Lebaran 1431 H tahun ini kita giliran ber-Iedul Fitri di Cikampak Bogor, rumah mamah.    Anak-anak dapat uang tali kasih dari paman bibi nenek dan eyangnya.  Jumlahnya kalo dihitung-hitung lumayan, sepertinya tarif angpaw mengalami inflasi juga hahaha.

Yasmin menaruh seluruh uangnya di dompet kelinci pemberian eyangnya.  Sepertinya dia punya rencana sendiri bagi uang-uang itu.  Secara aku melihat dia dan sepupu-sepupunya bolak-balik ke warung beli susu milo sachetan.    Salman memilih menitipkan semuanya pada ibunya (aka. aku) karena dia sadar diri masih suka menaruhnya sembarangan di mana-mana.  Pilihan bijak untuk seorang anak kecil 🙂   

Ada juga candaan dari para provokator dadakan :  nanti uangnya diambil bubu lho..  ayah pun langsung membela oooh…nggak bakalan…  uang bubu kan lebih banyak dari uang anak-anak.. kekeke… amin amin amin 😀

Sebelum  berangkat sholat Ied,  Salman sempat bilang padaku kalau uangnya akan disumbangkan pada nenek-nenek.  Hihihi… Anak 4 tahun yang bilang begitu,  he got to be kidding begitu pikirku.  Uang Salman sudah kurencanakan akan dimasukkan ke buku tabungannya di sekolah atau di TPA.

Anak-anak ikut sholat Ied.    Terkesima aku, ketika melihat Salman, yang nyamperin aku seusai sholat, memasukkan seluruh uang  yang diterimanya pagi itu ke kencleng mesjid yang diedarkan dari baris depan ke belakang.  Dia menepati janjinya untuk menyumbangkannya kepada nenek-nenek.  Subhanallah… anakku 🙂

Yasmin masih bolak-balik ke warung kali ini jajannya mie instant goreng!   Kakakaka…  dasar anak kecil.  Di dalam banyak makanan enak tapi dia rindu mie goreng, secara aku memang jarang banget bikinin kalo di rumah.  Dan karena aku selalu bilang, dia boleh beli semua yang dia mau asal pake uang sendiri, Yasmin pun melakukannya!  Ck ck ck ck… 🙂

Anak-anak memang makhluk luar biasa.

Hari-hari berlalu.    Yasmin sepertinya masih menyimpan uangnya yang masih sisa banyak.  Di rumah eyangnya, dia bisa jajan karena dekat sekali dengan warung.   Tapi di rumah, warung jauh  🙂  Maklum milih posisi rumah juga pake strategi dengan sedikit keberuntungan hehe.

Tapi kemarin malam sesampainya di rumah aku dibuat terperangah lagi. Teh Ida sebelum pamit pulang menyelipkan uang 10 ribuan yang sudah digulung-gulung dua lembar ke tanganku.   Apa-apan nih.

“Itu bu, tadi sore Yasmin ngasih uang ke saya, katanya buat saya.   Saya nggak enak ah nerima uang dari anak kecil!”  katanya sambil meletot-letotkan matanya ke arah Yasmin yang sedang berada di ruangan lain.  

“Eh nggak apa-apa teh Ida, anggap aja rejeki, kalo dikasih sih berarti anaknya ikhlas,” tukasku sambil menyorongkan uang itu lagi ke tangannya.

“Nggak mau ah bu ah!”  tolaknya lagi.  Hebat.  Bangga aku punya pengasuh anak-anak yang berprinsip.  Allah memang mengirim orang terbaik pada kami untuk mengasuh anak-anak 😀 alhamdulillah.

Minggu terakhir ini kami sibuk dengan proyek rencana memeliharan kelinci di halaman rumah.  Ayah sudah mendisain kandang dan  sudah memesannya ke tukang kayu, tinggal diambil Sabtu besok.   Kelincinya akan kami pilih hari Minggunya, di Pasar Kaget di Cibinong. 

Sampe sekarang masih belum habis ketersimaanku pada anak-anak kalo ingat apa yang mereka lakukan pada uang-uang angpaw itu.  Aku lihat uang Yasmin masih tebal di dompetnya, tanda ia tak menghabiskannya untuk jajan.   Tapi semalam aku dibuat geleng-geleng lagi ketika Yasmin menyorongkan uangnya 20ribuan padaku. 

“Bu, ini uang untuk beli kelinci yang bagus ya nanti…”

Subhanallah.

Iklan

6 pemikiran pada “Angpaw Yasmin

  1. Dalam banyak hal, kita masih perlu belajar pada anak2….
    Termasuk saya juga… 😀

    Banyak pak Mars, banyak sekali… yang saya lihat saja sudah banyak hal : semangat mereka untuk mengetahui hal-hal baru, metoda penelitian mereka yang komprehensif melalui panca indera, memasukkan pengetahuan baru langsung ke alam bawah sadar, dan terutama yang membuat saya kagum adalah makan secukupnya lambung saja! Bila sakit, mereka berpuasa secara tak sengaja, dan itu membuat mereka jauh lebih cepat sehat.

  2. sharing yang sangat menarik, beneran. emang kita terlalu sering terperangkap oleh pikiran buruk yg kita ciptakan sendiri, sedang anak2 lebih memilih bebas dari praduga, sungguh beruntung dikau D memiliki yasmin dan salman. bilang salam dari om davik ya.. 🙂

    1. Iya Bang, saya lebih banyak belajar hal-hal mendasar tentang fitrah manusia dari anak-anak. Mereka sungguh murni dan bersih 🙂 InsyaAllah, Fatiha (Yasmin) adalah kunci pembuka ilmu dan rizki bagi orang tuanya dan Ahady (Salman) sebagai pembuka jalan hidayah, amin amin amin.

  3. kisah yang dilandaskan kepolosan dan ketulusan memberi..
    di hari yang suci ini…banyak perenungan tentang bagaimana diri ini harus bisa menjadi baik dan lebih baik…

    thanks atas share nyaaa 🙂

    Terima kasih elmoudy 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s