Suatu pagi di penghujung minggu yang tenang…

“Permisi bu…”

Seorang anak perempuan seusia 11 tahun, kurus dan kusam,  berbaju SD, berdiri di depan rumahku.  Tangannya merengkuh kantong kresek di dadanya, memelas.  Anak-anakku yang masih balita, yang sedang bermain di teras, memandang ke arahku, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Berhubung kami masih baru di perumahan ini, aku anggap ini sesi perkenalan dengan penduduk lama.  Jadi kupersilakan anak itu masuk dan duduk.  Kutanya apa keperluannya, dia bilang dia mau menjual kerudung ibunya.

“Kerudung ini punya ibu.  Ibu saya meminta saya untuk menjualnya berapa saja, untuk mendapatkan uang untuk adik saya yang  masih bayi ke puskesmas.  Bantu ya bu…”

“Sakit bagaimana dek?”  Batuk pilek, jawabnya.  Terus dia menambahkan, bapaknya sudah lama tidak pernah pulang ke rumah,  sudah setahun lebih.  Ibunya korengan di kakinya, dulu pernah buka warung tapi sudah ditutup, semenjak beberapa bulan ini  karena tidak punya modal  lagi.

Aku langsung merasa ngilu di ulu hati, menyadari kali ini aku terlibat dalam skenario orang tak berpunya meminta bantuan pada orang yang punya.  Aku langsung masuk ke dalam, mengambil uang dan obat herbal yang biasa aku berikan pada bayiku sendiri bila demam.

Kuantar dia keluar, dengan untaian doa semoga adiknya cepat sembuh.

Tidak sampai dua minggu kemudian…

Anak itu, Nur namanya,  kembali berdiri di depan pintu rumah (kali ini sudah lebih berani masuk ke teras).  Kali ini dia  menjinjing kardus yang diikat dengan tali rapia.  

Dia bilang, ibunya menyuruh dia menggadaikan blender agar mendapat uang untuk menengok neneknya di rumah sakit, di daerah Jakarta.  Sakit apa?  Sakit mag, tapi parah, jawabnya.  Aku mengerutkan kening, tapi kuberi juga dia seratus lima puluh ribu, sejumlah yang cukup untuk ongkos bepergian menengok orang sakit ke Jakarta.

Dua minggu kemudian aku mendengar dari teteh pengasuh anak-anak di rumah, bahwa sewaktu aku di kantor, ada yang datang mencari ‘ibu yang tinggal di rumah ini’.  Yaitu, anak perempuan seusia Nur dengan anak kecil usia balita.  Mungkin dia membawa adiknya.

Pada saat itu aku mulai merasa seperti menjadi malaikat penjaga untuk anak itu, dan jadi mulai merasa ini menjadi kewajibanku untuk menolongnya.  karena sudah jelas setiap butuh bantuan dia selalu datang ke rumah ini.  

Setelah ditunggu-tunggu, dua minggu kemudian anak itu baru muncul.

Kali ini dia membawa kain gendongan.  Dia perlu modal untuk menjual gorengan, kali ini.

Tanpa bertanya lebih jauh, aku menolak mengambil kainnya dan kuberi ia uang secukupnya. Dalam hati aku merasa lega bahwa akhirnya dia mau mulai mencoba mencari uang dengan berjualan.

……… (to be continued)
Iklan

2 pemikiran pada “Survival Story Part III

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s