“Salah satu cara menjadi dewasa, adalah mampu membuat pilihan yang bijak.  Dan itu tidak didapat melalui pendidikan secara ‘order taking’.”

 

Dalam sebuah pertemuan keluarga…

“Kakak, dari mana dapat es krim?” tanyaku kaget ketika Yasmin tiba-tiba minta dibukakan yasmin-salman1bungkus es krim yang cara makannya dijilat-jilat itu.  Aku, memang agak ketat dengan dua hal : es krim dan permen, sayangnya dua hal itu yang paling disukai anak-anak.   Bukannya tanpa alasan, melainkan Yasmin dan Salman memiliki riwayat asmatis, seperti bapak ibunya.   Dan aku juga bukannya belum memberi penjelasan pada mereka mengapa mereka dilarang sering-sering menikmati makanan kecil itu. 

Yasmin hanya mengedikkan bahunya ke arah tantenya.  Odis sepupunya juga sedang menjilati es krim dengan asik, sampai belepotan sekitar mulut dan tangannya.   Kulihat Salman sedang berlomba lari dengan dirinya sendiri, tidak peduli dengan makanan yang dipegang kakaknya.  Untunglah.  Salman memang biasanya baru minta makan ketika lapar, dan minta berhenti setelah merasa cukup kenyang.   Entah nanti kalo sudah masuk TK dan bergaul dengan teman-temannya yang punya kebiasaan lain.

Aku coba mengingatkannya lagi.    “Kakak lagi batuk.  Nanti tambah sakit kalo makan es krim..”

“Aaang….” 

“Kakak udah tau akibatnya kalo makan es krim, kan?”  bujukku sekali lagi.  Yasmin hanya memandang bungkus es krim yang masih tertutup.  Kemauannya keras.  Karena aku tetap tidak mau membantunya, dia segera pergi mencari orang lain.  Sesaat kemudian dia sudah terlihat mencecap-cecapkan mulutnya sambil mengoceh dengan sepupunya.

Besoknya,  mulai terasa suhu tubuhnya naik di atas rata-rata.  Itu pun Yasmin masih memaksa pergi sekolah.  Alhasil pulang sekolah suhu badannya tambah tinggi, badannya menggigil dan matanya bengkak.  Oleh bunda guru malah disarankan istirahat sampai merasa baikan.    Aku memberinya banyak pelukan yang lama, berharap demamnya terserap ke badanku.   Ayahnya yang sedang dinas di luar kota ikut repot pulang membelikan kapsul bubuk cacing yang kebetulan habis persediaannya.  Hanya Salman yang belum mengerti situasi,  yang masih saja menggoda kakaknya, sampai Yasmin menangis karena kesal.

Kalau mau anakku tetap sehat, aku bisa saja main tangan besi dengan  merebut es krimnya waktu itu dan menyimpannya jauh dari jangkauan.   Tapi tidak kulakukan.  Aku ingin Yasmin belajar dari pengalamannya makan es krim. 

Mempertahankan cita-citanya, mewujudkan keinginannya,  menerima  konsekuensinya.

Mudah-mudahan dia akan mampu membuat pilihan bijak,  di lain kesempatan.

12 pemikiran pada “Inisiatif Anak

  1. Biasakan anak kecil belajar menghadapi berbagai masalah, jangan terlalu banyak dikekang.Bimbing saja solusinya yang baik.Ingatlah lagu kosidah,

    ” Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air “.

    Misal, “Kalau makan eskrim, bagi-bagi dong dik, bubu kan juga pengin, Teteh juga, ayah juga, kami waktu kecil gak ada es krim, adanya es lilin, bagi empat ya dik”,( sambil memelas ekspresinya ). Mungkin demam gak jadi muncul.

  2. Masgi, serius nih, kalo es krimnya dibagi 4, ya nanti yang demam bisa jadi 4 orang😛
    Kalo yg masih bisa ditangani seperti demam akibat asma bronchitisnya kumat aku masih berani ‘lepasin’.
    Tapi kalo hal2 gawat kayak narkoba dan seks bebas aku pastinya harus memberi penjelasan yang lebih panjang dan lebih terperinci, dengan contoh-contoh kasus dan pandangan mata langsung akibat-akibatnya, tanpa harus dia ‘simulasi’. Nauzubillahi min zalik.

    Sebagai ibunya, aku hapal betul bahwa Yasmin sudah bisa mendeteksi segala bentuk kekangan, terang-terangan maupun terselubung. Aku tidak pernah meremehkan kecerdasannya. Dia baru paham ‘nasihat’ orang tuanya kalau dia sudah mengalami sendiri akibat dari perbuatannya melanggar.

    Apakah teknik seperti yang kuterapkan pada anak yg karakternya keras seperti Yasmin, salah jalur? Sebagai ibu aku khawatir segala kekangan bisa membunuh daya inisiatifnya, dan hanya menjadi anak yang penurut tanpa mau berpikir kreatif.

    Seraya tumbuh lebih dewasa, aku berharap dia bisa lebih bijak dengan keputusan-keputusannya. Aku setuju bahwa sebagai orang tua, tugas kita hanya memberi bimbingan dan arahan, sambil tetap berhati-hati untuk tidak menjadi diktator dan tanpa sengaja menginjak jiwa halus yang sedang berkembang.

  3. Berarti ilmunya sebagai ibu sudah lengkap dech, tinggal doa yang selalu menyertai supaya sinkron antara keinginan kita dengan keinginan Tuhan.

    Tapi ngomong-ngomong soal eskrim, aku kok lebih suka es tung-tung, eskrim jaman dulu yang tukang jualannya bawa gamelan kecil yang kalau ditabuh bunyinya tung-tung🙂

  4. Mas Prio, manusia kan makhluk pembelajar. Aku juga manusia. Hubungkan sendiri ya😀
    Tapi beneran deh, sama anak aku banyak memposisikan diri sebagai ‘teman’, tergantung situasi.

  5. Proteksi thd sikecil itu wajib, tapi jangan over. Dahulu es (ice cream dll) jadi kambing hitam penyebab batuk and demam. Tu warisan lama Kalau tidak alergi(individual) tdk akan mernyebabkan sakit a memperberat penyakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s