Aku termangu kalau merenungkan yang ini.

Betapa aku banyak lupa dengan cerita mengenai interaksi dengan guru-guruku masa SMP-SMA bahkan kuliah.  Dibanding dengan temanku Baban, yang rupanya menyimpan diary lengkap, diari yang ditulisnya sendiri maupun yang ditulis teman-teman waktu itu.  Sepanjang 6 tahun itu dia kayaknya ingat  nama semua guru beserta sifat-sifat mereka, nama penjaga sekolah maupun peristiwa sepanjang masa sekolah.  

 Tapi aku dan Baban memang dua orang yang berbeda, OK?  😀 

Waktu masih ABG, aku pernah menganggap orang baik itu membosankan.  Walaupun belum tentu orang membosankan itu orang baik. 

Dan sekarang,  ketika aku menjadi orang dewasa yang baik *benarkah? kayaknya masih harus ditest wkkkk*  aku pun terkena anggapan itu, hehe.  Jadi aku sekarang menganggap diriku ini membosankan. 

Tidak tidak, tidak pakai ‘agak’ lagi.   Tapi mem-bo-san-kan.  Okeh?

Namanya anak muda.  Energi banyak, badan masih sehat  dan pembakaran kalorinya efisien.  Yang pasti jadi suka sama aktivitas yang banyak, ribut dan seru.   Jadinya kalau ketemu suasana tenang, aman, nyaman, hangat,  damai… dan nggak bisa ngapa-ngapain… seperti berada di dalam kelas yang gurunya super tenang tapi bersuara monoton lagi monolog …. ujug-ujug aja ngantuk  zzzzz..zzz.. krrr…. hihihi 

Makanya aku pernah ngalamin disetrap dan dimarahi sama bu guru Sejarah SMP di depan kelas, karena ketiduran di kelasnya!   Maaf aku lupa namanya, saking nggak berkesan ama beliau, maaf sekali lagi… dan aku asik-asik aja, malah cenderung  bangga karena berani dihukum X-)  Ketika anak perempuan yang lain  mungkin udah malu muncul  keesokan harinya di sekolah, aku malah merasa jadi tambah ngetop di sekolah.  Huahaha… kalo inget betapa aku nggak mau tau apa kata temen-temen waktu itu!   

Ya jelas aku nggak peduli karena aku sebenarnya nggak bodoh-bodoh amat di pelajaran yang lainnya.  Aku cuman nggak peduli ama pelajaran sejarah.  Selalu bete setiap kali harus menengok masa lalu.  Mungkin karena gurunya nggak bisa memberi pencerahan betapa pentingnya mengambil pelajaran dari masa lalu, tambah lagi beliau nggak punya gaya bercerita yang  seru sehingga bisa menarik perhatian.  

Bagiku (dan mungkin bagi guruku juga) sejarah cuman terdiri dari tanggal dan judul peristiwa yang harus dihafal supaya bisa menjawab pertanyaan pada saat ulangan.   

Apa yang terjadi pada tanggal itu,  hikmahnya apa saja, mboh apa ya… kalau saja pelajaran sejarah itu lebih menarik waktu itu, mungkin ceritaku di blog pada masa kini bisa lebih berwarna.. terektek tek tek…. enter Pangeran Diponegoro membawa pedang dan mengancam jenderal bule itu dengan lantangnya… hei kamu bla bla bla bla….!

Aku ingin anak-anakku sekolah di tempat yang seru seperti itu  yang membuat energi muda mereka tidak sia-sia.

Aku ingin, aku berusaha dan Allah telah menolongku membuatnya nyata.

🙂

Alhamdulillah

Iklan

Satu pemikiran pada “Belajar dari sejarah

  1. Ibu Kerry! 😀

    Kalo bu Kerry sih berkesan banget.. galaknya dan cubitannya. Kayaknya guru sejarah TD pas kelas 1 SMA deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s