Baca cerita ini mulai dari sini.

Minggu sebelumnya, aku didatangi seorang wanita yang minta dipanggil mbok Iyem.  Dia menawarkan jasa pijat.  

“Kalo saya sudah biasa dipanggil di perumahan ini mbak,” katanya. 

Akhir-akhir ini susah mencari tukang pijat perempuan yang mau datang ke rumah, jadi aku dengan senang hati mengundangnya masuk untuk percobaan.  Kebetulan saat itu aku baru mendapat kecelakaan, dan bahuku masih perlu perawatan pijat syaraf.  

Siapa tahu, Allah memang mengirimkan ibu ini ke rumahku untuk menjadi jalan kesembuhan, pikirku.

Sambil pijat, si mbok cerita ngalor ngidul soal betapa dia bekerja banting tulang untuk menghidupi cucunya yang ditinggal di Wonogiri.

Pijat keliling dari komplek ke komplek.  Dulunya dia tukang jamu gendong, yang membuat sendiri jamu jualannya.  Dia bilang bisa juga membuat obat lulur dari rimpang rempah alami dan beras.  Pokoknya lulur buatannya lebih bagus dan lebih alami dari buatan pabrik,  klaimnya.  Buatan pabrik pakai pengawet ini itu, sedang buatannya tidak, sehingga harus segera dipergunakan kalau tidak mau basi.      

Sekarang dia sedang menjajal bisnis ayam.   Dengan pemilik peternakan dia sudah menjalin kerjasama, dan dia melakukan penjualan door to door pada pelanggan pijitnya.  Dia ambil seharga dua puluh ribu lalu dijual tiga puluh ribu, per  ekor. Lumayan mbak, katanya.  

Aku menanggapinya dengan senang, karena mendengar cerita perjuangannya mencari penghidupan.  Pijatannya sih biasa-biasa saja.   Malah membuatku sangat mengantuk sesudahnya.

Usai memijat, dia berhasil membuatku percaya menanamkan modal sebanyak empatratus ribu untuk usaha ayamnya, dengan deal dia akan rutin datang memijatku setiap minggu hingga tanganku sembuh.    Aku memenuhinya, karena dia seumur ibuku sendiri.  Jadi aku anggap dia layak untuk disayangi.  Dan kubekali dia dengan buah2an yang kebetulan ada di kulkas.  Kuberi tips lebih untuk jasa memijatnya juga.

Minggu depan dia datang lagi, membawa obat lulur buatannya sendiri,  diuleg dengan tangannya sendiri semalaman, katanya.  Kali ini dia sudah sangat terbiasa dirumahku, mengambil minum sendiri, meminta sarapan dan sebagainya.  Dia cerita sudah membeli handphone agar orang-orang bisa menghubunginya.  

Tapi aku lupa mencatat nomornya ketika dia pulang setelah pijat.   Dan, dia belum mau pulang sebelum aku memberinya uang jasa pijat.  (Apa yang terjadi dengan perjanjian bisnis ayam kami? bahwa dia bersedia memijat hingga aku sembuh. Aku mulai bertanya-tanya.)

Aku baru sadar ketika malamnya aku memeriksa obat lulur yang diberikannya dalam kantong plastik, obat lulur itu terkemas dengan rapi menggunakan alat kemasan.  Buatan home industri, atau pabrik?  Yang jelas bila buatannya sendiri, tak mungkin terkemas seperti itu.  Apalagi dia mengaku membuatnya sendiri. 

Aku mulai was-was.  Apalagi beberapa minggu kemudian mbok Iyem tidak muncul lagi di rumahku, tidak seperti janjinya.

Suatu hari ci Ita yang sedang bersantai di teras, masuk ke rumah dan mengabariku, katanya mbok Iyem ada di teras.  Aku yang sudah curiga, minta ci Ita menyampaikan kalau aku menolak untuk dipijat lagi olehnya.   Mbok Iyem bersikeras, katanya mbak Dina sendiri yang meneleponnya.     

Pada titik itu aku langsung yakin kalau mbok ini seorang con artist.  Penipu.  

Entah setan mana yang membuatnya yakin kalau aku akan percaya begitu saja dengan pernyataannya bahwa aku sendiri yang meneleponnya.  Nomornya saja aku tidak tahu, karena dulu tidak pernah kucatat.

Perjanjian kami telah diingkarinya, dan uang bisnis ayamku tidak pernah kembali….

(to be continued)

Iklan

Satu pemikiran pada “Survival Story Part IV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s