Sebelum terlalu jauh memprasangkai isi tulisan ini karena judul yang dipajang di atas, aku akan melanjutkannya dengan pertanyaan yang diajukan padaku oleh beberapa orang teman  : 

“Apa yang membuatmu menyekolahkan anak di sekolah alam, D?”

Apa ya…  hehehe *garuk-garuk* : ini adalah respon yang tidak mungkin kalian dapat sebagai jawaban 😛

Sebagai wanita yang tahu apa yang dimau, dan bagaimana cara mendapatkannya, jawabanku pasti lugas.   Tapi kita akan berputar-putar dulu sedikit, agar tulisan ini tidak terlalu pendek lagi mendebarkan.

Baiklah, perjalanan kita perpanjang sedikit, dengan beberapa pertanyaan: 

Apa yang membuat  Leonardo da Vinci mampu membuat lukisan Monalisa begitu memukau?  Apa yang membuat  Taj Mahal dibangun begitu megah sekaligus mengharukan oleh Shah Jehan?   Apa yang membuat Soekarno begitu kuat dikenang sebagai pemimpin rakyat Indonesia?  Apa yang membuat gedung-gedung di Dubai berdiri  mencakar langit?  Apa yang membuat Edmund Hillary berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia?

Sudahkah terlihat benang merahnya?   Jawabannya bisa dikutip dari Wikipedia :

Passion (from the Latin verb patior, meaning to suffer or to endure, also related to compatible) is an emotion applied to a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion compelling feeling, enthusiasm, or desire for something. The term is also often applied to a lively or eager interest in or admiration for a proposal, cause, or activity or love.

Sebentar.  Kita belum sampai di sana. 😀   

Alasan setiap orang tua menyekolahkan anaknya, tentunya untuk memberikan bekal ilmu bagi anak-anaknya.   Ilmu, merupakan bekal yang lebih baik daripada harta.    Namun,  ‘memberi pendidikan’ berbeda artinya dengan ‘menyekolahkan’.

Sudah cukup, aku muak sudah dengan sistem sekolah yang menghasilkan sekolah-sekolah penghasil robot anak-anak, yang sebagiannya menjadi produk gagal.  Semata karena pengajaran disamaratakan pada anak sekelas, mengabaikan bakat dan minat khusus anak.  Sebagai contoh sebelum masuk kelas 1 SD, anak sudah dituntut harus sudah bisa baca, walaupun lukisannya, atau kemampuan menarinya sangat bagus untuk anak usia sebayanya.  Sepanjang proses so called ‘pendidikan’ anak-anak tidak khusus diarahkan, namun dibiarkan mencari sendiri, dengan ditambah beban-beban mata pelajaran yang tidak cocok dengannya.  Setelah lulus, mereka kebingungan untuk melangkah.  Kebanyakan menjadi manusia yang kehilangan daya inisiatif.   Dan seterusnya dan seterusnya.  Orang tua pun lebih terbebani dari segi psikologis,  bukan sekedar beban finansial saja.  Tak heran masyarakat kita banyak yang sakit,  karena daya untuk bernalar sudah dibabat habis oleh sistem pendidikan nasional!

Mereka yang terlibat di sekolah alam, adalah persona yang memiliki gairah terhadap pendidikan.   Mereka berbagi passion yang sama :  membentuk dan mengarahkan energi-energi murni yang sukanya berlarian, merangkak dan memanjat pohon itu, agar segera memahami potensi diri dan memahami misi keberadaan mereka, masing-masing, di dunia. 

Mereka dengan berani melawan arus  aturan-aturan standar sekolah umum mengenai seragam sekolah,  kelas,  gedung sekolah, buku pegangan, metoda pengajaran, demi sesuatu yang lebih besar :  efektifitas penyampaian ilmu yang menyeluruh dari sisi spiritual, emosional maupun pengetahuan,  sehingga anak didik mengetahui, mengingat  hingga memahami, dan terus mengamalkannya secara konsisten dalam kehidupan mereka.   

Apa ya, gunanya seragam sekolah ketika anak-anak lebih nyaman berkaus dan bersendal jepit?  Apa ya, gunanya ruang kelas ber-AC ketika oksigen asli dapat mereka hirup langsung dari segarnya angin yang bermain di kerimbunan pohon?  Segala hal dan gejala yang bisa langsung diamati di alam, untuk apa ya, mempelajarinya dari sumber informasi sekunder lain yang tidak menggambarkan hal dan gejala alam sejelas aslinya?    

Apa untungnya berlebih-lebihan bila ujung-ujungnya malah menyusahkan?  Kesederhanaan ini justru  mengajarkan cara berpikir yang lebih logis, efektif, efisien, tepat guna, genius!  yang kelihatannya sudah hilang rohnya dari sistem pendidikan nasional sekarang ini. 

Aku simpulkan, mereka di sekolah alam melakukan setiap kegiatan dengan antusias, keberanian dan dengan cara yang terbaik!    

Apakah kalian tahu penyebab bangsa ini mengalami masa kemunduran dalam tahun-tahun kemerdekaannya,  padahal tidak sedikit orang-orang pintar dan berilmu berada di tengah-tengah mereka?   Karena langka orang-orang berkarakter kuat yang memiliki visi, dan terlatih mempertahankan idealisme dalam perjalanan panjang mencapai visi mereka.   

Aku percaya, mereka yang terlibat dalam sekolah alam (atau disebut juga sebagai sekolah komunitas, karena sekolah ini berdiri dan bertahan atas dasar guyubnya komunitas yang memiliki gairah yang sama untuk hidup selaras dengan alam),   adalah orang-orang yang  memiliki passion yang sama terhadap pembangunan manusia Indonesia yang berkarakter  kuat :   amanah (dapat dipercaya, diandalkan),  fathonah (cerdas/pandai), tabligh (menyampaikan ayat-ayat Allah, berani mengajak ke jalan Allah ), siddik (berbuat dan berkata benar).  

Sebagian besar guru-gurunya berusia muda, berwajah segar serta bergerakan gesit, namun tak satu pun dari mereka yang tak santun ketika saling bertemu dengan manusia lain.    Melihat hal ini saja, aku  sudah merasa bahwa dampaknya terhadap anak didik adalah sangat kuat.  Pendidikan apakah yang terbaik selain suri teladan?  

Merekalah para pendidik yang akan kusapa sebagai pahlawan  dan akan selalu kusebut namanya dalam do’a-doaku.  Amalan mereka akan menjadi amal jariyah yang pahalanya selalu mengalir bagi mereka dan abadi sepanjang kehidupan. 

Selamanya aku akan menaruh hormat pada mereka yang mengamalkan prinsip-prinsip keilmuannya dengan konsisten.  passion 

Aku hanya ingin anak-anakku hidup dalam level energi yang sama, dalam melakukan apapun yang menjadi minat mereka kala dewasa. 

Semoga level energi itu akan senantiasa membuat mereka kuat dan tegar dalam upaya pendakian, serta menjaga mereka tetap on track mencapai puncak yang menjadi tujuan mereka dalam hidup.   

Di ujung perjalanan mencari  jati diri, mereka menemukan Tuhannya.

InsyaAllah.

Iklan

3 pemikiran pada “Ini gairahku…

  1. Berarti hidupku paling ngeri…
    6 tahun di SD, 3 tahun SMP, 3 tahun di SMA dan puluhan tahun bekerja di sekolah yg bukan sekolah alam…

    Pak Marsudiyanto, terus terang, bagi saya anda adalah kasus… tapi kasus yang positif 😀 Dan saya harus berbahagia masih ada orang-orang seperti anda di dalam sistem yang aneh, bagi saya. *Walaupun mungkin juga saya aneh bagi yang lain, nggak masalah buat saya*
    Bahkan orang seperti bapak semestinya dikembangbiakkan untuk memperbaiki kualitas sekolah umum hihihi… maksud saya, ‘passion’ mendidik yang bapak miliki, semoga menular juga bagi pengajar-pengajar yang lain di sekolah umum.

  2. yak betull! kalau di sekolah umum anak yang ga bisa sains kan dianggapnya bodho! 😀

    Iya, kesian bener ya, padahal manusia yang fisiknya cacatpun sebenarnya sempurna, karena Allah melebihkannya di sisi yang lain yang manusia dengan fisik lengkap tidak memilikinya.
    Bahwa sebenarnya manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tidak menjadi landasan filosofi dari pendidikan dasar umum di Indonesia. Di era 2.0 ini, harusnya sudah ada perubahan yang mendasar, namun sepertinya masih jauh panggang dari api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s