Memasuki bulan puasa, suasana introspeksi itu tak terhindarkan.  Suara hati itu terlalu kencang untuk diabaikan.  Ya, aku ingin perbaikan,  perbaikan dalam mengenal diriku sendiri : apa tujuanku, apa tindakanku, apakah dua-duanya sudah selaras atau masih suka melenceng.

Selain buku bacaan untuk muslim, aku juga masih penasaran dengan buku-buku Paulo Coelho, penulis pengalaman bathin yang super.  Aku harus bilang super karena tulisannya terasa sangat mengena dan berpengaruh.  Berpuluhjuta orang sudah yang sudah mengakuinya, setidaknya menurut penerbit buku-bukunya. 

Sudah diketahui telah banyak yang menganut keyakinan New Age yang bukan merupakan turunan dari agama tsamawi manapun.  New Age merupakan gabungan dari sisi spiritualitas dari masing-masing agama itu, tapi tidak dari ritualitas maupun dogma-dogmanya.  Keyakinan yang muncul dari manusia-manusia yan tidak merasa puas dengan ritual agama yang terasa makin tidak masuk di hati maupun di akal mereka, dengan banyak alasan.

Aku harus mengakui Coelho telah memberi petunjuk mengenai berbagai cara dalam menemukan spiritualitas diri manusia.  Yang mana pencarian bagi tiap manusia bersifat unik dan tidak dapat distandarkan, seunik background, pengalaman dan keputusan dari tiap-tiap manusia itu sendiri.
 
Bagi aku yang muslim tulisan-tulisannya telah menjadi pelengkap, atau jembatan bagiku untuk lebih memahami isi Al Quran, subhanallah.  Namun aku khawatir, bagi yang belum mengetahui isi Al-Quran,  kitab petunjuk dari Allah bagi manusia yang diyakini oleh muslim, buku-buku Coelho hanya menjadi jembatan ke tujuan yang hampa. 

Mungkin juga ini hanya kekhawatiranku saja, berhubung aku masih dalam mode pembelajaran terus menerus.  Dan hanya Allah yang paling mengetahui segala sesuatu.

berangkat ke mesjidPuji syukurku padaMu ya Allah, kau telah memberi banyak petunjuk yang terserak di sepanjang perjalanan hidupku.  Makin banyak yang kukumpulkan, semakin yakin aku melangkah di jalanMu. 

Aku tidak akan pernah merasa kosong, tidak akan pernah merasa sendiri, tidak akan pernah merasa ditinggalkan, selama aku menuruti perintahMu.   

Semoga Kau izinkan aku untuk berharap hanya padaMu…

Marhaban ya Ramadhan, terharu adalah aku ketika kembali akan memasuki bulan bercinta dengan-Mu…  Semua rasa menjadi intens dan tak tertanggungkan sehingga luber airmataku, setiap kali mengingatMu.  Allah, Allah, Allah… aku cinta padaMu.

Iklan

10 pemikiran pada “Jembatan Menuju ke Sana

  1. aku bisa membayangkan perempuan ini berzikir saat memandikan anaknya, sambil memotong sayur dan sambil membuat teh untuk suaminya

    ya Rabb, hanya kuasaMU yang memungkinkan hati lemah seorang hamba mampu mengingatMU setiap waktu..

    1. Kalo aku memang ngoleksi bukunya … entertaining, educating, spirit searching. Tapi tetep harus berpegang teguh pada sunah rosul biar ga keblinger kayak pemeran cerita Witch of Portobello

  2. satu kelemahanku sekarang adalah cepet sekali nangkep apa saja yang kubaca, namun tidak ada sehari langsung lupa lagi. apakah pengindeksan memoriku yang acakadut atau bagaimana.
    termasuk jika membaca karya filsuf yang sangat kena nalarnya di kehidupan ini. selalu manggut-manggut tetapi tidak ada efek langsung dalam perjalanan hidup.
    pernah baca di paulo tapi bener2 blank, isinya yang tentang apa yaaa… 😐

    1. Katanya, kalo begitu kejadiannya mungkin sebenarnya jauh di bawah sadarmu, dirimu tidak tertarik dengan tema yang diulas Coelho di buku-bukunya. Jadinya gampang lupa lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s