dgravatar4

 

Yasmin, anak perempuan sulungku yang baru TK A tapi sudah menjadi mayoret drumband di sekolahnya, kadang bersikap super manis, tapi bisa juga membuat jengkel orang serumah.   Olala, malang tak dapat ditolak, ini pasti magnifikasi dari gen jail kedua orang tuanya.    Salman adiknya yang baru 3 tahun umurnya tapi sudah hapal jurus pembuka Ben 10 dan Naruto kalau mau berantem, paling sering kena sasaran.  Tapi dia segera mempelajari seni balas menjahili kakaknya.  

Tadi malam menjelang  tidur Yasmin menangis menggerung-gerung tanpa sebab yang jelas!  Malah Yasmin juga bilang dia sayang ayah… minta diantar jemput pulang sekolah sama ayah… sambil tersedu-sedu.  Tangisnya kusebut menggerung-gerung karena isakannya sangat hebat mirip gerungan mobil yang sedang distarter, dan cukup lama.  Tentu saja ini cukup membuat bingung.   Selama ini dia sendiri yang minta diantar pulang dengan mobil jemputan sekolah walaupun jaraknya sangat dekat, semata hanya ingin lebih lama bersama dengan teman-temannya.  Dan lagi, tidak mungkin ayah memenuhi permintaannya, karena kantornya jauh di Jakarta.

Anyway.  

Cerita ini harus diawali dari hari Minggu pagi yang baru lalu.  Kedua anak itu dengan ayahnya pergi jalan-jalan kaki keliling komplek, mumpung cuaca lagi cerah.   Bubu mereka ditinggal untuk membereskan pekerjaan rumah dan memasak makanan (doh.. ibu rumah tangga banget :P)

Satu setengah jam di luar, mereka pulang dengan cerita  tentang anak kucing yang ‘kebasahan’.   Salman hanya bisa bercerita sedikit, perbendaharaan katanya masih terbatas (anak laki banget) : “Cipta Allah… Cip Allah,” sebutnya berulang-ulang.  Sementara Yasmin merepet tentang betapa dia sayang kucing yang tadi mereka lihat ketika sedang berjalan-jalan.  Aku nggak begitu memperhatikan cerita itu sementara  fokus pada pekerjaan mencuci piring (apalagi nih.. nyuci piring aja sambil mikir… keterlaluan juga kalo dipikir-pikir  hihihi)

Malamnya selepas sholat berjamaah Isya, ayahnya cerita kalau tadi mereka melihat 2 ekor anak kucing di pinggir parit irigasi.  Tapi ternyata masih ada satu lagi yang kecemplung parit yang airnya sedang deras itu.  Ayah, yang pada dasarnya memang tidak suka kucing apalagi megang-megang, hanya bisa melihat kejadian itu tanpa daya.  Ketika terlihat, anak kucing itu sudah timbul tenggelam dan kelihatannya sudah mati.  Anak-anak juga melihat kejadian itu.

Kejadian ini sangat mengguncangkan jiwa ayah, sehingga malam itu harus curhat. 

“Ayah malu sama anak-anak, kelihatan banget tidak berdayanya,” ungkapnya sambil menghela nafas.   “Apa kata anak-anak, ayahnya nggak bisa nyelametin anak kucing itu..”

Waktu itu aku hanya tersenyum sambil berpikir.   Jangan-jangan anak-anak juga ikut terguncang jiwanya, hingga sepulang jalan-jalan tadi pagi mereka heboh bercerita dengan kata-kata mereka sendiri.

Dan jangan-jangan ketika tadi malam Yasmin menangis menggerung-gerung, karena dia sedang berusaha membuat lega hatinya yang tertekan selama memikirkan kejadian itu.  Dan mengingat anak-anak pernah nyaris kehilangan ayah bubunya tahun lalu…  Aku tak pernah tahu seberapa terguncang hati mereka  waktu itu.

Nampaknya aku harus segera mengajarkan pengertian ‘hasbunallah wa ni’mal wakil, yasminni’mal maula wa ni’mal nashiir’

Sesungguhnya Allah sebaik-baik pelindung…

3 pemikiran pada “Yasmin Menangis Menggerung-Gerung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s