Di tahun 2002 sewaktu mengikuti pelatihan Pengembangan Pribadi yang Berkualitas dengan salah satu mentornya adalah pak Anis Matta,  sekarang Sekjen PKS, aku dan teman seangkatanku pernah diminta untuk menggambar visi kami 5 tahun yang akan datang, di atas sebuah kertas karton berukuran A2.   Pertama, kami diminta memvisualisasikan cita-cita kami dalam benak, apa saja yang kami inginkan untuk dicapai dalam jangka waktu tersebut.  Lalu kami menuangkan gambar dari benak ke atas kertas karton itu.

Saat itu aku hanya menggambarkan keluarga kecil dengan anak sepasang.   Maklum, waktu itu aku adalah salah satu di antara 3 orang di kelasku yang masih lajang.  Selain dari kami bertiga, semua sudah menikah dan sebagian besar sudah berbuntut.  Waktu itu teman sekelasku ada sekitar 20 orang.   

Visi yang sederhana, dibanding dengan gambar teman-teman lain yang memvisualisasikan Ka’bah pertanda ingin menunaikan ibadah haji, lingkaran mengelilingi bola dunia,  gedung panti asuhan dan entah apa lagi. 

Namun aku selalu merupakan pribadi yang santai.  Bila nanti yang tercapai lebih dari itu, maka itu akan menjadi bonus prestasiku.  Aku ingin menjalani hidupku dengan tanpa beban, agar terasa ringan dan nikmat.  Bila hidup terasa nikmat, kesyukuranku akan penuh.  Mungkin juga, waktu itu aku hanya menggambarkan apa yang kurasa penting namun masih kurang dalam hidupku :  kehangatan keluarga.  Keluarga yang hangat dan saling mendukung, akan menjadikan pondasi yang kokoh bagi proses pencapaian setiap cita-cita untuk menggapai kehidupan yang lebih baik, dan akan selalu menyediakan tempat yang lapang bagi setiap angota keluarga untuk kembali di kala letih.  

 Aku jadi ingat komentar seorang teman yang tidak percaya pada istilah ”…and they live happily ever after…”  Menurutnya, tidak mungkin ada orang dapat hidup bahagia selamanya, karena yang namanya masalah dalam kehidupan selalu ada. 

Dia hanya belum paham bahwa masalah pun dapat menjadi sumber kebahagiaan, bila kita menghadapinya dengan sabar dan syukur.  Itu adalah buah yang manis dari nikmat iman.

Sesungguhnyalah, pada usiaku yang menjelang 28 waktu mengikuti pelatihan itu, visiku membentuk keluarga bahagia itu sudah berada pada tahap injury time. Di daerah tempatku dibesarkan, usia 23 adalah usia ideal bagi perempuan untuk menikah, sedangkan pria 25 tahun.  Aku sudah melewati tenggat 5 tahun.  Mama papaku di rumah sudah bolak-balik menanyakan dan membuat skema macam-macam untuk menjodohkan aku.  Doa mereka pun tak putus-putus.

Selepas lulus kuliah di usia 23, aku ditempatkan bekerja di kota yang berbeda dengan tempat tinggal mereka.   Maka aku santai saja terbang ke sana kemari, menikmati hidupku yang bebas, terutama karena sudah memiliki penghasilan sendiri.   Aku tidak (mau) merasakan kegelisahan mereka.

Selepas menggambarkan visi itu, entah bagaimana, jalanku untuk mendapatkan jodoh, mendapatkan restu orang tua, menikah, kemudian membentuk keluarga bahagia dengan anak sepasang perempuan dan laki-laki tepat seperti yang kugambar di atas kertas karton itu, terbuka lebar dan mudah dijalani.   Belakangan aku sadar bahwa Allah telah membuktikan janjinya bahwa Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya.   Terutama, karena aku telah memenuhi prasyaratnya : menuruti kata orang tua, walaupun itu harus melawan obsesi-obsesiku sendiri. 

Rupanya doa orang tua untuk anaknya baru dapat terkabul bila anaknya mau bertemu di tengah.

 Setelah 5 tahun aku telah membuktikan kekuatan penggambaran visi itu!  Dan kini, aku akan melakukannya lagi.     Usia biologisku sebagai perempuan tidak muda lagi,  aku sadar itu.

Sudah saatnya aku merintis suatu perubahan radikal…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s