Baca cerita ini mulai dari sini lalu berlanjut ke sini.

 

Kembali pada Nur.  

Anak itu beberapa kali bolak-balik ketika aku tidak di rumah, kata teteh.  Waktu aku akhirnya bertemu dia, aku bilang padanya kalau aku ingin bertemu ibunya yang sudah menyuruh-nyuruh dia bolak-balik ke rumahku.   Aku ingin tahu seperti apa perempuan yang sudah tega menyuruh anak perempuan meminta-minta seperti ini.

 

Suatu hari, seorang perempuan benar-benar muncul di pintu depan.  

“Saya ibunya Nur,  Bu,” katanya.  

Dia masuk rumahku dan melihat-lihat isinya  (Oh bagus ya rumahnya, oh ini oh itu.  Aku mulai was-was.)  Kemudian dia memulai kisah penderitaannya bla bla bla.  Selama dia bercerita, aku fokus pada wajahnya, dan menyadari sesuatu yang rasanya seperti kilatan petir menyambar.  

Wajah perempuan itu!    

Dia mirip dengan Nur, tentu.   TAPI DIA JUGA SANGAT MIRIP DENGAN MBOK IYEM.

Kurang ajar.  Fakta kemiripan itu sangat sulit dibantah.   Dan fakta bahwa anak beranak itu sudah menceritakan banyak kisah sedih yang ujungnya memeras uangku atas nama belas kasihan beberapa bulan ini.  Dan betapa cerita mereka berdua banyak yang tidak cocok.

Langsung aku tembak sebelum dia menyelesaikan kisah suaminya yang sedang terkapar sakit di rumah (padahal cerita Nur, bapaknya sudah setahun lebih tidak pulang-pulang).

“Mbak ini kenal dengan mbok Iyem? Tukang pijat keliling?”

Dia agak kaget, tapi menggeleng.

“Masa tidak kenal, dia ibunya mbak kan? Neneknya Nur?”

Dia menjawab pertanyaan itu dengan bercerita soal ibunya yang sudah meninggal terkena kanker payudara.  OH…. CUKUP!!!  Kepalaku yang baru pulih dari gegar otak mulai nyut-nyutan lagi, membuatku ingin berteriak mengusirnya.

Bila ceritanya bohong, aku harus menghentikannya bercerita demikian mengenai ibunya yang suka bolak-balik di perumahan ini.  Bila benar pun, aku sudah tidak tahan dengan gayanya meminta-minta dengan menebarkan banyak cerita sedih seperti itu, sedangkan dia sendiri kelihatan gemuk dan sehat.

Aku keluarkan dus blender yang dulu dibawa Nur (yang tidak pernah kubuka setelah barang itu masuk rumahku).  

“Ini… ini blender ibu.  Saya tidak bisa memberi uang lagi, tapi silakan bawa saja blender ini pulang, untuk mulai usaha atau apa saja.   DAN TIDAK USAH KEMARI LAGI.  Tolong bilang juga sama anak ibu.”

Aku yang tak tahan lagi, melanjutkan dengan kalimat ini : “Maaf saya harus berkata begini. Saya, juga pernah miskin seperti ibu. Tapi saya berusaha mencari uang dengan BEKERJA untuk bisa menjadi seperti sekarang!”

Semenjak itu anak beranak itu tidak pernah berani memunculkan wajah mereka di depan rumahku lagi. Aku dan suami pernah berpapasan di jalan dengan mbok Iyem, tapi perempuan itu pura2 tidak melihat kami.

Aku sudah bilang sebelumnya pada anak itu, bila perlu apa-apa supaya datang ke mesjid, karena sumbangan pada kaum dhuafa sudah dikoordinir warga di sana.   Mestinya aku sudah bisa melepaskan perasaan bersalah pada anak beranak ini.

 

Hmmm…. 

 

Aku sangat menghormati perjuangan manusia untuk hidup.  Tapi yang berjuang secara halal. Bukan dengan cara yang merugikan orang lain seperti menipu, mencuri, melacur, mencopet, merampok, membunuh.

Aku yakin akan banyak yang setuju.  Apalagi bila pernah menjadi korbannya.  

Dan jangan lupa,   Ali bin Abi Thalib as pernah berkata bahwa  kezaliman bisa terjadi karena ada ‘kerjasama’ antara yang menzalimi dan yang dizalimi. 

 

End of story.

Iklan

20 pemikiran pada “Survival Story Part V

  1. Satu hal yang patut disyukuri, Allah (masih) selalu saja memberi pertolongan. Menghindarkan diri & keluarga D dari hal-hal yang jauh lebih buruk dari itu. Plus, hikmah dari setiap kejadian yang D alami. Pengalaman itu jauh lebih berharga dibanding sekedar mendengar atau membaca cerita. Semoga D ikhlas dengan itu semua.

  2. hidup D terlalu berwarna untuk menjadi biasa-biasa saja..
    maka dikirimkanNYA 3 orang itu menghias hidupmu
    agar semakin memahami, manakah survival sejati 😀

  3. Ati, ingat episode mbak Wati di asrama waktu dulu itu? Jangan coba menggigit macan…
    Ternyata aku tidak berubah.
    Dan setuju, sesuai dengan filsafat orang Jawa yang selalu untung.. Hehe
    Btw, peristiwa ini terjadi pada akhir tahun lalu.

    Nakja, alhamdulillah 😀 alhamdulillah 😀 alhamdulillah 😀 aku sadar aku hanyalah orang yang beruntung karena kasih sayang-Nya 🙂

    1. Anis, semenjak kejadian itu, aku jadi bisa membagi dua standar perlakuan bagi yang datang meminta tolong. Allah pasti mengerti apa niatku sesungguhnya.

  4. Din… ingat gak, ada anak kecil yang ngaku ditinggal temannya di Plaza Indonesia.. trus aku kasihan kasih uang 50.000 untuk pulang ke bekasi.

    Guest what.. ? Aku ketemu lagi dengannya ! tetap di Plaza Indonesia di depan Starbucks….

    Jadi intinya, dulu dia menipuku….

    Aku juga sering banget kena begini Din… untunglah, tinggal di Kelapa Gading bersih dari peminta-minta. Karena diprotect sama Marinir…
    Tapi kalo di mall… aku sering kena beginian.. hahaha…

  5. Trus perasaan lo gimana sesudahnya Han? Kalo ikhlas sih ga apa-apa…
    Yang dateng ke rumahku ini keterlaluan, mereka kira aku jadi orang bego, setelah gegar otak (waktu itu kepalaku masih plontos hihihi)

  6. Adakalanya untuk membuat seseorang itu mandiri dan sadar diri, perlu diterapkan ilmu ” menolong dengan cara “tidak menolong” “. bingung gak 🙂

  7. Aku ngerti Masgi. Itulah makanya aku ‘menendang’ anak beranak itu keluar dari rumahku selamanya. Supaya mereka bisa tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak disukai 😉 atau paling tidak, mencegah mereka berbuat zalim lebih banyak lagi dengan tidak membiarkan mereka melakukannya lebih jauh. Betuul? 😀

  8. Kejadian-kejadian yang mirip seperti ini pernah aku alami kok Teh. Salah satunya waktu Anak-anak kecil dari kampung sebelah, tiap pagi pasti nongkrong didepan pagar ” “Bu..sodakoh nya bu.. untuk makan bu…” siapa yang tidak terenyuh coba, apalagi memandang wajahnya duhhh.
    Dalam pikiranku kasihan mereka butuh makan.. cari untuk makan saja susah!
    Singkat cerita aku kasih rutin… tapi suatu saat aku mampir ke supermarket, ternyata anak-anak itu ada disana dan sedang membeli es cream dari produk terkenal dan harganya 2500 keatas dong..
    Dalam hati aku bilang, Duhhh.. kalian pinter ya..emang kalian butuh buat makan tapi maksudnya bukan makan nasi tapi makan es cream alias jajan…. hoaxxxxx !!!
    jaman sekarang untuk menolong kita perlu smart !!

  9. Tapi yang smart dalam menolong itu seperti apa yah teteh Beautiful ? 😉
    Kasihan kalau yang meminta tolong itu sedang benar2 butuh pertolongan…

  10. Pak Jumala, terima kasih atas kunjungan perdananya kemari 😀 mudah2an tidak bosan di sini.

    Nengcha, really, maybe it’s about how you tell it 😉

  11. pernah ngalami juga…. pertama datang bawa foto anaknya sakit kanker… kedua datang bawa temen2 nya bertiga… ketiga datang bawa surat tanah untuk digadaikan ke aku minta sekian juta…
    walah.. salah nih….

    terakhir datang lagi… ku kasih tahu… bu.. maaf zakat saya sudah saya berikan kerumah yatim ….

    besoknya gak datang2 lagi… tapi kuperhatikan mereka tetep ngider di sekitaran kecamatanku…

    padahal alamat ktp mrk (kalo itu bener) .. sudah hampir medan coret … jauhhh ..

  12. Hiks… kena deh… 😦
    Seperti apa adanya yang kau lihat di sini.
    Lingkupnya mungkin sudah menyempit menyisakan cerita apa adanya yang identik dengannya, meskipun dari asal muasalnya semua yang ada di sini juga prosa. (kecuali yg puisi kalo ada)
    Tapi aku lebih suka menyebut cerita seperti itu adalah prosa, yang lainnya adalah tulisan ilmiah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s