Pernah nggak, anda, sebenarnya bermaksud mengatakan A, tapi yang keluar malah C, D, atau E.   Mungkin penyebabnya adalah kesalahan sistem reasoning di ubun-ubun, atau processor bidang verbal yang error.   Atau bisa juga karena pembicaraan anda terpotong oleh lawan bicara, belum tuntas dikeluarkan tapi sudah direspon sehingga apa yang akan anda katakan malah jadi melenceng dari tujuan awal.

Nah, ternyata aku mengalaminya cukup sering.   Dan ketika aku  sadar telah membuat salah, waktunya bisa berselang antara 2 detik hingga sehari semalam, bervariasi tergantung ringan-beratnya masalah.  

Waktu aku memutuskan untuk quit dari facebook,  aku mengakui memang terpicu oleh teror Israel terhadap penduduk Gaza.  Padahal, nyambungnya hanya sedikit.  Tak heran banyak yang pro kontra dengan tulisanku. 

Entah kenapa, waktu itu aku sebenarnya punya ‘kecurigaan khusus’ pada facebook,  sehingga tiba-tiba aku jadi merasa tidak sreg lagi menggunakannya.  Intuisiku yang bilang,  situs ini dampak buruknya lebih banyak daripada dampak baiknya. 

Oke, yang merasa laki-laki kini bisa berkomentar : dasar perempuan, pakenya kok perasaan melulu.   

Yeah yeah yeah… bukankah intuisi merupakan kumpulan pengetahuan yang telah memasuki alam bawah sadar?

Seorang teman berpendapat, facebook tak dapat dielakkan berkaitan dengan meningkatnya isu keamanan dan narsisme.  Manusia lebih memilih untuk berhubungan dan atau bekerja secara remote untuk menghindari resiko kena kecelakaan atau kemacetan di jalan raya.  Dan sedikit banyak manusia memiliki sifat narsis dalam dirinya  (Dadang Darmawan, Pebruari 2009).

Banyak juga teman yang bilang, selama tidak mencandu, tidak mengapa menjadi pengguna.   Tapi ketika kita menjadi pengguna,  bila tidak hati-hati kita akan terjebak dalam arus pusaran flock theory.

Apakah flock theory?  Teori yang dibangun oleh Devan Rosen dari Carnegie Mellon University, Pittsburgh ini memerinci hukum yang berlaku pada interaksi terkini manusia yang terdesentralisasi (terpisah-pisah) dalam 6 level (jarak? generasi? status?).  Teori ini khusus dibangun untuk meneliti evolusi interaksi kooperatif dan pengaturan mandiri dari sebuah sistem sosial yang memiliki status dan atau tujuan kelompok yang nyaris sejenis.

Flock theory may be viewed as an emergent theory of decentralized human interaction.  The throng of collective action between flock members exemplifies the self-organizing ability of individuals that, despite their complexity, can demonstrate cooperative evolution. (Devan Rosen, 2002)

Coba, pernah nggak, kamu memutuskan untuk menjadi penggemar IKEA atau Tintin,  setelah sebelumnya melihat salah seorang teman telah menjadi penggemarnya, padahal kamu sebelumnya tidak pernah peduli untuk menjadi anggota fans club manapun.  Atau diajak menjadi pendukung gerakan tertentu.

Obama dan tim pendukungnya telah sukses mempraktekan teori ini untuk memenangi kursi kepresidenan Amerika Serikat di tahun 2008.   Padahal sebelumnya,  siapa yang peduli dengan Obama?  Berapa persen dari pemilihnya yang pernah bertemu langsung dan tahu pasti kepribadian atau integritas Obama?   Flock theory berperan besar di sini.

Anyway.

Facebook adalah perwujudan dari flock theory ini.   Dan facebook memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bisnis perusahaan global. 

Dan secara tidak sadar, karena perlahan-lahan namun sitematis, kehidupan di dunia nyata pengguna digantikan dengan kehidupan dunia virtual. 

Sadarkah kala kita tidak hidup di dunia nyata, kita sebenarnya sedang mati?  Kepuasan dan manfaat yang didapat manusia dari interaksi dengan manusia lain secara langsung, tidak dapat digantikan oleh interaksi virtual.

Malah, yang terjadi bisa berdampak merugikan.  Seperti yang telah diamati oleh  psikolog Inggris,  situs jejaring sosial bisa memicu:

Kanker dan stroke
Depresi 

Akibat narsisme dan mengalami cultural shock jadi seleb dadakan, bagi remaja yang belum mengerti jati dirinya sendiri cenderung akan beraksi berlebihan, hanya untuk menarik perhatian

Aku hanya bisa menghimbau di sini:  jangan lagi beralasan atas nama kemajuan teknologi,  anda memilih untuk hidup di dunia virtual SEBAGIAN BESAR DARI WAKTU ANDA.

Sekali lagi, tulisan ini bersifat himbauan……  keputusan di tangan anda.

Lebih banyak contoh tentang berlakunya hukum flock theory di situs jejaring sosial:

Peningkatan angka bunuh diri akibat pelecehan di situs jejaring sosial di kalangan remaja Australia 

Rame-rame mengkhianati teman demi sepotong burger whopper.

Rame-rame menjaring teman tanpa peringatan untuk memperhatikan aspek kehati-hatian .  Ceroboh menambah teman di situs internet bisa mengakibatkan kasus impersonation  seperti yang menimpa Andi Mallarangeng atau seorang mahasiswi yang menjadi korban jadi menimpa diri anda, hanya demi usaha meraih sepotong blackberry gratis.

2 pemikiran pada “Flock Theory & Virtual Life (updated)

  1. di TEMPO Interaktif, Rabu, 14 Januari 2009 | 10:22 WIB

    Burger King baru saja meluncurkan program Whopper Sacrifice.
    Program ini adalah membagikan kupon makan di Burger King gratis dengan syarat Anda menghapus 10 teman Facebook.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s