Hehehehe….

Akhirnya sempat juga memencet-mencet tuts keyboard komputer ini, setelah upaya pengambilalihan dari tangan anak-anak nyaris gagal.  Baru sempat setelah mereka terkapar kelelahan di tempat tidur.  Heran, main kok diforsir sih. 

Sebelum ceritanya menjadi basi, aku akan memaparkan sedikit tentang Pemalang.  Kota tempat Papahku dilahirkan dan dibesarkan.

Kota ini terletak antara Tegal dan Pekalongan.  Jadi kalau menyusuri Pantura dari arah barat menuju Semarang, sudah pasti kota kecil ini terlewati dengan sukses.  Selain letaknya yang berada di tepi pantai, tidak banyak yang kuketahui tentang kota ini.  Kami sekeluarga terbilang sangat jarang mudik ke tempat mbah *sebutan bagi ibunya Papah*.  Karena dulu sewaktu Mbah masih kuat, selalu Mbah yang mengunjungi kami.  Setelah mbah mengaku sudah tidak kuat lagi, kami yang gantian mendatangi beliau.   

Kali ini kami sudah terdiri dari : Papah, Mamah, keluargaku dan keluarga ketiga adikku.   Lengkap dengan anak-anaknya.  Bagi anak-anak kami, ini adalah kali pertama mereka mengunjungi buyutnya yang di Pemalang.

Mengingat keadaan kota Pemalang seperti yang kulihat tujuh tahun lalu, aku paham mengapa Mbah selalu ingin jalan-jalan keluar kota. 

Hehe… no offense 😛

Tapi ketika kami kembali minggu lalu, pencitraan kota ini sudah berubah sedikit di mataku.  Sepertinya, bukan karena kotanya yang berubah.  Tapi aku yang mulai berubah 🙂 

Dulu, setiap aku mengobrol dengan saudara-saudara dari pihak Papah, aku selalu mendapat kesan bahwa Pemalang adalah kota mati yang baru hidup ketika musim Lebaran tiba.  Populasinya yang berusia produktif lebih banyak merantau ke luar kota.  Seperti Papah.  Yang tersisa, bila tidak menjadi nelayan, ya berdagang atau jadi penjahit.

Namun sekarang mereka sudah punya Mall 😉

Pemalang1

Mall yang unik, dan aku sih hanya bisa menebak bahwa yang punya mall ini orang Jepang. 

Jadi ‘mall’ dieja ‘Moro’.  Hehe. Gak lucu.

Jangan sedih ya, kalo melihat Moro ini hanya seluas minimart di Jakarta.  

Not bad for a start, right?   At least they dare putting on a big adboard on the street.

 

 

 

Yang paling aku suka dari kota ini : hampir seluruh rakyat Pemalang3kebanyakan memiliki alat transportasi pribadi.   Bayangkan, bahkan hampir setiap anak-anak dan remaja, sudah memiliki.    Bukan untuk gaya-gayaan,  terbukti dari utilitasnya yang sangat tinggi : ke pasar, ke sekolah, bahkan untuk nongkrong di alun-alun kota pada Malam Minggu.

Kalau orang Jakarta baru bicara Gerakan Bike To Work, Bike to Pemalang6School dan Bike to Eat,  ternyata orang Pemalang sudah mendahului.  Sejak sepeda mulai masuk negara Indonesia di tahun 60-an mungkin.

Hidup wong Pemalang!  😀

Hihihi…  tapi suasana yang sama juga kutemui di kota-kota kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian utara kok, yang kontur kotanya kebanyakan dataran,  tidak berbukit-bukit  😀 

Supaya tidak merepotkan Mbah dan keluarga di sana, kami menginap di suatu tempat di jalan Urip Sumohardjo.  Tempatnya bernama RM Segoro, rumah makan khusus seafood tapi menyediakan penginapan juga.  Kamarnya bersih, luas dan berAC.   Oh ya, aku menyebutkan AC karena kamar berAC cukup penting untuk didapat di kota yang gerah ini.    Seafoodnya juga enak 🙂  apalagi dimasak segera setelah baru saja dibeli dari tempat pelelangan ikan di pantai Tanjungsari.  Nyamm nyamm….

Pemalang7Tiga hari di Pemalang, hanya cukup waktu untuk mengobrol dengan Saudara-saudara yang kami kunjungi beramai-ramai, mengunjungi makam mbah laki-laki, ke Pantai Widuri (ada waterpark baru di sana, tapi tidak kami kunjungi) dan melihat suasana malam minggu di alun-alun kota, satu-satunya tempat nongkrong anak-anak muda Pemalang hingga larut malam. 

IMG_2397Pantai-pantai di sepanjang kota Pemalang rata-rata sudah mengalami abrasi. Di Tanjungsari bahkan sudah mencapai jalan aspal.  Yang membuat aku khawatir, tidak ada tanaman bakau ditanam di sana.  Tanaman ini bisa mencegah abrasi pantai maupun memecah gelombang tinggi yang datang dari laut Jawa.   Rumah penduduk hanya beberapa meter lagi sudah bisa terjilat ombak  dari pantai.

 To make long story short, akhir kata hanya cerita ini yang dapat kubagikan untuk semua dari perjalanan mudik kami ke Pemalang.

Tadinya aku mau belikan apa yang ditawarkan oleh salah satu iklan yang dipajang di dinding rumah makan tempat kami menginap.

Pemalang4

Hanya kurasa tak akan banyak yang menyambutnya 😛  walaupun kualitasnya dijamin prima.

Iklan

10 pemikiran pada “Cultural Learning of Pemalang City for make Benefit Glorious Nation of Indonesia

  1. kenapa ndak bilang kalo maen ke pemalang. kan diriku dekat dgn kota ini, sekitar 1 jam-an.
    lumayan kan bisa kopdar bilateral 😀
    ga mampir ke water boom, d? kan masih baru di sana. baru genap 2 bulan.

    1. Hihihi… akhir-akhir ini aku senang melakukan perjalanan bersama keluarga tanpa gembar-gembor di facebook atau di mana-mana. Rasanya lebih khidmat, begitulah 😛 Apa hubungannya ya hehe..
      Waterboom… ahh… terlalu sering mendatangi waterboom di daerah Jabode, bosan rasanya. Lebih suka yang alami dan nggak bayar hehe…. *ketahuan deh*

      Rencana hari kedua main ke Pekalongan hunting batik batal karena tidak ada guide yang handal, mengingat waktu yang sempit melarang kita untuk nyasar ke mana-mana. Lain waktu akan kuberitahu, InsyaAllah 🙂 Dengan catatan disetujui si Ayah hehe…. 😛

  2. Dari cerita yang cukup panjang, kok gak ada cerita makan “grombyang” khas pemalang, di tempat Haji Warso, letaknya dari alun-alun ke utara dikit, tempat ini pernah dikunjung Om Bondan yang suka Makyuuss itu.

    Wah senang yah bisa nengok kampung yang kini jauh di mato.

    Pulang minta istri masak grombyang ahh…

    1. Haha.. Nasi Grombyang. Tadinya sudah masuk jadwal, tapi jamuan dari ke Sodara-sodara yg kita kunjungi *sekampung Kebon Dalem sodara semua kalik hihi* bikin perut kita penuh duluan. Tapi thanks info wiskulnya. Kunjungan berikut akan kupastikan nyicipi kuliner khas Pemalang itu.

  3. Jangan lupa juga bakso pak Min, dari moro keselatan dikit. Nasi Rames Mahraj deket pasar pagi.

    Saudara Mbak D di kebondalem yah? waktu smp aku juga tinggal di bulikku di kebondalem, dari Masjid Agung ke barat dikit.

    1. Walah… emang kalo diselidiki kita semua itu ternyata bersaudara yah.. senengnyaaa… >)
      Baik siap dicatat… berikutnya baso pak Min.

  4. Wong pemalang kurang afdol,kalo pulang kampung gak makan nasi
    Grombyang pak Warso,ato grombyang yang makanya gelap gelapan,haaaa,haaaa.
    eh,ada orang kaligelang apa gak yah,selain orang kebondalem ?

    1. Hehe.. Berhubung yg wong Pemalang asli bapakku dan aku dibesarkan di Bogor, aku ga punya hubungan batin ama nasi Grombyang.
      Lagian, makannya pake berisik nggak? *curiga dari namanya*

  5. Wah.. Ak lg nulis skripsi ttg kuda lumping khas PML. Berhub kurang data.. Ak search google.. Tryt mlh ktmu tulisan kmu. Jd lupa kjain skripsi malah asik baca coretan2 kmu. Sbg warga PML ak bangga ttg kpdulian kmu thd PML. Wlo blm cbain waterpark nya widuri. He3..

    1. Era, mengenai kuda lumping Pemalang terus terang aku baru dengar tuh. Moga2 skripsinya cepet jadi yah, jangan lupa dipublikasikan.
      Trims sudah mau baca2 coretan2 isengku di sini 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s