yasminEvent workshop yang dikerjakan secara kerja bakti lintas bagian di unit kerjaku di perusahaan akhirnya usai sudah dengan mulus dan lancar.    Bukan, ini bukan delik pembelaan mengapa blogku belum diisi postingan baru beberapa hari ini 😛 walaupun tidak keberatan bila sekali tepuk dapat dua tiga nyamuk.

Seperti biasa, layaknya tim kerja yang kompak, pada akhir penutupan acara, kami saling bersalaman untuk menyalurkan berjuta kelegaan dengan hamburan bermilyar senyuman.   Pak Sulkon dengan pak Burhan.  Pak Novi dengan pak Edi.  Pak Edi dengan pak Sulkon.  Pak Atet dengan pak Burhan.  Pak Novi dengan pak Atet.  Pak  Burhan dengan pak Sulkon.  Pak Agus dengan Pak Atet.  Pak Atet dengan pak Sulkon.  Pak Burhan dengan pak Agus.   Dan seterusnya.   Aku dengan mereka semua.     Semua terkoneksi dengan modus many to many. 

Peserta workshop ini adalah para pejabat.  Panitianya dari level staf (tentu saja).   Tim kerja panitia terbagi ada yang mengerjakan softwork (konsep)  dan hardwork (kerja kasar berhubungan dengan angkat angkut barang-barang), atau keduanya. 

Oleh karenanya pada saat pembubaran, kami bersalaman di antara kami, dan para peserta bersalaman di antara mereka sendiri sebelum mengucapkan sampai bertemu lagi.   Tapi beberapa manager dari unit kerja kami ada yang menghampiri kami para kroco yang sedang asik bercakap-cakap gembira walaupun tangan terus bekerja membereskan peralatan  dan berkas-berkas yang akan dibawa pulang.  

Semua itu kuanggap hal yang wajar saja dalam lingkungan kerja yang cenderung egaliter di perusahaan ini.  Yang tidak wajar adalah bila seorang pejabat yang namanya kami angkat dengan suksesnya penyelenggaraan event ini, karena posisinya yang unik sebagai pengarah kerja panitia, tidak memberikan ucapan selamat dalam bentuk apapun pada tim .

Apakah sesuatu yang biasa bila pengarah kerja tidak menyalami  tim kerja yang telah berhasil menuntaskan suatu tugas dengan baik?  Apakah keterlaluan bila aku sampai menuliskan cerita yang ‘biasa-biasa’ ini di blog? 

Hmmm…

Aku ingin mengingat kembali mengenai arti penghargaan terhadap peran-peran kecil yang meramaikan kehidupan di dunia ini.    Peran cleaning service di kantor yang tanpanya kamar mandi akan jadi bau pesing, peran pemulung yang menjadi langganan bak sampah di komplek perumahan, peran sopir yang mengantar jemput tamu mitra atasan kita, peran office girl yang menyediakan kopi di kala mata kita kriyep-kriyep menjelang akhir paro hari kedua, peran baby sitter di rumah yang membuat anak-anak kita merasa nyaman sehingga para orang tuanya menjadi tenang beraktivitas, dan sebagainya.

Bagi mereka, senyuman sekilas yang kita tujukan pada mereka bisa jadi membuat mereka dianggap ‘hadir’ di lingkungan kesadaran kita.    Ucapan assalaamu’alaikum atau selamat pagi membuat mereka merasa didoakan.   Ucapan perintah yang disampaikan dengan manusiawi membuat mereka merasa dibutuhkan dan jadi berarti.  Apalagi bila menerima ucapan terima kasih yang sepenuh hati atas setiap bantuan mereka.   

Walaupun hanya itu, bila orang yang memberikannya adalah orang yang kepribadiannya mereka kagumi,  bisa jadi telah membuat mereka gembira seharian,  nyenyak  tidur semalaman.

Terbayang kembali kejadian kemarin ketika pak pengarah dengan dingin *orangnya memang jarang sekali senyum* membereskan laptop kerjanya dan beranjak meninggalkan tempat rapat.  Apa masalah anda, pak? 

Aku tidak sampai hati menulis semua ini sebenarnya.  Aku khawatir pejabat setinggi beliau masih mengidap rasa minder, terkucil, kesepian.

Hampa.

Iklan

7 pemikiran pada “Catatan Usai Workshop

  1. Dulu salah satu bossku ada yg kayak gitu. Tapi mungkin ada yg mengingatkan beliau. Dan di waktu2 selanjutnya, beliau ngucapin selamat dan makasih atas kerja keras tim. Meski dengan wajah datar aja.. But it’s ok.. 😀

  2. Aku jadi inget anekdot ini :

    “Pak, pak… kok mrengut terus sih pak… Wong, kalo bapak tersenyum aja pun belom tentu bikin orang jadi jatuh cinta,

    apalagi kalo manyun gitu….”

    hehe

  3. wah.. untung aja ga dapat boss yg kayak gitu mbak.. Alhamdulillah.. 🙂

    btw.. mgkn boss mbak itu udah tipikalnya pendiem kyk gitu mbak..?? ato emg dia ga pinter ngobrol, ato bener2 ga punya temen mbak..??

  4. yang keterlaluan klo D membiarkan aku bolak balik kesini, tanpa ada postingan baru.. 😀

    dan mungkin si bapak udah lama ga jatuh cinta makanya lupa cara tersenyum 😀

  5. P3ny0, ada berbagai macam kemungkinan latar bekakang… Tapi yg bekerja sehari-hari dengan beliau *doh beliau* pasti lebih tau.

    Nakja, bila berharap pada manusia, hasilnya pasti kadang mengecewakan *ngeles nih*
    Sedangkan dirimu kelihatan sedang produktif jadinya memang jomplang 😦

  6. “…lingkungan kerja yang cenderung egaliter di perusahaan ini.”
    Aku suka kalimat yang ini. Namun semuanya kembali ke individu masing-masing pejabatnya. Iklim feodal pun, jika didalamnya bercokol pejabat yang egaliter, aku yakin suasana kerja tetap akan harmonis.
    Lantas kita akan mengambil kesimpulan, untung kita hidup di lingkungan perusahaan yang feodal. 😀
    Yang aku heran adalah kita dan pimpinan sama-sama tahu teori ledership, tahu bahwa senyum & ucapan selamat pagi pimpinan keluar dari dasar teori bukan dari dalam hati, namun tetap saja kita mengharapkan aktivitas ekspresi tubuh dari pimpinan itu.
    Lantas kita akan mengambil kesimpulan, untung pimpinan kita orangnya ramah, supel, care, dll… 😀

  7. Ini juga aku tahu dari teori, Noe :

    Pimpinan yang pemimpin adalah pimpinan yang memimpin dengan hatinya… Inilah leader. Pemimpin seperti ini bisa membawa perubahan dalam skala besar karena akan banyak yang rela menjadi pengikutnya.

    Sedang yang memimpin dengan teori hanyalah sekedar fasilitator, atau manager. Bila hanya seperlunya yang diberikan, apa yang dihasilkan juga seperlunya.

    Dan kita semua sedang merindukan seseorang yang bisa dijadikan panutan..
    Jadi wajarlah..
    Pemimpin itu benar2 sedang langka di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s