Pernah nggak, anda memaksa anak untuk melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.  Misalnya, mengharuskan anak tidur siang pada saat anak ingin bermain dengan menguncinya di kamar tidur.  Atau, anda menghardik anak karena ia enggan ikut sholat berjamaah di rumah.  Atau, membangunkan anak dengan sedikit memaksa untuk ikutan sahur dan berpuasa, karena tidak mau kalah dengan cerita teman-teman anda yang anaknya yang belum akil baligh  sudah berhasil puasa hingga maghrib.

Ternyata,  cara-cara tersebut termasuk BIG NO NO dalam cara-cara mendidik anak berbasis fitrah.

Sangat penting bagi anak untuk belajar, dengan  TANPA tekanan dan paksaan, demikian Erry Soekresno,psi,MM menandaskan.   Mengapa?  Pembina Sekolah Komunitas Kebon Maen tempat kami menyekolahkan Yasmin dan Salman tersebut lebih lanjut memerinci alasannya.  

Bila seorang anak dipaksa untuk melakukan sesuatu, maka akan suuulit baginya untuk dapat mencintai kegiatan itu. 

Mungkin dia bisa melakukan pada akhirnya.  Namun, yang tertanam dalam bawah sadarnya adalah adanya paksaan dan tekanan, yang sedikit banyak meninggalkan pengalaman buruk.   Malah bisa jadi dia akan membenci apa-apa yang dulu terpaksa dilakukannya.    Dan jangan abaikan kemungkinan, bahwa  apa yang dia pelajari dalam kondisi tersebut akan segera dilupakannya.

Ini mirip dengan kondisi aku waktu sekolah SD sd SMA dulu.   Pelajaran-pelajaran seperti Sejarah, PMP, PSPB,  itu  begitu membosankan sehingga aku tidak tertarik untuk memahaminya lebih dalam.   Belajar hanya ketika akan ujian.    Setelah ujian, lupa.  Beruntung aku masih punya sifat yang menyelamatkan nilai-nilaiku waktu itu.   Yaitu sifat embung eleh haha 😛

Sebaliknya, ketika anak tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu selain melalui kerelaannya, maka dia akan belajar untuk mencintai sesuatu itu.    Bila sudah mencintai, maka dia akan rela melakukan apa yang telah dipelajarinya itu.    Bila sudah rela, maka ia tidak perlu diperintah lagi.   Bila sudah bergulir ke arah itu, maka pintunya untuk memahami sesuatu itu secara lebih mendalam akan terbuka lebih lebar. 

Rupanya dari sini passion bermula.  Apakah anda pernah menyangka, passion terhadap sesuatu bisa menuntun kita menuju cahaya hidayah?  J 

Aku jadi seperti menemukan setitik cahaya mendengarkan penerangan bu Erry.  Kadang, ambisi kami untuk anak-anak membuat kami kurang sabar sehingga tak jarang kami memaksakan kemampuan tertentu untuk dipelajari oleh anak.  Seperti aku suka memaksa Yasmin untuk mulai mengeja buku yang disodorkannya padaku untuk dibacakan.  Ketika aku membuatnya mulai mengeja, dia mulai rewel dan mencari-cari masalah.  Ketika itu aku tidak mempertimbangkan bahwa dia sangat aktif menari dan menyanyi lagu karangannya sendiri, juga sering mengambil peran leader bagi teman-teman mainnya.

Aku kini paham. yang terpenting bagi pendidikan anak adalah, bagaimana caranya agar membuat anak2 bisa mencintai apa yang dipelajari.   Dan tidak menekankan pada prestasinya.  KEMAMPUAN untuk MENCINTAI apa yang dilakukannya, akan berdampak dalam jangka jauh lebih panjang pada masa dewasa seseorang.

Untuk dapat mencintai sesuatu, kita pertama-tama perlu :

  1. Mengetahui manfaatnya.  Sebisa mungkin mengetahui dan mengeksplorasi manfaatnya dalam kehidupan sehari hari.
  2. Sesuai dengan bakat/kemampuan belajar kita.  Yang penting tidak dipaksakan.
  3. Disampaikan oleh pengajar secara menarik, tidak membosankan.
  4. Memberikan bukti perbaikan kualitas diri setelah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita akan lebih rela melakukannya.

Bagi anak, yang masih memerlukan bimbingan kita untuk mempelajari keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup/mencapai misinya sebagai manusia, keempat poin di atas perlu ditempuh melalui tuntunan, penjelasan, bujukan dan negosiasi.  Yaitu cara-cara yang menghargai fitrah mereka sebagai manusia, yang memiliki daya nalar, inisiatif dan kreatifitas, bukannya robot yang bisa diprogram ini itu. 

Bukan tekanan *pokoknya!*, menghakimi, prasangka, yang tidak relevan bagi anak.   Sering kali anak membangkang  bukan karena tidak mau melakukan apa yang kita minta, hanya belum tahu langkah-langkah untuk melakukannya.  Sesederhana itu.

HEI.  Aku baru sadar lagi.  Ini juga berlaku untuk teori kepemimpinan.   Telah banyak bukti dalam sejarah, pemimpin yang dicintai rakyatnya akan diikuti  perintah dan petuah-petuahnya oleh rakyatnya, bahkan jauh hingga setelah dia meninggal.   Contoh saja Rasulullah Muhammad SAW.  Mahatma Ghandi.  Soekarno. 

Dan bosku harus banyak introspeksi soal itu. Kakakaka… *ujung-ujungnya* 😛

Iklan

2 pemikiran pada “Belajar Mencintai

  1. Bossmu itu bukan pemimpin tapi manager mu 🙂

    Betul mas. Manager yang dicintai bawahannya akan menghasilkan produktivitas unit kerja yang lebih tinggi. Manager yang tidak dicintai hanya menghasilkan kerja yang tidak berkualitas dan sumpah serapah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s