Aku pernah berpikir begini : bila saja aku insomniac, melakukan aktivitas yang kuanggap mewah saat ini akan lebih mudah : sholat tahajud, menulis di keheningan, mencari inspirasi dalam kesendirian, membangun komunikasi dengan Rabb-ku.

Namun ada keraguan dalam hati apakah itu semua bisa terwujud bila aku insomniac,  karena tidur adalah sunatullah yang ditujukan bagi kemaslahatan manusia itu sendiri.

Benar semua orang memiliki waktu yang sama 24 jam setiap hari, namun seorang yang sehat menurut paradigma kesehatan modern butuh waktu untuk tidur setidaknya 5-8 jam setiap harinya. Itu berarti pengurangan waktu untuk beraktivitas.

Seorang sahabatku adalah seorang insomniac.   Aku iri padanya: dia punya waktu untuk melakukan segala aktivitas : mengerjakan semua proyek-proyeknya, mencari hiburan, lalu masih pula punya waktu untuk belajar di malam hari,   Sahabatku hanya memerlukan 1-2 jam setiap harinya untuk merebahkan badan, bahkan pernah 4 hari berturut-turut tanpa tidur sama sekali. 

Sayangnya, pada jangka waktu yang lama setelah dia memiliki kebiasaan tidak tidur itu, dia terkena penyakit syaraf yang dinamakan Parkinsons Disease.

Jadi rupanya insomniac bukan jawaban agar aku bisa mempunyai waktu untuk melakukan segala yang kumau.   😦

Aku harus melupakan keinginan menjadi insomniac 😦

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, ingat ?

Adab tidur Rasulullah menganjurkan agar kita tidur selepas sholat isya dan bangun kembali pada sepertiga malam yang terakhir untuk menjumpai Rabb yang sedang turun ke langit dunia. 

Bila keyakinan kita kuat atas juklak tidur dari Rasulullah ini, insyaAllah kita akan memiliki waktu untuk segala yang dibutuhkan manusia :  tidur dalam rangka mengistirahatkan badan, membaca dalam rangka belajar dan juga tahajud dalam rangka bersyukur atas segala limpahan rahmat-Nya.

Tinggal kuat-kuatan dengan godaan setan untuk menurutkan kantuk.

Tapi aku punya tips untuk mengalahkan godaan itu.  Kebetulan seseorang mengirimkan email yang sangat bagus menurutku untuk diingat-ingat.  Isinya mengenai beberapa jenis penyesalan yang akan dialami manusia akibat kelalaiannya selama hidup di dunia:

1.  Penyesalan saat sakaratul maut (Q 63: 9-10)

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
 Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu;
lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat,
yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”

2.  Penyesalan di alam Barzah (Q 23 : 99-100)

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:
“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).  
Maksudnya: orang-orang kafir di waktu menghadapi sakratul maut, minta supaya diperpanjang umur mereka,
agar mereka dapat beriman. 
 Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya
 saja.  Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan. 
 

Maksudnya: mereka sekarang telah menghadapi suatu kehidupan baru, yaitu kehidupan dalam kubur, yang membatasi antara dunia dan akhirat.

3.  Penyesalan di Yaumul hisab ( Q.32:11 )

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata):
“Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh,
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

4.  Penyesalan pada saat di Neraka ( Q.35:37 )

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan
dengan yang telah kami kerjakan”.
Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak)
datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Ya Allah, aku adalah orang yang bodoh dan sering khilaf,  tetapkanlah hatiku untuk selalu di jalanMu…

Iklan

2 pemikiran pada “Menjadi Insomniac bukan jawaban

  1. thanks, d.
    tulisannya mencerahkan.
    untuk imsomniak itu ga bisa dihubungkan dengan tahajud karena tahajud harus dilakukan setelah bangun tidur. mungkin lebih sholat hajad atau lainnya.

    aku juga menangkap keinginan ini mengesampingkan segala urusan yang bersinggungan pribadi kita, apakah itu keluarga, suami, anak, pekerjaan, tetangga sebelah, dll. aku menangkap bahwa apapun yang ingin kamu lakukan, dan parameternya terpenuhi, kamu bisa lakukan itu. tinggal menjustifikasikan alasan yg kuat kepada lingkunganmu.
    ini bikin aku merasa iri.

    1. Eh iya ding, kalo tahajud memang harus tidur dulu, makanya tantangannya jadi lebih berat ya 🙂
      Maklum seorang ibu yang juga berkarir lebih besar tantangannya untuk mencari waktu untuk sendiri. Ada perasaan guilty bila mengabaikan tanggung jawab utama sebagai ibu dan istri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s