dididik sesuai dengan fitrahnya masing-masing, sehingga mereka merasa nyaman dengan diri sendiri, dan berkembang dengan kemampuannya.  Para guru hanya berperan sebagai fasilitator perkembangan saja, di mana mereka menggali potensi si anak dengan mendorong rasa ingin tahu anak terhadap berbagai hal, lalu mengajari mereka cara  bernalar dan menganalisa.    Terbukti, anak-anak Kebon Maen  yang aktif dan cerita,  jauh dari sikap apatis dan mati inisiatif.

Lebih jauh lagi, bu Erry menganjurkan agar para orang tua mengirimkan anak-anaknya ke luar negeri yang memiliki sistem pendidikan lebih baik daripada yang diterapkan di Indonesia.

Sekolah Kebon Maen didirikan oleh ibu Erry Soekresno 10 tahun yang lalu, sebagai buah pemikiran beliau mengenai metode pendidikan anak yang tepat pada era informasi, di mana anak sangat perlu dibekali dengan kemampuan ilmu komunikasi dan ilmu bersosialisasi.  Kedua ilmu tersebut merupakan bekal anak untuk survive dalam kehidupannya di masa kini dan di masa datang.

Adapun, era ketika orang tuanya dibesarkan, kira-kira sekitar tahun 1965 sd 1980-an merupakan era industri, di mana anak-anak perlu dibekali kemampuan akademis dan perilaku penurut/taking order, karena yang diperlukan saat itu adalah meningkatnya jumlah kaum pekerja pabrik dan komersial, namun bukan entrepreneur.

Saat itu bila seseorang berkeinginan untuk menjadi seorang enterepreneur, banyak sekali kendala yang dihadapinya.  Menjadi entrepreneur adalah hal yang sangat sulit dan luar biasa.  Namun selalu saja ada yang dapat melakukannya, dan biasanya orang-orang yang luar biasa ini ini dapat dibedakan dari lingkungan ketika ia dibesarkan.

Era sebelumnya lagi adalah era orang tua dari orang tuanya (nenek-kakek), yang besar pada zaman penjajahan.  Pada saat itu, menjadi priyayi atau orang berkedudukan tinggi di masyarakat adalah cita-cita semua orang tua untuk anak-anaknya.  Kedudukan tinggi digapai dengan berbagai macam cara, karena itu adalah hal yang bergengsi.

Nah, para politikus negeri ini yang mengejar kedudukan tinggi dengan berbagai cara tanpa peduli halal ataukah tidak, itulah hasil pendidikan zaman jadoel, yang akhirnya merusak tatanan masyarakat,  yang seharusnya sudah dapat masuk era beradab saat ini.

Bu Erry Soekresno,Psi dengan jajaran guru-guru mudanya yang fresh, merupakan sosok-sosok langka yang punya nyali untuk mendobrak sistem pendidikan di Indonesia yang morat-marit.   Demikian pula, orang-orang tua murid yang menitipkan anak-anaknya untuk dididik di Kebon Maen, mereka punya nyali untuk berbeda dengan arus lingkungan di sekitarnya.

Nyali mereka berasal dari iman di dalam dada, yang diwujudkan dalam tindakan,  bahwa tuntunan Allah dan Rasulnya adalah tuntunan yang terbaik sepanjang masa, dunia dan akhirat.

Baca juga link yang ini :

Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral (Holistik)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s