Perhatian.  Ini bukan pertanyaanku pribadi, walaupun memang my butt keliatan fat *hahah ga penting banget :P*  Ini adalah judul sebuah buku.  Tapi juga bukan buku diet ataupun buku tentang olahraga yang bikin langsing.

clutter_butt_fatPertama aku dengar judul buku ini di Oprah, aku jadi penasaran apa isinya.   Karena kelihatannya tidak ada hubungannya sama sekali antara ‘clutter‘ atau keberantakan dengan ‘butt‘ (yang ini aku yakin semua sudah tahu artinya hehe).  Tapi Peter Walsh, pengarang buku ini, bisa menjelaskan hubungannya dengan sangat jelas sampai aku termangu-mangu.

“Menjadi gendut lebih gampang daripada bekerja, lebih gampang dari memelihara keluarga, lebih gampang daripada nyari duit, dan pasti lebih gampang daripada bangun berdiri dan mematikan TV,” kata Om Peter.

Peter percaya bahwa obsesi untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan secara cepat dan instan tidak saja membuat kita menjadi gendut, namun juga menciptakan harapan yang tidak realistis yang membawa kita berasumsi bahwa kita bisa memotong kelebihan berat badan secepat para selebritis, dengan upaya yang nyaris nihil.

Walsh menemukan dua faktor kunci yang menghubungkan isi rumah yang terlalu penuh barang-barang (dan berantakan) dengan perkembangan lingkar pinggang para penghuninya.

Pertama, berantakan tidak hanya berarti kebanyakan barang, tapi lebih dalam dari itu.  Perlu dipertanyakan, kenapa ada sangat banyak barang, yang mungkin lebih banyak dari yang sebenarnya kita perlukan/gunakan sehari-hari.  Apakah itu karena takut kehilangan kenang-kenangan? Ketakutan akan masa depan? kepercayaan diri yang rendah, atau ketidakmampuan melupakan penderitaan masa lalu? 

Sampai di sini aku jadi ingat nenek, yang rumahnya dulu sangat penuh barang yang sudah tidak pernah dipergunakan lagi.  Nenek selalu melarang bila ada wadah-wadah plastik atau kardus yang masih bagus dibuang.  Atau peralatan yang sudah rusak dan telah diganti, harus disimpan di gudang atau lemari.  Yang akhirnya mengundang tikus beranak-pinak di situ.  Dan ketika nenek sudah terlalu tua untuk mengatur sendiri rumahnya, kami membereskan semuanya hingga rumah kembali bersih dan lega.   

Menurut penjelasan Mamah, dulu nenek hidup di zaman pengungsian, ketika barang-barang selalu ditinggal ketika mengungsi.  Sampai di sini, aku bisa langsung paham penjelasan Walsh.

Kedua, isi rumah adalah cerminan dari diri anda, penghuninya, tidak dalam pengertian yang abstrak loh, tapi dalam hal yang terlihat dan nyata.  Kata Walsh, bukan hal yang kebetulan kalau makin berantakan rumah,  makin gendut penghuninya.  Masuk akal kan, kalau dapur anda selalu bersih dan teratur, kulkas terisi dengan bahan makanan yang sudah direncanakan untuk keperluan selama periode tertentu (dan bukan dengan yang sudah kadaluwarsa)  maka penghuninya akan cenderung lebih suka memasak di rumah dan memikirkan serius nutrisi apa yang dimasukkan ke tubuhnya.

Walsh percaya bahwa seseorang bisa memutus lingkaran setan rumah berantakan dengan pertambahan kadar lemak badan, dengan cara dia perlu jujur dengan diri sendiri dan memulai kebiasaan yang baru yang lebih bersih dan lebih sehat.

Ada loh, yang ngumpulin barang-barang peralatan bikin kue atau bikin pesta, padahal dia hanya menyimpannya di lemari.   Atau menyimpan banyak buku di rak, yang gak pernah sempet dibaca. Kalo dibuang, pasti sayang.  Menurut Walsh, ini adalah ilusi kebahagiaan yang tidak nyata.  Kesenangan didapat sesaat pada waktu melakukan pembelian barang-barang itu, setelah itu, hampa lagi.  Ini yang dimaksud tidak jujur dengan diri sendiri.

Saran Peter, mulai dengan menetapkan target yang realistis.  Hiduplah secara lebih teratur.  Rencanakan menu makanan anda, jadwalkan waktu untuk olah raga, dan ciptakan dapur yang menginspirasi anda  untuk memasak dan menjadi sehat.  Dan yang penting,  jangan melupakan tujuan melakukan semua ini!

Hmmmm…  bagaimana dengan isi rumahku?  Rasanya sih  sudah teratur, tinggal buangin  botol-botol minyak zaitun bekas… Abis bagus-bagus sih… hihihi  Mending kan daripada ngoleksi botol brandy😛

Dan mainan anak-anak tidak mungkin dibuang… mereka masih suka nyariin, walau setelahnya ditaro di mana-mana.. huh… Aku curiga mereka memang sengaja, biar bubunya bisa olah raga terus, ngumpulin semua mainan itu….!  :P

4 pemikiran pada “Does this Clutter make my Butt look Fat?

  1. Hmm hmm… Peter Walsh bilang, kalo suasana rumah dan dapur berantakan, orang cenderung nyari makan di luar…
    Makanan restoran yg murah kan cuman fast food/junk food…… ujung-ujungnya jadi kebanyakan makan junk food deh.

  2. Welcome welcome😀 akhirnya kembali blogwalking juga😀

    Iya nih Kang Firman, sebenernya agak dengan berat hati aku harus mengakui, kalo FB biar sedikit ada gunanya, dengan catatan! Tidak digunakan berlebihan.
    Kayaknya aku udah kecanduan kemaren, jadi memutuskan off dulu sampe bisa belajar mengendalikan diri.
    Sebenernya untuk nyimpen foto2 yg diambil pake kamera BB ku sih.. Yg blom kukasih storage card xixixi keluar deh trufnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s