Heran aku.    Bisa-bisanya para ahli ekonomi itu meremehkan kelenturan masyarakat menghadapi perubahan.  Katanya aksi redenominasi rupiah, akan menimbulkan lebih banyak mudharat daripada manfaat untuk saat sekarang.    Aku sih setuju untuk bagian yang menimbulkan biaya pencetakan mata uang baru,  biaya merubah sistem keuangan dan lain-lainnya.  Tapi soal dampak psikologis terhadap masyarakat,  jadi potensi inflasi ato masyarakat masih belum terbiasa dengan angka-angka kecil, aku kurang sepakat. 

Nampaknya para ahli yang komentarnya dimuat di media-media itu  jarang-jarang main ke pasar ato ke Glodok.  Di mana-mana, rakyat sudah terbiasa dengan redenominasi rupiah.  Buktinya nih, orang kalo tawar menawar di pasar percakapannya seperti ini :

+ Berapa harganya bang?

–  Dua ratus aja neng

+ Halah mahal bener.  Pasnya berapa?

Kalo jadi beli, ya saya kasih 150 deh.

+ Ah masih kemahalan.   Harga bantingnya deh kalo gitu?

Itu udah pas neng?

+  Yawdah, harga injek, harga cekek sekalian biar aku nggak kelamaan nawarnya.   Di toko sebelah cuman 75 loh!

Yawdah deh buat neng geulis 50 aja, tapi tambah cium ya?

Kekeke…

Yang pasti mereka nggak ngomongin  jual beli permen, secara yang harganya 200 perak ato 50 perak itu zaman sekarang ini cuman bisa dapet sebutir aja.  Bisa jadi mereka ngomongin barang kayak baju, ato LAN Card.

Satu pemikiran pada “Redenominasi

  1. Yang bagian penjualnya bilang ‘tapi tambah cium ya‘ itu cuman bercanda, dan bukan kejadian yang sebenarnya. Selebihnya benar-benar terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s