Bila ada yang kupelajari dari peran sebagai seorang ibu,  adalah kemampuan untuk fleksibel bermain peran:  mesra, galak, protagonis, antagonis.    Di mata anak-anak tentunya.   Ketika anak-anak menggambari dinding, atau membuat sendiri air dingin di kulkas untuk diminum (pantang untuk keluarga asthmatis seperti kami), atau bermain-main dengan air di dalam rumah, selalu aku dihadapkan pada dilema :   harus menghargai kreatifitas mereka atau harus melarang demi kebaikan (yang pasti akan mendapat tentangan, sehingga menuntutku untuk menjadi galak!).  

Kadang aku harus memilih, kadang harus mengambil jalan tengah.

Semuanya dilakukan atas nama cinta, tak lain.  

Karena batas-batas mana yang boleh mana yang tidak, demi kebaikan, itu tak terhindarkan.    Yah, menurutku.  Menurut aku yang bodoh ini.  Dari mata anak-anak, atau orang-orang yang lebih luas wawasannya dari aku, mungkin akan bilang :   ketika aku menetapkan larangan, maka otomatis aku merusak daya kreatifitas anak, akan merusak masa depannya, merusak cara berpikirnya dan lain sebagainya.

Mungkin benar.  Tapi aku termasuk  yang percaya kalau manusia memerlukan batas-batas yang harus dipatuhinya agar dia menjadi selamat, sehat, aman, di dunia dan di akhirat. 

Apalagi definisi kreatif hanya valid bila terjadi dalam keterbatasan, bukan keserbabisaan dan keserbabolehan, bukan? 

 

Sebagai ibu, aku satu langkah di depan anak-anakku.  

Dalam arti, aku memiliki pengetahuan bagaimana rasanya menjadi anak-anak, dan pengetahuan itu kumanfaatkan  untuk menyelami mereka.  Dan aku harus mencari pengetahuan mengenai bagaimana cara menjadi contoh yang baik bagi mereka.  Dalam banyak hal, alih-alih mengajari mereka, aku malah mengajari diriku sendiri.

Aku pernah juga bandel, menentang, melanggar, karena aku selalu punya pikiran sendiri.   Namun sekarang, aku dapat melihat, bahwa setiap larangan orang tuaku berasal dari pengetahuan mereka mengenai akibat apa yang akan aku dapatkan dari segala hal yang aku lakukan di masa pertumbuhanku dulu.

Mungkin aku hanya orang yang beruntung memiliki orang tua yang bijak.  Dan aku akan maklum bagi yang tidak seberuntung aku, yang kemungkinan besar tidak setuju dengan pernyataanku di atas.  

Pengetahuan tentang kejiwaan anak-anak ini membuat aku menjadi maklum mengenai setiap kesalahan yang mereka lakukan dan bagaimana menyikapinya.  Pastinya, semuanya berdasar kasih sayang.  

Semua ini membawa aku berhati-hati pada segala macam informasi yang diserap indera dari dunia ini.  Semuanya tetap harus melewati filter, yang kuyakini valid, menjadi batasan-batasan agar hidupku dan keluargaku aman, selamat, sehat, di dunia dan di akhirat.

Tidak serta merta atas nama ‘open mind’, yang sangat menggoda gengsi itu, aku lantas harus merasa berkewajiban meresapi setiap dakwah arus modernisasi.  

Sebagai muslim, ada batasan-batasan yang diulurkan sebagai tali-Nya agar tidak terombang-ambing.   Aku ingin berpegang erat padanya sebisa mungkin.

Ini jawabanku mengenai banyak permasalahan masa kini.

Iklan

6 pemikiran pada “Open mind (?)

  1. Hiya pak Narno, lama-lama saya suka ngerasa kayak jadi aktris teater. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, dunia ini memang panggung sandiwara ya pak..

  2. bukan nya kamu emang aktris nya ‘teater koma’, D ? bisa sukses maen disegala peran.. anak2 emang menggemaskan ya D, aku sendiri terkadang banyak jg belajar dari mereka..

  3. Ternyata selain expert, pak Marsudi juga low profile ya 😉
    Saya yakin bapak sudah tingkat advanced , lebih mahir daripada saya dalam menghadapi anak-anak dan anak didik (yang bejibun).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s