Pengadilan2Dalam suatu sidang, tentunya ada panel hakim, saksi dan Tergugat.  Dalam sidang keluargaku pihak Penggugat tidak diharuskan ada tersendiri, karena panel hakim bisa merangkap Penggugat.  Dan Tergugat, bisa jadi merangkap Korbannya.

Aku sendiri pernah mengalami duduk di bangku Tergugat >) 

Ketika pada suatu waktu dalam hidupku aku harus menjawab dan berargumentasi mengenai pria yang menjadi pilihan untuk menjadi calon suami.

Pengalaman itu sangat emosional, karena masalah yang dibahas menyangkut kondisi bathin.  Sebagian karena aku memang menyimpang dari prinsip keluarga, dan sebagian lagi karena aku mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem hubungan kasih sayang di antara anggota komunitas keluarga besarku 😦  

Ya,  itu suatu kenyataan yang kami hadapi.   Yang menurutku tidak ada gunanya bila ditutup-tutupi dan dibiarkan.  Pilihan yang lebih baik adalah diungkapkan dan ditindaklanjuti.

Bagaimanapun, ketika seorang anggota keluarga menyimpang dari prinsip keluarga dalam membuat suatu keputusan bagi masa depannya, maka hal ini selamanya akan menjadi masalah.  Sidang keluarga merupakan salah satu proses yang rawan dalam mekanisme pertahanan dalam komunitas. 
Selepas sidang, selalu saja ada emosi-emosi negatif yang mengambang,  terutama dari sisi Tergugat.  Karena keputusan mengenai masa depan yang dipermasalahkan  merupakan keputusan pribadi yang akan dihadapi oleh si Tergugat sendiri, dan keluarga besar dianggap mencampuri urusan masa depannya sehingga semua hal yang telah direncanakan *maupun belum* buyar semua.  Tak ada yang dapat menyangkal, perubahan mendadak selalu berdampak.  Dalam hal ini, yang ada biasanya berbentuk kekecewaan.   

Menurut pengalamanku, biasanya yang duduk di kursi Tergugat adalah anggota keluarga yang sedang dalam tahap mandiri awal atau pra-mandiri, yang dalam usianya biasanya selalu optimis dalam memandang masa depan, sehingga tidak banyak memperhitungkan munculnya saat-saat sulit dalam tahapan menjalaninya.  Para tetua, sudah tertentu merupakan anggota keluarga yang sudah mengalami naik turun roda kehidupan, dan sidang keluarga merupakan mekanisme penyaluran informasi mengenai pengetahuan yang mereka dapatkan dari pengalaman.  Tergugat akan diminta dengan sangat untuk mengadopsi pengetahuan itu. 

Namun, bagi Tergugat, itu masihlah sebatas informasi, pengetahuan, teori, yang belum tentu akan terjadi padanya bila dihadapi dengan caranya sendiri.  Ketidaksepakatan inilah yang memunculkan emosi negatif selepas sidang.  

Pada kasusku dulu, aku memutuskan untuk pasrah pada perintah orang tua dan menyingkirkan semua impian dan angan-angan yang telah kurancang-rancang.    Namun ternyata, keputusan itulah yang membawa keberkahan pada kehidupanku selanjutnya.  Bagaimana mungkin aku tak yakin pada pepatah, bahwa ‘ridho Allah terletak pada ridho orang tua’.

Sekarang aku sudah masuk dalam golongan Tetua.

Namun sidang keluarga bagiku tetap merupakan upaya reaktif dan kuratif,  dan belum menunjukkan adanya kualitas dalam hubungan keluarga. 

Sebagai anak tertua dari anak tertua dari nenek yang juga anak tertua dari buyutku, aku sadar ini merupakan tanggung jawabku untuk memperbaiki sistem.  Bagaimana pun juga, yang lebih baik dari tindakan kuratif adalah tindakan preventif, sebelum luka emosi itu muncul, menganga dan meluas.

Hubungan keluarga yang berkualitas hanya bisa didapat dari aliran kasih sayang yang tak tersendat, menyampaikan prinsip yang dianut keluarga besar *yang sudah teruji mempertahankan ketenangan hidup* dengan cara yang lembut agar semua satu persepsi,  yang melakukan pertemuan semata untuk melepas rindu dan menyampaikan kabar baik, dan mendiskusikan masalah dengan mengedepankan akal sehat dan tuntunan Allah seluas-luasnya.
 
Apalagi, tantangan bagi generasi masa depan *anak-anak dari generasiku* kini merupakan sesuatu yang masih belum terlalu dikenali, dengan trendnya yang mendekati akhir dunia tentunya kami ingin keluarga dapat berkumpul kembali bersama-sama di kehidupan kekal nanti.

*Untuk sepupuku yang sedang menjadi Tergugat, kuatkan mentalmu ya Dik.  Hal ini memang terasa tidak adil bagimu, tapi percayalah tidak pernah ada niat yang buruk dari keluarga terhadapmu.  Kami mencintaimu…

This post ends here.

Iklan

2 pemikiran pada “Sidang Keluarga (2)

  1. beruntunglah suatu keluarga yang masih bisa mengandalkan anggota keluarga lain untuk ikut nimbrung dalam urusan hidupnya. barangkali kita akan berpikir sempit pada saat duduk sebagai tergugat, tetapi itu jauh lebih indah daripada budaya skeptis pada kehidupan keluarga sekarang.
    aku ingat pada saat ospek ada seorang yunior yang bengal dan tengil. melawan siapa saja, siapapun senior. akhirnya setelah semua senior menyerah, mereka hanya menyuruh si bengal untuk menyendiri, dijauhkan dari komunitas yunior lain. tidak dikasih tugas atau tanggung jawab apapun selama masih bengal. eh, hasilnya dia malah menangis sendiri.
    satu pembuktian bahwa sosialita masih lebih baik daripada berdiri sendiri, betapapun jahatnya sosialita itu.

    1. Aku sedih melihat sekeliling bila menemukan keluarga miskin dan atau bercerai-berai tak karuan, maksudku aku langsung mikir : ‘Dimana keluarganya yg lainnya berada? Mengapa tidak saling membantu?’

      Kehidupan di keluarga, berperan besar dalam menentukan baik buruk karakter kita, merupakan pondasi dari masa depan kita.
      Kala kita *memutuskan untuk* lepas ikatan dengan keluarga, maka kita akan kehilangan jati diri kita. Menurutku, itu adalah pangkal ketidakbahagiaan.
      Betul katamu Noe, kadang keluarga menjadi terasa tak adil. Tapi yang bijak pasti mengerti, bahwasanya ‘sayang’ tidak harus berarti ‘memanjakan’. Keluarga harus mau saling berkorban.

      Selamat menikmati indahnya berkeluarga besar Noe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s