Tentang novel-novel terakhir yang aku beli.

Akhir-akhir ini aku tidak sembarangan membeli novel.  Memang aku pernah mengoleksi karya Jane Austen, Bronte Sisters, Alexandre Dumas, Sidney Sheldon, JK Rowlings, Tom Clancy, Erich Segal, John Grisham, Winston Groom, Umberto Eco,  Andrea Hirata dan Dan Brown.  Tapi makin kesini makin banyak pilihan buku, aku jadi makin selektif.  Dan aku hanya menyukai  tujuh penulis yang kusebut terakhir.  Dan Emha Ainun Najib, tentu saja.

Bacaan-bacaan chicklit atau best seller Stephanie Meyer tidak menjadi pilihanku (walaupun aku menyempatkan nonton satu yang sudah difilmkan, karena iseng).  Aku menghargai imajinasi manusia, tapi khusus bagi yang menginspirasikan manfaat yang sejati, bukan manfaat semu.  Banyak tulisan mengenai kehidupan yang bebas, yang menginspirasikan manusia dapat melakukan apapun yang dia mau tanpa mempertimbangkan rambu-rambu jalan yang lurus.  Yang akhirnya banyak menyeret remaja jaman sekarang terjerumus.  Termasuk aku dulu 😛 Hiks.

Tulisan adalah amal, yang bekasnya akan abadi jauh setelah kematian.  Tulisan yang berpengaruh buruk tentu akan mengalirkan dosa terus menerus, na’uzubillahi min zalik.

Adalah 9 dari Nadira- Leila S. Chudori, Gardens of Water– Alan Drew dan Bahwa Cinta Itu Ada 3G Gading Gading Ganesha– Dermawan Wibisono, novel yang terakhir kubeli.

Nadira adalah pilihan si ayah, dia penggemar berat Leila (aku harus menahan cemburu).   Kedua yang terakhir adalah pilihanku, karena aku suka dengan tema cerita Alan mengenai  hubungan orang tua-anak dari dua keluarga beda keyakinan yang bertetangga.   Buku ‘3G’ bercerita mengenai gambaran kehidupan mahasiswa ITB dan kehidupan mereka pasca kuliah di sana.  Berhubung almamaterku sedikit banyak bersingungan dengan kandang gajah itu,  aku jadi merasa punya kewajiban membeli bukunya.  Ihik.

Dan inilah testimoniku tentang :

9 dari Nadira :  walau tidak dinyatakan oleh penulisnya dalam kata pengantar ucapan terima kasih,  dia pasti terinspirasi JD Salinger (Catcher in the Rye), dengan menulis beberapa cerpen terpisah yang menceritakan tokoh-tokoh dalam sebuah keluarga yang sama.  Leila bersikeras menyebutnya sebagai kumpulan cerpen (dan bukan novel) karena setiap bab tidak ditulis secara kronologis.   Apakah Leila menceritakan kehidupannya sendiri di lingkungan kantor majalah Tempo, entahlah.  Namun semakin membuka wawasanku tentang kehidupan para jurnalis.

Gardens of Water, dengan penerbitnya adalah Literati,  terus terang adalah yang paling aku sukai dari ketiganya.

Alan menulis dengan kalimat-kalimat sederhana namun tepat,  untuk topik berat mengenai hubungan dua keluarga bertetangga penganut keyakinan yang berbeda (dan bermusuhan), dengan jalinan yang rumit.  Meski bukan muslim, Alan dapat mengeksplorasi dengan tepat bagimana lika-liku pemikiran seorang muslim yang taat.

Menurutku, Alan berhasil menggambarkan dengan sederhana bahwa kehidupan sangatlah rumit, tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan.  Sepanjang waktu hidup manusia penuh perjuangan dalam peperangan nurani, yang baru selesai hingga ajal menjemput.  Apapun keyakinannya.  My Standing Applaus for Alan Drew.

Bahwa Cinta Itu Ada.  Aku harus mengatakan bahwa buku ini typical sekali tulisan seorang alumnus yang memuja almamaternya.  Gaya bahasanya hiperbolik di sana sini, kadang untuk yang berselera sederhana seperti aku, jadi terasa lebay.   Buku ini jadi terlalu tipis untuk tema berat dengan beberapa tokoh utama, bila aku membandingkannya dengan Doctors – Erich Segal atau the Prize – Irving Wallace.  Membacanya seperti membaca ringkasan buku yang sebenarnya.   Untuk lika-liku cerita dan sisipan-sisipan pepatah bijak leluhur kita, aku beri acungan jempol.  Memang seperti itulah realita.

Sekali lagi ini bukan resensi, melainkan opini menurut seleraku.    This is all about me, so deal with it.

Jadi, apa opinimu?

Iklan

2 pemikiran pada “Bukan resensi, hanya opini

  1. belum ada opini, karena belum ada yang dibaca…. tapi jadi tertarik beli buku-bukunya….;)… masuk daftar list belanja buku berikutnya nih kayanya….;)…
    rekomendasi pertama yang mana mbak yang harus dibaca (beli)….?


    kekeke… seleramu kayak apa Jess, jangan-jangan bertolak belakang ama aku. Yang netral sih yang Leila dulu kalik ya 🙂

  2. waw…*garuk2 kpala* TD masih sempet baca banyak buku toh? hebaaattt…..^___^

    he iya, yang nggak sempet akhir-akhir ini adalah menuliskannya di blog wkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s