Baiklah.  Dalam waktu 4 tahun lagi usiaku sudah 40, menjelang setengah abad.  Yang jelas, tidak muda lagi.  Walaupun begitu aku bertekad agar tetap bisa memiliki badan yang kuat, tidak sakit-sakitan. 

Aku juga tidak ingin terus menerus bekerja di bawah kendali orang lain.  Secara aku telah mempelajari hidup cukup lama dan merasa telah mengetahui cara dan memiliki keberanian untuk membentuk kehidupan yang kuinginkan.  Yup, keberanian, dan juga stamina.

 Untuk meraih semua itu, aku telah berhenti sebagai karyawan.  Aku memiliki usaha sendiri berupa toko di pasar yang menjual berbagai alat keperluan anak sekolah, perkantoran dan sanggar-sanggar seni.  Usahaku cukup lancar, dalam arti perputaran barang tidak terlalu lama.  Ini karena semua barang yang kujual memiliki kualitas yang baik sehingga banyak orang merekomendasikan tokoku.  Usahaku telah berbentuk PD atau CV, yang legal dan memiliki NPWP.   Dengan demikian tokoku aman dari pemalak-pemalak berseragam.  Terutama karena aku juga selalu berusaha ramah, santun dan pengertian dengan mereka, para abdi negara yang hanya mendapat sedikit dari negara untuk seluruh pengabdian mereka menertibkan pasar.

Semenjak kami sekeluarga mengikuti perguruan silat, aku memiliki cukup anggota untuk mengamankan usahaku bila ada orang-orang yang berniat buruk.

Tokoku bersih, rapi, memiliki prosedur baku dalam pemesanan barang, sistem inventaris, penyajian barang, menerapkan sistem akuntansi, memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan kerja, dan memiliki barang jualan bervariasi. 

Para pekerjaku orang-orang yang ramah dan dapat dipercaya.  Mereka adalah orang-orang yang telah berada di bawah lindungan keluargaku selama ini, dan telah mempercayakan kehidupan keluarga mereka kepada keluarga kami.  Mereka percaya bahwa aku dan keluargaku akan memperhatikan kesejahteraan mereka.  Padahal, resepku hanya satu :  menggantungkan segala sesuatunya hanya kepada Allah.  Dan suatu saat, mereka akan mengerti hal ini untuk diterapkan di kehidupan keluarga besar mereka sendiri.

Dan setiap pagi sebelum membuka toko, para pekerjaku sudah terbiasa melaksanakan sholat dhuha.

Setiap pagi, kegiatan rutinku adalah menyiapkan sarapan untuk keluarga, melepas ayah berangkat ke kantor dan anak-anak ke sekolah mereka di Kebon Maen.  Lalu membersihkan rumah dan mengurus cucian.  Setelah itu aku sholat dhuha dan bersiap ke pasar memeriksa toko yang telah dibuka semenjak jam 6 pagi,  dan melakukan apa yang harus dilakukan.  Mungkin aku harus bertemu beberapa mitra toko dan memikirkan pengembangan-pengembangannya sejalan dengan peluang yang datang.  Lalu aku belajar untuk ujian, karena aku telah terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Terbuka program Pasca Sarjana.   

Siang hari, aku menyambut anak-anakku yang telah pulang sekolah di toko.  Kami makan siang bersama bila mereka masih lapar dan ikut membantu di toko, melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai anak-anak. 

Dengan mendidik mereka sebagai pengusaha sedari kecil, aku berharap dapat mengasah naluri berbisnis mereka agar menjadi suatu yang natural dalam kehidupan mereka, mencegah mereka hanya menjadi pribadi yang konsumtif tanpa mengetahui perputaran peristiwa ekonomi.

Ba’da Ashar mereka berpencar untuk mengikuti kegiatan yang merupakan minat mereka semisal mengaji, les musik, teater atau berlatih silat.

Maghrib aku pulang ke rumah setelah menutup toko jam 6, bersiap menyambut kedatangan ayah dari kantor bila tidak sedang kerja lembur.  Lalu malam kami akan bercengkerama menceritakan pengalaman kami masing-masing hari itu di meja makan.  Mungkin tidak sambil menikmati makan malam yang berat, namun menikmati sajian ringan yang sempat kusiapkan sebelum tidur.

Dan ketika anak-anak mencapai usia lulus SMP, aku mengirim mereka ke Pondok Modern Gontor.  Yasmin terlebih dahulu ke pondok khusus putri di Mantingan.  Salman menyusul ke Ponorogo dua tahun kemudian.  Setiap kali liburan mereka menghabiskannya di rumah, namun selalu bersemangat untuk kembali ke pondok meneruskan studi mereka tentang ilmu dunia dan akhirat.    

Selepas pendidikan di Gontor, anak-anak  kupersilakan meneruskan ke mana pun mereka akan belajar.  Ke ujung dunia sekali pun.  Aku akan percaya, bahwa selepas Gontor, setiap langkah mereka akan merupakan perjuangan di jalan Allah, sekali pun kami tidak dapat mengawasi mereka secara langsung.  Yasmin akan mendapatkan jodoh suami yang sholeh.  Salman menyusul kemudian.  Kami akan mendapatkan cucu-cucu yang sholeh dan sholihah, yang akan meneruskan kehidupan yang lebih baik dari generasi kami nenek-kakek dan orang tuanya.

… 

InsyaAllah.

Iklan

2 pemikiran pada “Visi itu

  1. 4-10 tahun yang akan datang, saya prediksi toko online menjadi semakin populer, jualan produk dan transaksinya ada dalam dunia maya, realisasinya tetap dalam dunia nyata. yang sangat penting mendapat perhatian : produk yang bervariasi dan berkualitas, harga yang kompetitif, ketepatan pengiriman barang, komunikasi dengan pelanggan ready 24 jam, Fleksibelitas cara bertransaksi.

    Efektifnya, semua usaha itu bisa dilakukan dari rumah. mungkin http://www.tangandiatas.com bisa menjadi sumber inspirasi.

    wah iya lupa belum dimasukkan mengenai pengembangan toko itu juga termasuk delivery service kepada pelanggan, termasuk yang memesan via online mas 🙂 terima kasih mengingatkan. hehe makin mantap deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s