Hingga saat ini belum pernah terbayang olehku, pengertian dari Islam, muslim dan apa sebenarnya implikasinya bagi yang memilih untuk menganutnya.  Dilahirkan dalam keluarga muslim, dididik dengan ajaran muslim, ternyata masih belum cukup untuk  membuat seseorang benar-benar mengerti apa artinya menjadi seorang muslim.   Mungkin juga apa yang diajarkan semasa kecil hingga usia akil baligh di mana seorang manusia sudah harus menanggung sendiri akibat-akibat perbuatannya, masih berupa teori yang harus dicari pemahamannya dengan cara pembuktian oleh diri pribadi sepanjang masa hidupnya.

Hingga saat pagi ini, selesai sholat dhuha *yang mana baru aku intensifkan baru-baru ini saja menjelang ramadhan*, semua itu melintas dalam hatiku, dan pikiranku mulai memahami apa yang dimaksud dengan menjadi seorang muslim.  Mungkin ini jawaban atas semua pertanyaanku, dan semua usahaku, sehingga malaikat Jibril berkenan melintaskan ilham itu.  Allahu Akbar, Alhamdulillah.  Dan ingin sekali kuteriakkan EUREKA!

Semuanya dimulai ketika aku mulai tertarik untuk mempraktekkan ajaran Ust. Yusuf Mansyur rahimakumullah, mengenai segitiga rizki yang berkah :  sedekah – sholat dhuha sholat tahajud.   Juga mengenai formula matematika sedekah yang  unik dan bersumberkan Al-Qur’an.  *Bila penasaran, selengkapnya baca buku-buku USt. YM yang sedang masuk jajaran buku laris di toko-toko buku*.    

Selama ini aku suka tahajud, sholat dhuha dan sedekah, namun aku tidak mencermati fadhillah (manfaatnya, menurut petunjuk Rasulullah), sehingga ketiga amalan itu kadang-kadang saja kulakukan, bila aku ingat, mau, dan sempat.  Dengan kata lain, aku belum mengoptimalkan amalan ibadahku selama ini.

Menurut Ust YM, bila kita mengetahui dan meyakini *yakin, ini yang penting* fadhillah dari amalan-amalan kita, insyaAllah buahnya adalah konsistensi amalan, yang akan mempengaruhi jalan hidup kita ke depannya, tentunya ke arah keselamatan di dunia dan di akhirat.  Dan siapa yang tidak menginginkannya?

Dan ketika aku mulai memimpin diriku untuk konsisten dalam waktu beberapa hari ini, aku makin banyak menemukan bukti-bukti bahwa Allah selalu menepati janji-janjinya.  Allahu Akbar. 

Hingga pagi ini, ketika aku berdoa dengan sepenuh jiwa, karena aku telah mendapatkan keyakinan itu bahwa hanya Allah tempat meminta, meminta apa saja, dan apa yang perlu kita lakukan hanyalah menuruti perintahNya dengan mengikuti petunjuk yang diajarkan Rasulullah.  Allahu Akbar, satu demi satu petunjuk itu muncul sesuai kebutuhanku seperti potongan puzzle yang cocok.     

Kini aku paham ya Allah, apa artinya menjadi seorang muslim.  Apa yang diajarkan sejak aku sekolah dasar, baru-baru ini saja kupahami.  Mungkin terlalu lama waktu yang kuperlukan untuk menemukan pemahaman ini,  namun aku tidak ingin terlalu lama menyimpan penemuanku ini dari sahabat-sahabat pembaca.

Muslim, artinya orang yang berserah diri.   Ah , yang ini aku yakin anak SD pun sudah tahu.  Karena muncul dalam ujian pelajaran agama.

Namun apa arti berserah diri, tidak pernah ditanyakan dalam ujian-ujian itu.  Sekarang aku ingin mengemukakan jawabannya menurut versi pemahamanku, yang aku yakin akan bisa lebih dalam lagi bila dijawab oleh yang lebih memahaminya.

Berserah diri, adalah sesuatu yang kudapatkan setelah aku ‘menyerah’  untuk melakukan semua ‘saran-saran dan petunjuk’ yang diajarkan Rasulullah.  Aku menyerah, dalam arti aku menaklukkan semua kemalasanku, dan menaklukkan segala ‘tapi’ untuk mulai melakukannya.  Segala ‘tapi’ yang mencerminkan keberadaan egoku yang tidak ingin takluk pada perintah sesuatu dari luar diriku.

Pada hari pertama aku mulai melawan diriku sendiri, Allah langsung membuktikan janjinya berupa kemudahan dalam urusan-urusanku pada hari itu, dan rizkiku hari itu sangatlah cukup namun tidak berlebihan.   Aku yang biasanya berbicara belepotan di depan publik, mampu untuk bicara runtut dan pembicaraanku dipahami oleh orang yang kuajak bicara.  Pada saat audit, ketika aku harus bicara pada sepanjang proses, ini sangatlah besar artinya.  Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Aku telah membiarkan Allah mengambil alih diriku.  Sehingga Dia menuntunku, memudahkan segalanya bagiku, mencukupkan rezekiku.  Ya Allah, aku ingin itu berlangsung setiap hari dalam hidupku.  Jadi bagaimana aku tidak akan konsisten?  Aku telah membuktikan sendiri janji-janjiMu.  Dan ini membawaku memahami lebih dalam arti Al-Fathihah.  Dan aku pun yakin,  pembelajaran ini, akan terus berlangsung sepanjang hidupku.  Dan Allah lah yang akan membukakan lapisan demi lapisan pemahaman melalui siklus ilmu – amal – ilmu – amal.  Yang aku perlu lakukan hanyalah : berserah diri

Itulah artinya menjadi muslim, menurut versiku saat ini.

Ya.  Jalan yang lurus.  Jalan yang seharusnya dipahami oleh anak-anak Teknik Industri sebagai lintasan terpendek mencapai tujuan 😉

Wallahu alam.

Iklan

4 pemikiran pada “Berserah Diri

    1. Bila kita mengerti sepenuhnya bahwa nikmat dan musibah sama-sama bersumber dari kasih sayang-Nya yang Agung, insyaAllah kita akan dapat istiqomah.
      Bagaimana ramadhan di sana Masgi? 😀 nanti mudik nggak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s