Reaksi atas peristiwa bergoncangnya tanah yang dipijak manusia penghuni Sumatera Barat dan sekitarnya pada tanggal 30 September lalu bermacam-macam.  Sedih sudah pasti, kaget bahwa alam ternyata bisa sekejam itu, pusing dan gelisah berkepanjangan menyusul kemudian.    Namun aku percaya, bagi mereka yang beriman akan memiliki pegangan kuat  dalam melanjutkan kehidupan.  Jadi, aku tidak akan kuatir. 

Seperti aku tidak kuatir lagi saat bertemu dengan kakek bongkok yang setiap pagi dalam route perjalanan ke kantor kami lihat sedang  terseok memanggul dagangan sapu lidinya.  Aku tidak kuatir, karena itu berarti kakek itu masih dalam jalur yang benar : tetap berusaha untuk penghidupannya melalui jalan perdagangan yang berkah.  Itu lebih baik dari pada meminta-minta atau diam bergantung pada orang lain.  Kala kakek itu meninggal, aku tak tahu apakah kami akan seberuntung dia karena selalu istiqomah mencari rejeki dari Allah swt.

Reaksi lain yang kuamati munculnya analisis mengenai betapa gaya hidup kita sudah  banyak menjauh dari keselarasan dengan alam.  Aku percaya banyak sudah yang menyadari pentingnya ‘going green’, kembali ke alam.  Kembali ke kearifan nenek moyang kita masa lalu, yang banyak kita tinggalkan atas nama modernitas.    Tapi, seberapa banyak sebenarnya yang sudah melakukan tindakan,  bersumber dari kesadarannya itu?

Ampuni aku ya Allah, sedikit pun tidak terbersit niat bagiku untuk menyombongkan diri.  Apalah yang bisa kubanggakan dihadapanMu?  Aku hanya heran karena orang  masih saja menganggap rumah bambu tidak akan bertahan lama.   Kala bumi digoncangkan, mana rumah yang lebih bertahan lama : rumah tembok atau bilik? 

Ada yang komentar : jaman nenek moyang belum ada semen.  Siapa bilang: candi Borobudur dibangun tanpa semen bukan?

Kini setelah gempa besar,  banyak lagi orang mencari informasi tentang rumah bambu.  Aku lihat polanya musiman.   Setelah  peristiwa ini berlalu  beberapa saat, ide rumah bambu mulai terlupakan kembali.   Tidak heran:

1.   masih banyak yang meragukan ketahanan bambu sebagai bahan konstruksi rumah.   Juga faktor fungsinya dalam mengamankan isi rumah.

2.  dan juga, masih sedikit kontraktor bambu yang bisa diandalkan, yang menghasilkan bangunan yang benar-benar berkualitas seperti yang aku dapatkan dari Yayasan Bambu Indonesia.

3.  bangunan bambu masih tergolong bangunan ‘ndeso’, tidak ada orang kota yang mau memiliki rumah berdinding bilik.   

Orang yang melihat pembangunan rumahku mengomentari bahwa aku dan ayah tergolong ekstrim dan ‘tidak seperti biasanya’, walaupun mungkin ada sepercik kekaguman ketika mengucapkan itu. 

Yang aku tahu,  kami hanya bertindak sesuai keyakinan kami.   

Bagi rekan-rekan yang bermimpi memiliki rumah bambu, jangan berhenti bermimpi dan berusaha.  Allah akan membantu kalian semua, seperti Dia membantu kami di dahulu.

Iklan

9 pemikiran pada “Kembali ke Rumah Bambu

  1. benar D.. kita suka keliru memilih manakah yang lebih pantas dikasihani, kakek yang jualan sapu lidi itu, ibu-ibu yang jualan sayur hujan-hujanan dipinggir jalan.. ataukah malah aku yang yang duduk manis dirumah tanpa banyak berbuat..

    rumah bambu itu, inginnya aku menginap dirumahmu.. semalaaammm saja D 😀

    Untukmu Adel sayang, pintu rumahku selalu terbuka lebar. Memang cuman boleh semalam, kalo lebih dari 3 hari ada tagihannya 😆 just kidding..

  2. hmmm… kembali ke alam, kaya’na menarik bgt tu mbak..
    rumah bambu, kalo diliat-liat sich, lebih tahan gempa drpd rumah tembok coz, bisa goyang ke kanan dan ke kiri saat gempa terjadi.. he.he.. 😉

    Kalo dilihat-lihat, di lokasi yang pernah kena gempa, memang sudah terbukti tuh p3ny0.

  3. rumah bambu… seringkali menjadi tempat kembali
    saat semuanya rata dengan tanah…
    rasanya….. lebih menentramkan…

    InsyaAllah Elmoudy… 🙂 Memang tentram sekali di sini, hidup berdampingan dengan kodok dan tokek yang tidak pernah kami ganggu kecuali semut, itu juga kalo kepepet. Gaya hidup yang serasa menyatu dengan alam 😀

  4. sebenernya pengen banget menerapkan konsep rumah bambu di rumahku. Tapi sayang, idealisme aku dan suami beda bangett.. Rumahnya kan ditempatin berdua. Mana bisa aku maksain ideku.. 😦
    Ada ide gimana caranya ‘meracuni’ suami ? 😉

    Wahhh… rada susah memang kalo si ‘boss’ nggak setuju, namanya rumah buat ditinggalin bareng-bareng.. 🙂 bersabar aja mbak, I believe you’ll find a way to get to his heart.

  5. Hmmm…yang banyak berkomentar negatif soal back to nature, rumah bambu, peduli lingkungan, dan semacamnya, saya rasa karena belum diberi hidayah olah Allah SWT.

    Memang susah menghadapi orang-orang bebal semacam itu. Berdasar pengalaman di komplek saya, lebih baik diam dan bertindak, daripada banyak kicau malah menjadi fitnah.

    Bukan maksud sombong, pamer, atau sok tahu. Tapi kadang saya berfikir, menanggapi cemoohan orang yang sok pintar, saya berpendapat begini “Bukannya saya lebih pintar dari Anda, tetapi saya beruntung lebih dulu tahu dari Anda.” hehehehe..

    Nah, daripada capek nanggepin orang-orang yang belum diberi hidayah itu, ya saya “dakwah” saja di blog. Atau jika di lingkungan sekitar ada yang mau sharing, niat kuat, ya saya ajarin.

    Bukankah ilmu akan berkembang jika diamalkan?
    Salam hijau dari Bojong Baru,

    Senangnya dapat bertemu dengan teman yang sepaham 🙂 Anda benar, jalan dakwah adalah jalanan yang sepi. Saya pernah sedih gara-gara ditinggalkan sahabat lama yang saya ajak diskusi tentang gaya hidup seorang muslimah. Rupanya dia belum siap menerimanya, sehingga dia pergi, memutuskan hubungan begitu saja.
    Semoga keberkahan selalu menyertai hidup mas Nadi dan keluarga, amin.

  6. Artikel yang luar biasa, benar sekali mbak Dina sudah saatnya kita bersahabat dengan alam.
    Membuat bangunan bambu tidak harus semua berbahan bambu mbak, bisa saja dikolaborasikan dengan bangunan lain sehingga bangunan lebih kuat dan artistik.

    Contohnya, bayangkan saja betapa nyamannya jika rumah kita (yang tembok) di belakang rumah terdapat Gazebo bambu yang artistik tempat kita melepas lelah dan mencari inspirasi2. he…

    So, kl ingin bangunan bambu klik aja di http://griyabambo.com

    Ok? salam kenal…

  7. Artikel yang luar biasa, benar sekali mbak Dina sudah saatnya kita bersahabat dengan alam.
    Membuat bangunan bambu tidak harus semua berbahan bambu mbak, bisa saja dikolaborasikan dengan bangunan lain sehingga bangunan lebih kuat dan artistik.

    Contohnya, bayangkan saja betapa nyamannya jika rumah kita (yang tembok) di belakang rumah terdapat Gazebo bambu yang artistik tempat kita melepas lelah dan mencari inspirasi2. he…

    So, kl ingin bangunan bambu klik aja di http://griyabambu.com

    Ok? salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s