gambar dari patentdocsdottypepaddotcom

Setiap organisme diberi kemampuan oleh Sang Khalik untuk melindungi diri sendiri dalam rangka melangsungkan kehidupannya.  Baik itu secara individual mapun berkelompok.

Keluarga besar sebagai suatu komunitas di tingkat dasar berdasarkan hubungan darah juga perkawinan, juga memiliki mekanisme survival.   Bila ada masalah muncul yang dianggap akan berpengaruh pada seluruh keluarga, maka seperti darah putih memerangkap kuman, demikian pula para tetua keluarga turun tangan menghadapinya bersama-sama.

Dari generasi ke generasi, menurut pengalamanku, bila seorang anggota keluarga muda telah mandiri dan membentuk keluarganya sendiri, maka biasanya pertemuan tidak bisa dilakukan seintens sebelumnya.    Kegiatan silaturahim menjadi sebentuk tantangan.  Baik itu tantangan waktu di antara berbagai kesibukan pribadi atau keluarga kecil, maupun tantangan jarak bila kebetulan tinggal di lain kota.    Biasanya,  bila ada suatu keperluan mendesak *jarang karena rindu*, barulah hubungan kembali dibuka dan dijalankan. 
Ngomong-ngomong, ini hal yang kurasakan di keluarga besarku dulu *tentunya sekarang sudah mulai berubah*,  belum tentu terjadi di keluarga lain.

Karena keluarga besar memiliki anggota yang menyebar jauh hingga mencapai setengah keliling planet bumi,  kabar antar keluarga sedang apa mereka, apakah sedang dalam keadaan sehat, atau sibuk, terbilang sangat jarang.  Sebelum ada facebook, tentunya.
Namun di zaman itu, para tetua keluargaku memiliki prinsip : bila tidak ada kabar, berarti kabar baik.

Yang tidak selamanya benar 😦  Bisa jadi penyebabnya adalah ada sesuatu yang ingin disembunyikan dari keluarga besar.  Bila yang terakhir ini yang terjadi, bahkan facebook pun tidak bisa membantu.

Dalam komunitas keluarga besar tentunya tidak setiap kabar dapat disebarluaskan pada seluruh anggota. 

Kadang-kadang ada yang harus masuk kotak rahasia dan tidak diungkap pada anggota yang masih belum cukup dewasa untuk bisa mengerti duduk persoalan.  Anggota yang sudah dewasa dan bisa mengerti sudah bisa digolongkan sebagai tetua. 
 
Dan untuk kasus seperti itu, para tetua *yang peduli tentu*, diajak berkumpul untuk membicarakan sikap umum keluarga terhadap masalah tersebut.  Kadang-kadang juga dihasilkan rekomendasi jalan keluar yang menjadi  hasil kesepakatan para tetua, sebagai pilar penjaga kelangsungan kehidupan *dan ketenangan* keluarga.

Dari tahun ke tahun, selalu saja ada issu yang perlu dibicarakan.  Mungkin sudah dapat diperkirakan, apa saja yang biasanya menjadi masalah dalam keluarga.  Bila tidak terkait kondisi ekonomi, biasanya juga disebabkan oleh terdeteksinya suatu hubungan seorang anggota keluarga dengan ‘orang luar’ yang tidak disetujui keluarga. 

Masalah terakhir inilah yang dalam beberapa tahun terakhir ini membuat para tetuaku beberapa kali berkumpul dan bersidang.

(karena tulisannya panjang… to be continued ya)

Iklan

Satu pemikiran pada “Sidang Keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s