Ke ujung dunia tlah kususuri

perjalanan mengumpul debu dan daki

hanyalah rumah

sebuah tempat untuk

membersihkan itu semua

Yup.  Dan di sinilah aku, kembali mengisi rumah bambuku dengan catatan-catatan.  Yang mungkin tak berarti untuk orang lain, namun ya untukku.

Telah banyak yang terjadi di luar sana, namun aku tak peduli.  Biarlah mereka merajut cerita mereka, dan masuk ke perapian untuk menyuci diri.  Aku hanya perlu berada dalam rumah bambuku.

Biarkan aku menyendiri, menjadi bintang pujaan dalam hidupku sendiri.

Agak mellow, pasti ini gara-gara siaran lagu-lagu oldies oleh radio yang sabtu pagi ini tidak dikawal oleh penyiar.   Semua orang membutuhkan libur.

Beberapa bulan ini aku tidak memposting apapun kecuali membalas beberapa comment yang menggelitik.   Mohon maaf kedengarannya egois.  Tapi aku sudah belajar sejak lama untuk menjadi diriku sendiri.  Aku sudah capek melayani orang lain di luar kemauanku.  Ketika aku melayani orang, anda akan tahu bahwa hatiku besertaku mengizinkan semua itu.  Seperti ketika aku melayani suami dan anak-anakku dengan segala tingkah mereka.  Kadang aku hanya tertawa dan membiarkan mereka merengek.  Biarlah semua tahu bahwa aku,  perlu juga melayani diri sendiri. 

Sebenarnya aku ingin menceritakan aku di tempat kerja.  Sebagai Virgo, sudah karakter bawaan mungkin, passion-ku adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, sampai cenderung ke perfeksionis malah.  Namun seperti segala sesuatu, yang berlebihan itu tidaklah baik.  Jadi aku berhenti menjadi ’si reseh/si cemas’ sejak lama.

Di tempat kerja, sikap itu rupanya lebih sebagai bumerang.  Karena menganut sikap seorang Yesman (film Jim Carrey, ingat?),  beberapa boss  jadi senang menugaskan ini itu.   Awalnya, kuanggap itu suatu penghargaan.  Berarti mereka senang dengan sikap/hasil kerja/caraku mendeliver hasil kerja selama ini.   Ah, jalinan ceritanya terlalu rumit dan membosankan untuk dibahas.

 Jadi selanjutnya, tentu setelah aku memiliki nama yang cukup tersohor, cieh, aku memulai permainan ’negosiasi’.  Aku sudah berjanji pada diriku untuk selalu menuruti intuisi, kira-kira pekerjaan mana yang akan berumur panjang/bagian sejati dari proses perbaikan/ sehingga manfaatnya akan mengalir hingga masa depan, kalau bisa. 

Sikap ini muncul sebagai responku terhadap tawaran pekerjaan dadakan yang jauh dari maksud perbaikan yang sejati. 

Kadang, seperti pekerjaan yang datang pada bulan terakhir ini, adalah menjadi bagian dari proyek membuat topeng untuk menutup keburukan pimpinan.  Bagi mereka yang turut serta, entah apa yang mereka harapkan dari itu.  Yang sudah pasti, mereka adalah orang-orang yang berpikiran positif, optimis dan berniat mempelajari sesuatu dari itu. 

Ngomong-ngomong, aku sudah melaluinya tahun lalu. 

Namun aku bukan tipe orang yang mau saja terjebak di lubang yang sama.  Terutama setelah menyaksikan proses yang sejatinya tidak berjalan dan semua tetap buruk, seperti sedia kala.   Sangat menentang prinsipku agar esok lebih baik dari hari ini. 

Karena terpaksa, aku ikut setengah jalan.  Di tengah-tengah, tak sanggup menghadapi gejolak batinku sendiri, aku desersi. 

Aku pengkhianat? 

Telah kutetapkan untuk bersikap bitchy kali ini.   Yap, aku tidak takut.

Sadar tidak boss, dengan pernyataan sikap inipun, aku sedang bekerja sebagai seorang quality & change management staff yang menghayati amanahnya.  Bila sikapku tak menyenangkan, aku bahkan tak ingin minta maaf.

Tak semua hal yang baik disadari sejak awal, kadang seminggu atau setahun kemudian, tergantung kecerdasan anda.

Anda dan anggota tim lain boleh mengatasnamakan ’teamwork’, ’kebersamaan’, ’untuk kita bersama’, ’tersiksa bersama’,  silakan saja.  Bila anda ancam saya dengan kalimat  ‘aku bersumpah, ketika aku menjadi direktur nanti, kamu tak akan saya angkat menjadi general manager!’,  aku akan tertawa di dalam hati dan dimuka anda.   Aku akan tatap anda di mata,  tetap dengan sikapku, sadar dengan konsekuensi menjadi makhluk antagonis.  Silakan saja. 

Terserah apa maumu lah, boss.  Kalau gara-gara itu, anda beri saya nilai prestasi rendah,  aku pun tak akan peduli.  Karena bukan penilaian darimu atau manusia manapun, yang aku  minati dan usahakan.

Iklan

2 pemikiran pada “Back and Angry Me

  1. Bos nengcha juga suka tiba2 nyalahin ga jelas. sebel deh bo.

    hahaha.. di mana ya ada bos yang baik, keren, kompeten, dan bisa jadi panutan? mau dong satu aja.

  2. hehehe… boss memang selalu menyebalkan yah. ketika rekan-rekan unitku berkata, kayaknya kalau pak sugi jadi boss enak yah. Akupun berkata, eiit … tunggu dulu, kalau aku jadi boss, aku akan lebih galak dari boss kita saat ini, mereka semua pun tertawa.

    Padahal aku berkata serius, kalau aku jadi boss, aku akan membuat anak buah ku yang malas menjadi rajin, yang desersi menjadi termotivasi, dan itu pasti menyebalkan awal prosesnya.

    Semua boss memang menyebalkan, tapi satu sisi boss yang baik akan terasa jika beliau sudah pergi dan diganti dengan boss yang lebih jelek disisi tersebut, gitu kali teorinya, tiada boss yang sempurna, selagi dia masih berasal dari golongan manusia.

    Selalu ada pemimpin yang dicintai bawahannya seperti Rasulullah, Panglima Sudirman, Prabu Siliwangi, Pak Cacuk, tapi jarang banget.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s