Salman ngadat pagi ini.  Pemicunya sepele.  Yasmin, kakak perempuannya, mendahului masuk kamar mandi untuk mandi pagi.  Padahal Salman paling tidak suka didului untuk hal apapun.  Dia anak yang sangat kompetitif, selalu ingin nomor satu.  Ironisnya,  dia adalah anak nomor dua  😀

Ngadat sengadat-ngadatnya, sampai kakaknya dilarang masuk ke kamar di mana lemari baju mereka berdua berada, padahal  selesai mandi Yasmin perlu segera mengambil pakaian.  Bruakk! Pintu ditutup dengan keras, Salman berjaga di dalam sambil meneruskan tangisannya yang kencang.

Untung saja ibunya diizinkan masuk.

Maka aku pun bisa perperan menenangkan hatinya yang gundah.  Hehe, ibunya memang satu-satunya orang yang memahami dirinya,dan memiliki kunci khusus ke hatinya.  Entah bagaimana bila aku tak sedang berada bersamanya ketika ia tengah ngadat.  Kalau ditangani dengan cara ayahnya yang sesama laki-laki, maka rumah berpotensi hancur berkeping-keping.

Padahal caranya hanya tarik ulur.  Bila dia sedang keras, berarti dia sedang ingin dipahami.  Jangan ditantang atau dipersalahkan dulu.  Turuti dulu kemauannya, akui dulu kesalahan kita walau samar, sabar dulu, diam dulu.   Setelah dia melemah, baru sambar apa yang menjadi keinginan kita.  Memang persis seperti memancing ikan.

Pada kasus Yasmin, dia perlu segera  mengambil pakaiannya.  Jadi kusuruh dia berdiam dulu di depan pintu,  jangan mengetok-ngetoknya,  karena itu akan membuat Salman tambah gusar.  Untung Yasmin bukannya anak yang tidak dapat diajak bekerja sama dalam situasi seperti ini.

Setelah Salman beres dan tenang, kubujuk dia keluar.  Minta digendong,  kuturuti saja.  Mumpung aku masih kuat, dan mumpung dia masih mau digendong.   Menjelang umur 6 tahun, aku takut bila aku sudah tak boleh lagi memeluknya sering-sering seperti kebanyakan anak  laki-laki menjelang dewasa.  Dan bila sudah kuangkat,  selalu kuusahakan berhenti sebentar di depan cermin besar untuk melihat bayangan kami berdua.

Aku sungguh berharap dia mengingat momen-momen seperti ini kala ia sudah mandiri nanti.

Sesaat setelah episode ini berlalu,  Salman dan Yasmin bercanda kembali seperti biasanya.  Dasar anak-anak 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Ketika Salman Ngadat

  1. hihi kalo sekarang masih ada kemungkinan mau dan ga mau, fifty-fifty. Ngemut jempolnya masih. Makanya blom dimasukin kls 1 SD walaupun udah bisa baca tulis dan tambah2an 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s