‘YES’ is the new ‘NO’

Judul  :  YESMAN

Rilis     :  Warner Bros 2009

Sutradara  :  Peyton Reed

Pemeran    : Jim Carrey

 

Namanya Carl. Atau bisa siapa saja. Dia bisa saya, atau anda.  

Pada usia produktifnya, dia sering mengatakan ‘tidak’ pada setiap ajakan temannya untuk ngumpul, pada permintaan sumbangan dadakan, pada pendakwah yang datang door to door, atau pada mantan istrinya (tak heran).

Entah ini pengaruh dari pekerjaannya sebagai bankir di bagian pinjaman konsumen, yang mengharuskan dia untuk sangat berhati-hati dengan setiap proposal yang datang (banyak yang harus ditolak), atau sebaliknya, dia ditempatkan disitu karena sifat over skeptis yang dimilikinya.

Ini di luar fakta bahwa sebenarnya dia pria manis yang tak tegaan untuk mengatakan ‘tidak’.   Jadi dia punya banyak perbendaharaan kalimat sopan untuk ngeles, yang apapun bunyinya, kesimpulannya berujung pada satu kata itu.  

Walaupun tidak sadar apa yang telah membuatnya menjadi penyendiri dan murung, Carl masih tetap merindukan mantan istrinya.    Setiap kali mereka tak sengaja bertemu, melihat mantan istrinya telah bersama pria lain, Carl lah yang ngumpet seperti kura-kura ketakutan.    Apakah karena segan berbasa-basi, atau mencegah mantannya mengasihani dirinya, entahlah.

Di kantornya, Carl lebih banyak memberi cap ‘decline‘ pada form pengajuan nasabahnya.   Bosnya menyukainya karena itu, tapi hubungan mereka tidak pernah erat, dan karir Carl mandeg.

Suatu hari, si Carl termenung di halaman depan kantornya ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dan menyodorkan brosur suatu seminar.   Ternyata seorang yang dikenalnya.   “Hei man, Aku tahu apa yang akan membuat hidupmu berubah. Cobalah datang ke pertemuan ini!”   Melihat Carl yang bengong, dia menambahkan “Ini akan membuat hidupmu lebih hidup , man!”

Dari brosur seminar itulah Carl yang sedang bosan dan iseng mendatangi tempat pertemuan, yang gedungnya bermahkotakan neon sign raksasa bertuliskan “YES! IS THE NEW ‘NO!’”    Di dalam dia dikagetkan dengan banyaknya yang datang, dan sepertinya mereka telah menjadi member tetap komunitas itu, terbukti ketika pemimpin seminar menanyakan siapa anggota yang baru pertama kali datang ke acara ini, hanya Carl yang ketahuan (tadinya dia menolak untuk mengaku).   Di situ akhirnya dia didoktrin oleh pemimpin seminar dengan kata-katanya yang sangat menghipnotis, didukung oleh sidang seminar yang riuh rendah, bahwa mulai saat itu juga, Carl harus commit untuk selalu mengatakan ‘YA’ pada setiap pertanyaan yang membutuhkan jawaban ya atau tidak.  

Tidak boleh kata yang lain, karena bila dia menjawab ‘tidak’, hal buruk akan terjadi.

Semenjak keluar gedung pertemuan, ujian mulai datang.   Tidak tanggung-tanggung, seorang gelandangan tiba-tiba minta ikut untuk numpang mobilnya ke suatu lokasi di bukit pinggir kota (jauh dari apartemen Carl),  meminjam handphonenya yang terus dipakainya ngobrol sepanjang perjalanan hingga baterainya habis, meminta seluruh uang di dompetnya, yang mana Carl harus menjawab ‘ya’ walau dengan berat hati.   Ketika mobil tiba-tiba mogok karena bensinnya habis usai menurunkan si gelandangan di tempat tujuannya, Carl harus berjalan bermil-mil ke pom bensin terdekat.   Sepanjang jalan dia menyumpahi dirinya karena sudah setuju dengan perjanjiannya di seminar tadi.  

Tapi dia sudah bosan dengan hidup lamanya, dan ingin benar-benar berubah, jadi Carl terus bertahan. Di pom bensin (yang bensinnya bisa dibayar dengan credit card) Carl bertemu dengan (tepatnya ditemukan oleh) gadis manis berskuter yang sama2 sedang mengisi bensin.   Si gadis menawarkan tumpangan ke lokasi mobil Carl ditinggalkan, dan Carl kali ini tidak terpaksa lagi untuk mengatakan ‘YA!’ 😀  

 Semenjak pertemuan yang mengesankan dengan gadis itu, Carl banyak dicoba dengan kejadian-kejadian lain yang mencapai puncaknya ketika suatu saat dia nekat mengatakan ‘tidak’,   maka hal-hal buruk langsung berangkaian menimpa dirinya.    Dari jatuh dari tangga hingga mukanya nyaris digigit anjing herder yang giginya runcing-runcing.  

Carl yang kapok akhirnya berkata ‘YA!’ pada setiap ajakan temannya, pada todongan sumbangan door to door, pada permintaan tolong tetangganya, pada tantangan temannya untuk berdisko gila-gilaan di suatu tempat dugem yang membuat dia jadi populer dan digila-gilai banyak wanita.   Akibatnya banyak tentu saja, dari pria-pria yang mendadak cemburu hingga ia harus menjadi korban tinju, atau teler karena mabuk.   O ya, Carl juga mengatakan ‘YA!’ pada les bahasa Korea, les gitar, bergabung dengan situs persianwife-finder.com dan sebagainya.   Carl mengatakan ‘YA!’ untuk menolong orang yang hampir melompat dari gedung tinggi, yang ternyata diliput oleh wartawan televisi dan disiarkan secara nasional, sehingga membuat Carl menjadi sangat sangat populer.    Bosnya dikantor menyukai kinerjanya karena semenjak Carl mengatakan ‘YA!’ pada semua aplikasi yang diajukan nasabah, tingkat pengembalian kredit mencapai sembilan puluh persen lebih, angka tertinggi yang pernah dicapai perusahaan, dan itu sangat bagus untuk bisnis, sehingga serta merta Carl diberikan promosi.  

Berpisah sudah Carl dengan kehidupan lamanya yang penuh dengan kehati-hatian dan kemasuk-akalan.

Suatu peristiwa membawa Carl bertemu lagi dengan gadis berskuter, dan Carl selalu mengatakan ‘YA’ pada setiap ajakan gadis itu yang ternyata menjadi anggota komunitas ‘jogging fotografer’ -yang mengambil objek fotografi sepanjang trek joging yang disepakati bersama- , bernyanyi dengan gaya teatrikal di suatu klub khusus, dan sangat suka melakukan kegiatan apa saja secara spontan. Mereka melakukan perjalanan yang tak direncanakan sebelumnya (pergi ke mana, tergantung tiket pesawat yang masih tersedia, yang baru dibook saat akan berangkat), mendatangi festival, ke pertandingan american football dan sebagainya, yang membuat si gadis pada suatu titik secara spontan mengajak Carl untuk *move in together* (ooops) karena dia merasa sangat cocok selama bersama Carl.   Carl, menyadari bahwa dia juga menyukai si gadis,  otomatis menjawab ‘YA!’.

Klimaksnya adalah, ketika mereka tiba-tiba ditangkap FBI di bandara pada saat akan terbang kembali pulang.   Carl diinterogasi macam-macam, terkait dengan kegiatannya les bahasa Korea, melakukan perjalanan tak terduga ke Nebraska (yang bukan tujuan wisata pada umumnya) dan bukan dalam rangka tugas kantor, berhubungan dengan wanita Persia berkerudung (dia kan ikutan jadi anggota situs persianwife-finder) dan lain sebagainya. Karena banyak melakukan kegiatan yang tidak masuk akal dan sporadis itu, dia dicurigai terlibat kegiatan mata-mata atau terorisme. Sehingga akhirnya…….  terbongkarlah gaya hidup Carl yang selalu mengatakan ‘YA!’ pada semua hal,  semenjak komit pada pemimpin seminar waktu itu.

Si gadis, mengetahui alasan sesungguhnya kenapa Carl tidak pernah menolak atau berkata negatif kepadanya – dan kepada semua orang- merasa sangat terpukul – dan malu.    Dia malu karena telah mengajak Carl untuk *move in together* walaupun baru kenal beberapa waktu, secara baginya hal ini merupakan keputusan besar dan tidak main-main.  

Apakah Carl berkata ‘YA’ hanya karena dia tidak boleh berkata ‘TIDAK’? Karena Carl takut hal-hal buruk yang menjadi konsekuensinya akan menimpanya? Jadi apakah Carl berkata ‘YA’, karena terpaksa,  BUKAN karena dia MEMANG menginginkannya?  

Merasa terhina, malu, dan sedih, si gadis akhirnya pergi.    Meninggalkan Carl yang nelangsa dan bingung mengapa semua ini bisa terjadi pada dirinya.

Bertekad untuk protes,  dia menjumpai pemimpin seminar dan mendapatkan jawabannya…

Akankah Carl mendapatkan si gadis kembali?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s