Aku pernah ngobrol dengan seorang teman, bahwa mengalami near death experience adalah suatu anugerah yang tak berbanding lagi dalam hidupku.  Flash back, di hari pertama Ramadhan tahun 2008 aku dan suami ditabrak motor, aku gegar otak dan pendarahan di kepala, suami setengah ruas tulang jari tangannya remuk sehingga tak dapat diselamatkan.  Yang nabraknya aku tidak tahu keadaannya, kabarnya tewas di tempat.

Kini, kala aku terbangun di pagi hari dengan rasa ngilu di kepala, atau mendadak terasa tempatku berpijak seperti sedang gempa, aku tahu bahwa Allah sedang menyayangi aku.   Karena bila sudah begitu, aku langsung sadar mengenai apa saja yang harus kulakukan hari itu dan seterusnya.  Ku tahu yang ku mau.   Masuk surga dong.  Amin.

Tak heran Rosul saw pernah mengabarkan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat kematian.   Karena, orang yang sadar bahwa waktunya terbatas untuk melakukan apa saja yang perlu dilakukan di dunia, supaya bisa memiliki kunci untuk membuka pintu rumahnya nanti di keabadian,  aku yakin benar, pasti, pasti, orang itu akan berusaha memanfaatkan waktunya secara terarah.

Ia akan memberi prioritas pada beberapa hal yang paling penting dari sekian banyak hal yang harus dilakukannya pada hari itu, saat itu.    Ia akan mengevaluasi apa saja yang telah dilakukannya pada hari itu, dan merencanakan apa yang bisa dia lakukan untuk membuatnya menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Dan orang yang paham makna Al-Fatihah, selain sebagai surat pembuka dalam Al-Qur’an, ia juga menjadi pembuka bagi segalanya yang bisa terpikirkan oleh manusia, you name it.   Bila kau termasuk orang yang suka merenungkan hal ini, insyaAllah,  Allah akan memberikan pemahaman padamu sedikit demi sedikit.

Salah satunya adalah renungan mengenai Shirootol Mustaqiem.   Waktu kecil aku hanya bisa membayangkan bahwa Shirootol Mustaqiem ini adalah sebuah jalan, secara fisik, sebagai titian rambut di belah tujuh.   Lalu menjelang dewasa, aku mengenalnya sebagai jalan hidup yang sesuai tuntunan Allah,  Al-Qur’an yang dijelaskan oleh Hadist.   Namun sekarang aku sudah bisa memahami lebih jauh, bahwa apapun yang kita lakukan, niatkan itu untuk mendapatkan Ridho Allah, dan dalam melakukannya tentu kita perlu mempelajari tuntunannya lebih dahulu.

I wonder,  apakah pemahamanku yang terakhir ini yang disebut sebagai ‘ikhlas’?

Baiklah, cerita di atas adalah pembukaan bagi cerita-ceritaku berikutnya.

Iklan

2 pemikiran pada “Kutahu yang Kumau

  1. Ketika bercermin dan kulihat beberapa lembar rambutku berwarna putih, aku jadi ingat core serat optik. Kini satu core serat optik yang dulu ku jaga sudah bisa dilewati 40 Gegabytes data per second, dulu baru 10 Gegabytes data per second.

    Lha, kalau masih dibelah tujuh, apa gak bersesak-desakkan toh cahaya yang melewatinya??? hanya yang berada ditengah ( ummatan wasatan ) dan bergerak lurus (mustaqim) yang akan selamat sampai tujuan. Yang lain akan membias dan terpental keluar.

    1. Begitu pula dengan tulang belakang kita, sebuah perlambang yang sempurna dari shirotol mustaqim. Ketika dislokasi sedikit, maka syaraf2 yang menuju seluruh badan kita bisa terganggu, dan kita jadi sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s