Di penghujung tahun ini, hujan banyak turun di sore hari.   Rintik-rintik saja. Namun awan mendungnya kerap menggantungi langit sepagian, hingga cucian  baru berhari-hari kemudian kering.  

Melihat mega berlarian ditiup angin entah mengarah ke mana siang ini, aku tiba-tiba teringat akan dirimu.   Apa kabarmu, Sahabatku tersayang?

Dulu kita sempat berikrar untuk selalu bersama, setidaknya dalam pikiran. Aku masih akan menepati ikrarku.  Semoga aku tidak menjadi orang yang lupa ingatan, walau sesuatu pernah terjadi dengan kepalaku.   Aku percaya bahwa ingatan letaknya ada di ruh.  Jadi bila kepalaku penyok, maka kuyakin : ingatanku tak akan terpengaruh selama ruhku masih di jasad.   Beberapa hal yang kulupakan memang sengaja kupendam di bawah kesadaran, namun aku tahu mereka tak pernah benar- benar hilang dari sana.

Maka ingatanku terbatas hanya pada beberapa hal yang kuingat-ingat.  

Sepanjang tahun ini aku banyak berpikir dan mengevaluasi diri,  akhir-akhir ini lebih sering dalam diam.  

Selama ini aku sudah menjadi makhluk yang terlalu lincah namun agak gegabah.  Dari beberapa lubang tempat kuterjerumus, aku dapat belajar sesuatu hal atau dua.   

Beberapa kali aku harus menelan malu dan kalah, kadang menjilat kembali ludah.  Peristiwa yang sungguh menyakiti imajiku tentang diriku sendiri memaksaku untuk menahan kekang lebih kencang dan lebih dalam.   Itu sebabnya kini aku seperti pertapa yang menyepi dan memutuskan untuk keluar sesekali hanya untuk mengirim pesan padamu.   Agar kau tau aku baik-baik saja.   Dan agar kau tidak kesepian.   Walaupun ku tak tahu kau berada di mana 😦 

Sahabatku, untuk aku tumbuh bijak rupanya  memang harus penuh dengan biru lebam.   Allah mengirimkan peristiwa demi peristiwa agar aku mendapat pelajaran demi pelajaran.   Namun gembiralah Sahabatku, aku mengoleksi setiapnya dengan penuh khidmat.   Setiap kali aku menggali aku pun selalu dapat temuan yang baru.

Aku pernah menutup account facebook dan mencurigainya sebagai alat setan untuk mengubah tatanan perilaku dunia menjadi lebih bebas dan terbuka,  sehingga mengungkap hal-hal yang tidak disadari pemiliknya sebagai aib atau riya.   Tidak semua hal yang kulihat di sana kusukai, namun ini membuka mataku bahwa beginilah dunia yang sebenarnya : penuh dengan macam-macam.   Dan bahwa aku tidak selayaknya menganggap orang harus sama sepertiku.   Aku belajar mengenai kepicikan, dan aku menemukan bahwa kepicikan itu adalah diriku selama aku memaksakan pendapatku pada orang lain.  

Aku harus belajar lebih banyak diam daripada menghujat.

Aku juga mengamati, betapa orang-orang begitu mudah lupa dengan janji hati mereka setelah  film ‘2012’ berganti dengan ‘New Moon’ atau ‘Avatar’.  Mereka yang belum paham mengenai rapuhnya kehidupan,  tidak akan pernah sadar bahwa kita tidak pernah mempunyai banyak waktu untuk menunda-nunda sesuatu kebaikan, apapun itu.   Kebanyakan orang masih sibuk berputar-putar dengan kendaraan ego mereka, tidak langsung mengarah ke tujuan.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” Al- Faatihah 6-7

Awal Ramadhan tahun ini merupakan momen bahagiaku.  

Setelah kusingkap hijab penutup harta permata yang selama ini sudah ada di sana menungguku, aku tak pernah lagi merasa kelu, resah, tak berguna, rendah diri dan kekurangan.   Bahwa penampilan luar itu tak terlalu penting, dan apa yang ditampilkan orang lain mengenai dirinya bisa jadi merupakan pengalihan dari kondisi yang sebenarnya.   Mata hatiku menuntunku untuk menyikapinya dengan lebih bijak dibanding dulu.  

Itu terjadi setelah aku memulai sholat Dhuha dengan rutin. Semoga Allah memberiku kesempatan untuk dapat melakukannya setiap hari.   Ini hal yang dapat kusampaikan padamu Sahabatku: setelah aku melakukannya setiap hari, seolah-olah pancaran cinta-Nya mengalir lebih deras kepadaku, melaluiku, ke tujuan-tujuanku.

Sebagai ibu aku merasa lebih mantap melayani keluarga.  Sebagai penanggung jawab pengelolaan kualitas proses di perusahaanku aku merasa lebih mantap berpijak, melangkah dan berkontribusi.  Sebagai sahabat aku akan menjadi pendamping di sisimu dalam pertumbuhanmu: tidak di depanmu, maupun di belakangmu.

Mungkin selama ini aku tidak menjadi sepenuhnya pribadi yang kauharapkan.  Karena aku hanya manusia, dan berharap selayaknya hanya kau tujukan kepada-Nya.   Hanya Allah yang tidak pernah membuat hamba-Nya kecewa.

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku”

Yap, aku mungkin tidak akan banyak berada di sekitarmu lagi. Namun percayalah Sahabat, aku akan menepati ikrarku. Kita selalu bersama. Di dalam pikiranku.

Dan kau akan tahu bahwa aku sedang memikirkanmu, saat dalam satu pengembaraanmu, kau tiba-tiba ingat padaku.

Iklan

5 pemikiran pada “Kepadamu…

  1. … dan tiba-tiba aku ingin menangis …

    Cheer up bro 😀

    Aku selalu dekat denganmu, online online… online online… kata Allah SWT.

    hihihi.. 😀

  2. mbak..bikin buku donk…aku pasti jadi pembeli pertama..

    Irza… blog ini malah bisa kamu baca dari manapun di seluruh dunia asal terhubung ke internet 🙂 Kita selamatkan pepohonan aja yuk 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s