myself-the-enemyHingga kini, selama aku hidup di dunia, belum pernah sekali pun aku menemukan orang yang benar-benar antagonis. 

Antagonis dalam arti sifatnya benar-benar menyebalkan, dari segala sisi.  Selalu aku melihat bahwa setiap orang ada sisi baiknya, di samping sisi buruknya.  Bahkan waktu aku punya ‘musuh’ di masa kecil pun, tidak pernah aku benar-benar melihat bahwa temanku tersebut benar-benar seperti setan kelakuannya.   Di masa dewasa, kami malah bisa menjadi sahabat yang terbaik, justru karena sering bertengkar dulunya.

Aku pernah punya bos, yang dianggap selalu memperlambat penyelesaian pekerjaan yang dihasilkan bawahannya dengan cara menyuruh mereka memeriksa  lagi, mengklarifikasi lagi, mengembalikan lagi karena takut dengan resiko yang bakal muncul, hingga akhirnya pekerjaan itu melewati momentum deadlinenya.   Orang-orang mencapnya ‘safety player’, dan performansinya juga biasa-biasa saja, tidak pernah menghasilkan sesuatu yang berprestasi.  Dan terlanjur mendapat cap itu, si bos malah menjadi-jadi karena diangkat kedudukannya menjadi pejabat kesayangan mitra perusahaan yang sebenarnya menjadi benalu perusahaan waktu itu. 

Waktu aku menikah, aku memutuskan untuk tidak mengundangnya karena aku merasa dia tidak pantas datang ke acaraku.  Singkatnya, aku sebal padanya.  Tapi ketika orang-orang menegurku karena tidak mengundangnya, aku jadi menyesal juga, entah kenapa.  Hukuman pengucilan dari bawahan mungkin tidak sebanding dengan  apa yang telah diperbuatnya.  Tidak diundang oleh atasan, mungkin hanya bisa ngedumel dalam hati, tapi oleh bawahan?  Ini menginjak-injak harga diri namanya.  Dan itulah yang aku lakukan ketika aku sudah tidak respek pada seseorang.  Semata menunjukkan bahwa dia sudah tidak berharga apapun buat aku.  Tapi benarkah tindakanku?  Karena aku sendiri masih ragu-ragu sampai sekarang.    Untung saja masih ada waktu untuk meminta maaf.  Dan itu sudah kulakukan setelah aku bisa bersikap lebih dewasa, dan setelah dia tidak menjadi bosku lagi 😛  Rupanya aku terlalu kekanak-kanakan waktu itu, dan malah jadi pihak yang bersikap antagonis.

Aku juga pernah punya bos yang dianggap para bawahannya sudah tidak memiliki citra pemimpin dan pengarah lagi.  Setiap hari selalu saja ada bawahan yang menumpahkan keluhannya ke telingaku tentang pekerjaannya yang penuh tekanan tapi tidak mendapat bantuan arahan apapun darinya.  Termasuk aku juga sebenarnya, yang dilepas begitu saja seperti anak ayam tak punya induk. 

Gayanya memimpin unit kerja kami bak kepala geng.  Bagi siapa saja yang menjadi anggota gengnya, mendapat perhatian dan pengarahan maksimal.  Bahkan mendapat perlindungan bila membuat kesalahan.  Bagi yang di luar lingkaran, silakan bekerja sendiri sesuai aturan perusahaan.  Bila kami berprestasi namanya bisa ikut terangkat, atau bila kami membuat kesalahan, setidaknya dia bisa cuci tangan.

Tapi ketika mendengar berita beliau sakit,  kami  tak dapat menahan sedih juga.  Selama ini kami sering membicarakan kesalahannya di mata kami, namun kami juga jarang berintrospeksi apa yang sebenarnya tidak kami lakukan dan menjadikannya bersikap begitu.  Setidaknya sebagai anggota, kami juga punya andil atas ketidaksolidan tim kerja unit kami.  

Manusia selalu memiliki dimensi-dimensi yang tidak terduga.

Iklan

2 pemikiran pada “Jadi siapa yang antagonis?

  1. sekarang aku tau kenapa dirimu galak sekali. demi pencarianmu terhadap tokoh antagonis, kan 😛
    hehe…
    ada hitam ada putih. gelap-terang, tinggi-rendah, baik-buruk, yin-yang.
    selalu begitu.
    terkadang mata hati kita kecewa oleh tertutupnya satu sifat baik yg kita harapkan dari orang tertentu, terlalu lama malahan, sehingga kita tidak sadar bahwa masih ada sifat baik lainnya yang pintunya terbuka di dalam diri orang itu.
    dan kesadaran itu biasanya datang terlambat.
    btw, merit kaga ngundang bos???
    saat itu dirimu masih seperti yg dulu berarti.
    hwakakaka…

  2. Iya, Noe, aku emang keterlaluan ya.. Tapi aku belajar kok, sekarang udah jauuh lebih mending hihihi *maunya :P*
    Dan sudah bisa berkaca, ternyata kasus itu bisa saja menimpa diri kita sendiri.. Menjadi tokoh yg disebelin 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s