Judul                             : DPR Uncensored
Penulis dan ilustrator : Dati Fatimah dan Muhammad F Ismail
Penerbit                        : Bentang
Cetakan Pertama         : Oktober 2008
Tebal                             : 165 halaman

“Apa boleh buat, ini cerita-cerita tak terhormat tentang anggota-anggota dewan yang terhormat”.

Tagline yang menggelitik siapapun untuk meraih buku bersampul kuning ini dari raknya.  Sebagian karena rasa ingin tahu yang manusiawi mengenai kejelekan orang lain, sebagian lagi karena pengantarnya dari Budiarto Shambazy, pengamat dan komentator politik yang bahasanya selalu lugas di rubrik Politika harian Kompas setiap hari Sabtu.    Hari-hari begini, ketika rakyat sudah pusing mendengar pembicaraan politik yang berbelit-belit tanpa mengarah kemana-mana,  Budiarto Shambazy merupakan jawaban.   Namun mengenai kejelekan para anggota dewan ini, sebenarnya tidak harus membeli buku ini, tapi cukup dengan membaca koran dengan berita yang headlinenya dicetak bold.  

Ada sesuatu yang lain yang membuat buku ini layak masuk koleksi bacaan, karena seperti yang dikatakan Andy F Noya, buku ini memotret Indonesia dengan cara yang tidak biasa.  Nakal, jenaka.

Rakyat Indonesia yang seperti sudah lupa pada jati dirinya karena sudah sibuk memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di zaman ini, perlu diingatkan kembali akan sejarah yang sudah dilaluinya sebagai bangsa.   Membaca buku ini bagaikan memandangi potret keluarga masa lalu yang tidak selamanya indah dikenang, terutama karena makin hari kualitas hidup bangsa ini makin buruk saja.

Dengan tebal 165 halaman, buku ini sama sekali tidak berat dibandingkan dengan buku-buku pelajaran sejarah tentang Indonesia lainnya, yang isinya seringkali sudah dipelintir-pelintir rezim yang berkuasa.  Bagi setiap orang yang sudah berkutat dengan banyak hal dalam hidupnya, buku ini akan terasa ringan, namun tetap dalam.   Tak lain dan tak bukan karena ramuan buku ini yang merupakan gabungan dari kartun-kartun goresan Mail Sukribo (Yak, Sukribo yang ‘itu’) yang muncul nyaris di setiap halaman, memanjakan pembaca dalam menarik inti pesan, yang rinciannya tertuang dalam tulisan Dati Fatimah

Sebagai rakyat, aku merasakan kesejukan ketika menemukan buku bersampul kuning mencolok ini.  Buku ini merupakan counter  yang tepat untuk gegap gempita pemilu, yang diwarnai dengan pemasangan spanduk dan baliho berukuran raksasa di seluruh penjuru kota.  Buku ini menegaskan bahwa euphoria ini hanya ilusi dari golongan-golongan tertentu yang berkepentingan dan berharap dapat keuntungan darinya.    Bagi kebanyakan rakyat Indonesia, pemilu hanyalah  peristiwa besar lain yang akan mengorbankan rakyat, dalam arti sebenarnya. 

Tanpa bermaksud apatis menghadapi event pemilu,  tak pelak lagi buku ini dipersiapkan untuk menyiapkan rakyat Indonesia dalam menghadapi pemilihan umum tahun 2009.  Mempersiapkan rakyat Indonesia, dalam arti jangan sampai mencoblos atau menyentang partai (dan calegnya) yang track recordnya sudah tercoreng, bersikap lebih kritis pada lembaga perwakilan rakyat dan pemerintah, bahkan menebarkan bibit untuk mengubah cara berkehidupan di negara ini, yang selama ini dijalani dengan penuh kekecewaan tanpa banyak tindakan yang mendasar untuk mengubahnya.

Pesan penulis yang sangat penting dalam buku ini, ditujukan bagi para caleg pemilu mendatang, baik caleg yang sedang menjadi anggota dewan atau yang baru coba-coba mencalonkan diri.   Mereka dihimbau untuk membaca buku ini untuk sekedar instrospeksi niat awal dari tindakan pencalonan masing-masing.    Tidak lain karena semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir nanti.

Iklan

11 pemikiran pada “Menelanjangi Dewan ‘Perwakilan’ Rakyat

  1. Sebenernya ada satu judul buku lagi yang sejenis tentang skandal-skandal di DPR ini, yang menulis Abu Semar (nggak diungkap nama sebenarnya karena alasan keamanan). Aku pilih yang ini karena bukunya lebih tipis dan banyak gambarnya hehe

  2. Udah beli bukunya n pusing bacanya. Penuh dengan angka dengan gaya bahasa kalimat berita. Berat…
    Bagiku itu tak lebih dari sekedar kliping di koran.
    Akhirnya aku cuma menikmati karikaturnya aja. Cerdas sekali si Sukribo itu. Hidup Mail!!!

  3. Lha itu masalahnya, D.
    bisa jadi aku lebih bakat baca yang ringan-ringan, misale gosip.
    misalnya anggota DPR si A ketauan selingkuh sama artis B. sampai termehek-mehek deh bacanya. lol
    sedangkan di buku itu, selain data & fakta, opini juga ditampilkan dalam bentuk kalimat resmi. untung ada sukribo yang menetralisir keseriusan buku itu, meski masih terasa ada gap antara tulisan dengan nuansa visual bukunya.

  4. hahahaha, kamu memang nyentrik kok dab, sastrawan kok bisa pusing dengan kata-kata..
    btw, sebaliknya, aku juga suka pusing baca kalimat-kalimat di blogmu. terasa indah tapi nggak ngeh apa yang diomongke..
    mungkin kamu stop beli buku yg kurekomendasiin aja ya supaya ga mis lagi hihi
    satu lagi yang tulisannya abu semar, udah dapet? aku belom liat isinya tapi mungkin bisa lebih sesuai seleramu.

  5. haha…
    tidak ada kamus stop untuk beli buku. okupansi lemari bukuku masih kecil. apapun referensinya, aku coba untuk membaca, meski beberapa dan banyak lainnya tidak katam, karena keterbatasan ruang benakku.
    terasa ga, sekarang ini untuk menginput informasi baru di otak, terasa ada yang harus dikeluarkan dulu. rasanya memori ini sudah full.
    bisa jadi juga memory-sensorik-membaca-kalimat-baku sudah terdelete oleh sistem fifo di otakku.
    abu semar aku sudah denger selentingan, minggu kemaren sempet tengak tengok juga tapi kayanya tidak ada/belum dijual di toko buku itu. nanti hunting lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s