Sebagai manusia yang lebih berkembang dibanding tahun lalu, Ramadhan tahun ini aku tak puas hanya sampai di merenungkan kehidupanku saja.  Aku merasa sudah waktunya untuk membuat tindakan nyata, yang terarah.  Mungkin waktu yang kumiliki tak kan banyak lagi.  Setidaknya, sudah berkurang setahun dari Ramadhan tahun lalu.

Usiaku menurut tanggalan masehi tahun ini mencapai 36 tahun.  Bila hidup baru dimulai pada usia 40,  maka aku hanya punya waktu sekitar 4 tahun lagi untuk mempersiapkan penyambutannya.  Bila tidak dimulai dari sekarang, tak kan terlalu luang lagi waktuku.    Padahal aku ingin, supaya ketika saatnya tiba, aku tinggal merayakan hadirnya, menikmatinya, mengembangkannya untuk kemaslahatan lingkunganku.   Karena aku telah mendapat bekal cukup untuk menghadapinya.

Untuk mencapai itu, pertama kali aku perlu mempunyai visi pribadi.  Kehidupan apa yang ingin kujalani pada usia 40 nanti? 

Saat ini, kami sudah punya rumah sendiri, yang cukup besarnya untuk ditempati berempat, alhamdulillah.  Bahkan masih ada satu lagi sebagai investasi.  Kendaraan, juga sudah ada, yang walaupun kecil namun cukup untuk keluarga kami.  Anak-anak juga sudah dipersiapkan tabungan pendidikannya.   Tabungan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 juga sudah dipersiapkan, tinggal menunggu panggilan-Nya.   Kami juga bisa bersedekah.  Semua itu memang diraih dari gabungan penghasilan aku dan ayah selama ini. 

Pada kondisi sekarang,  kebutuhan-kebutuhan dasar telah terpenuhi,  dengan penghasilan ayah saja pun sekarang kami sudah bisa tercukupi.  Dengan gaya hidup yang tidak berlebih-lebihan tentunya.

Di usiaku yang ke-40 nanti, Yasmin baru berusia 11 tahun, Salman 9 tahun.  Ayah 45 tahun.   Mereka masih akan banyak sekali membutuhkan kehadiranku di sekitar mereka, secara fisik maupun spirit.

You tell me.  Manakah aspek dari hidupku yang harus kurubah dari sekarang, agar kehidupanku di usia 40 nanti dapat kujalani dengan tenang dengan kenikmatan penuh?

Apakah aku masih tetap sebagai karyawan di perusahaan tempatku bekerja saat ini?  Pergi subuh pulang  malam?  Sejujurnya, dengan trend tuntutan bisnis yang semakin meningkat, aku makin tidak yakin dengan kondisinya.  Mungkin jabatanku akan meningkat, tapi demikian pula dengan waktu kerjaku.  Jabatan manager di perusahaanku mensyaratkan dedikasi 24 jam/7 hari seminggu. Aku akan perlu membuat pondokan di kantor.   Mungkin karirku akan melesat.  Aku akan bepergian ke mana-mana.  Mungkin aku akan mengalami sholat subuh di rumah, sarapan di Jakarta, makan siang di Singapura, konvensi di Hongkong, mandi sore dan tidur di Jepang.

Hmmm.   Kehidupan, yang kata orang, adalah kehidupan orang sukses.

Hmmmm.

Lalu, bila aku masih menekuni karirku di perusahaan, bagaimana dengan sisi kehidupan rumah tanggaku, pendidikan anak-anakku, keluarga besarku, tetangga di lingkunganku?  Aspek manakah dari hidupku yang lebih penting, di bandingkan dengan karir di perusahaan?

Peningkatan karir sering dikaitkan dengan peningkatan take home pay. Jadi, aku perlu menghitung-hitung seberapa besar kontribusi take home pay-ku bagi peningkatan kualitas hidup keluargaku.   Menghitung lagi seberapa besar manfaat daripada mudharatnya.  Bila tidak ada peningkatan, malah bila terjadi penurunan atau lebih banyak mudharatnya, maka sudah saatnya aku melakukan Radical Change.  Dengan cara berhenti sebagai karyawan dan memulai usaha sendiri.

Meloncat lagi ke masa depan:  manakah yang pertanggungjawabannya berbobot lebih berat di hari penghisaban nanti, antara :

  1. tuntutan anak buahku bahwa aku terlalu banyak menyuruh mereka bekerja untuk mencapai target sehingga kadang terlewat waktu sholat, serta tuntutan  anakku bahwa aku kurang memberikan waktu bersama mereka, mengalirkan kasih sayang Allah pada mereka, sehingga mereka terjerumus ke dalam pemberontakan dan tergoda melakukan hal-hal yang dilarang Allah?  Ketambahan lagi tuntutan suami bahwa istrinya jarang ada pada saat dia membutuhkannya?
  2. Ataukah tuntutan orang tuaku bahwa aku telah disekolahkan hingga ke jenjang S1, namun memutuskan di usia 40 tahun untuk berhenti sebagai karyawan di perusahaan yang dibanggakan dan merubah karir menjadi pedagang di pasar?

Mungkin bagi kebanyakan orang, Radical Change terasa sangat menyakitkan. 

Demikian pula radical change yang sedang aku rencanakan, mungkin terlalu mengagetkan orang-orang di sekitarku. 

Mereka telah terbiasa bangga dengan status dan gajiku sebagai ’karyawan BUMN’, tanpa sedikitpun merasakan realita sebagai pesuruh atasan yang kadang dalam prosesnya bertentangan dengan hati nurani.   Bukan berarti selama ini aku tidak bersyukur memiliki pekerjaan yang baik.  Bahkan aku telah mendapatkan banyak sekali dari perusahaanku, dari beasiswa kuliah, tambahan wawasan dan keterampilan hingga seluruh harta benda yang kumiliki sekarang berasal dari penghasilanku sebagai karyawan.  Namun aku harus sudah mulai memikirkan masa depanku sendiri, dunia dan akhirat.

Jadi yang akan kulakukan adalah, merintis perubahan itu sedikit demi sedikit.  Hingga tiba saat Allah memberi isyarat bagiku melalui berbagai kejadian, sehingga tidak ada alasan lagi bagiku untuk menunda-nundanya, dan bagi keluarga besarku untuk menghalang-halanginya.

Iklan

Satu pemikiran pada “There is no Such Thing as Radical Change

  1. Subhanallah…. salut dengan keputusan mbak. hidup yang sebenarnya ada di masa depan. Masa depan kita yang sebenarnya adalah akhirat. Saya dukung mbak, perubahan di awal memang sulit, tapi jika semua sesuai dengan jalur Allah, insyaAllah kita akan dikuatkan Nya.
    Oya, perkenalkan, saya ana , ibu 3 orang anak , tinggal di kota Batu – Jawa Timur. Saya suka dengan tulisan2 mbak. Saya ingin menjalin persahabatan dengan anda 🙂

    Salam kenal Ana 🙂 Wah, dengan 3 orang anak, pasti lebih banyak yang bisa diceritakan dibanding saya 🙂 Tulisan mana yang paling Ana suka di sini? 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s