Ketika senin kemarin tanggal 22 September 2008 aku sudah nongol di kantor, aku banyak melihat wajah-wajah orang yang seperti tidak percaya. 

Aku memang sengaja ke kantor untuk menyelesaikan beberapa urusan yang menyangkut hutang, seperti bayar utang arisan yang bulan ini dikocok 3 kali (aku sudah menang duluan), lalu memesan obat-obatan herba yang biasa kusediakan di rumah untuk keluarga (yang bila minta diantar langsung ke alamat rumah bisa gak nyampe-nyampe) dan lain-lainnya lagi.  Tujuan lain adalah melakukan kunjungan balasan kolega kantor yang mengunjungi aku di rumah sakit.
Aku sempet bikin surprise mbak Endah di ruangannya hehe…  senengnya bikin orang-orang pada seneng lihat aku baik-baik aja🙂

Mbak Kamariah Latief pernah mengalami seperti aku tahun 1998 dan membutuhkan paling tidak 3 tahun hingga sembuh, aku hanya bisa berharap dan yakin bahwa aku dan ayah bisa sembuh dalam jangka waktu yang lebih cepat.  

Tidak tidak, sejujurnya, aku dan ayah memang sengaja ke kantor walau jatah istirahat kami masih hingga selesai libur lebaran, dengan tujuan adaptasi lapangan di dunia luar.  Masih dikawal ciciku sih, untuk memastikan kami baik-baik saja.  Berangkat seperti biasa menggunakan angkutan umum, dengan route seperti biasanya.  Ayah masih belum dibolehkan menyetir dengan pertimbangan karena menyetir membutuhkan konsentrasi tinggi akan terlalu melelahkan sekarang-sekarang ini.   Kalau ketahuan dokter Bambang Subiyanto yang merawat kami selama di RS Karya Bhakti Bogor, dan mengontrol kesehatan kami seminggu sekali sepulang dari rumah sakit, aku tidak tahu apa yang akan dikatakannya.
😛

Tapi aku tahu apa yang membuat pemulihan kami berlangsung cepat.

Seperti aku pernah ceritakan di sini, bahwa aku pernah ikut kursus Natural Healing Course, aku masih ingat materi pelajaran pertama mengenai filosofi terjadinya penyakit dan bagaimana penyembuhan terjadi.

Seperti pelajaran biologi SMA, pertama kali kita harus mengenal berbagai sistem yang berada dalam tubuh manusia.   Sistem transportasi (peredaran darah), sistem pencernaan, sistem pengeluaran, sistem rangka tubuh manusia, sistem syaraf dan sebagainya dan sebagainya.
 
Terjadinya penyakit berdasarkan keterangan Rasulullah dalam hadist yang berbunyi “sesungguhnya semua penyakit berasal dari perut.”  Dan satu lagi yang berkaitan dengan hati (dalam pengertian organ tubuh (fisik) maupun qalbu (bathin), yang bila rusak bagian itu maka akan rusaklah seluruh tubuh.  Selengkapnya silakan baca Ihya Ulumuddin tulisan Imam Al-Ghozali pada bab pertama kalau aku tidak salah ingat.

Apa yang kita makan, itu pula yang disebarkan oleh darah sebagai sistem transportasi nutrisi yang diserap dari usus halus ke seluruh tubuh. 

Bila yang kita makan makanan yang halalan thoyyiban sesuai petunjuk yang sudah dijembrengkan dalam Al-Quran dan Hadist, maka bau badan dan bau mulut kita akan wangi, lebih wangi dari kasturi di hadapan Allah.  Bila yang kita makan adalah racun, ya racun pula yang kita sebarkan ke seluruh tubuh.  Kekurangan serat yang menyebabkan sembelit juga membuat racun terus menerus diserap dari colon yang pembuangannya tidak lancar (setidaknya sehari sekali).   Nutrisi racun inilah yang membuat fungsi organ-organ tubuh kita berkurang secara bertahap, imunitas tubuh menjadi lemah dan lama-lama rentan terhadap penyakit degeneratif yang seram-seram itu.
Ternyata kebodohan kita mengenai sistem tubuh kita sendiri adalah the prime silent killer.

Aku harus menghimbau pada ibu-ibu yang bertanggung jawab memelihara keluarganya untuk memperbanyak pengetahuan tentang ilmu kesehatan.  Aku setuju dengan Jang Geum (sinetron Korea) bahwa ibu merupakan dokter pribadi keluarga.

Di zaman sekarang ini memang susah bertahan dari godaan iklan-iklan produk makanan yang sangat menarik dan memang enak, termasuk yang berlaku padaku dan keluargaku juga.  Untuk itu ada jalan keluar menuju sehat yang dicontohkan Rasulullah seperti detoksifikasi racun dengan berpuasa dan berbekam.

Adapun dalam proses penyembuhan ada 4 faktor yang berperan : fisik, mental, spiritual dan emosi.  Yang mengagetkan adalah peran penyembuhan secara fisik, yang maksudnya dengan cara memakai obat-obatan, itu hanya 10% saja (menurut Tuan Haji Ismail, HPA Malaysia). 

Yang 90% lagi tergantung pada tingkat spiritual, mental dan emosi kita.

Pasien yang selalu mengeluh dan memiliki aspek spiritual yang rendah akan sangat lama mengalami pemulihan,  dibandingkan pasien yang selalu berpikir positif, hatinya selalu tenang dan ikhlas pada cobaan yang sedang dijalani, dan memiliki keyakinan kuat bahwa setiap penyakit ada obatnya kecuali maut.

Bila kita telah memahami bahwa sesungguhnya seluruh dunia ini terdiri dari energi, maka 90% energi pendorong pemulihan tubuh kita yang berbentuk spiritual, mental dan emosi kita dapatkan dari alam semesta, atau aku lebih suka menyebutnya langsung dari Allah swt.  (Dan aku tidak tahan untuk tidak menyebutnya jalur energi broadband hehe.  Dan selama ini aku dan ayah banyak mendownload energi yang berasal dari doa semua orang yang mengasihi kami dan sebaliknya.  Terima kasih atas kiriman energinya everyone, we love you very much.)  Sekarang mudah-mudahan jadi tahu kan cara kerja doa yang dikirimkan untuk seseorang🙂

Bagaimana caranya mensetting tubuh dan pikiran kita supaya terkoneksi dengan Allah swt atau alam semesta, banyak sekali metoda dan cara yang disarankan oleh para ahli dan ulama.

Aku memiliki metoda yang lebih simpel yang selama ini aku menerapkannya sendiri juga pada keluarga.  Aku hanya berbekal keyakinan pada kasih sayang Allah, bahwa dia sudah menetapkan segalanya bagi manusia, dan kita tinggal menjalaninya seikhlas mungkin,  termasuk mengikuti petunjuk yang telah diturunkan dan diteladankan oleh junjungan kita Rasulullah saw.

 
Setelah sedikit banyak memahami ilmu yang dipaparkan di atas, selalu ada saatnya untuk menguji seberapa yakin kita pada pengetahuan itu.   

Keyakinan itu perlu, dan yang berperan paling besar dalam pembentukan motivasi untuk mencapai tujuan.

Seperti orang bersekolah: ada kuliah, lalu ada ujian sebelum bisa dinyatakan lulus.
Allah telah menguji aku dan ayah kemarin, sehingga kami memiliki kesempatan untuk membuktikan apa yang kami yakini mengenai proses penyembuhan.

Dengan bahagia kini aku dapat menyatakan : Quod Erat Demonstrandum.

 

Moral of the story adalah ini: bila semua dilakukan dengan menggunakan ilmu, yang dipahami secara benar, dan diamalkankan dengan iklhas, semua akan terasa mudah.
 
Pertanyaan besarnya dalam rangka mencapai kesuksesan adalah:

seberapa besar keyakinan kita dengan ilmu yang kita amalkan untuk mencapai itu?

Keyakinan merupakan senjata ampuh dalam menerjang berbagai hambatan dan tantangan.  Jangan pernah meremehkan kekuatan keyakinan.

Salam sehat everyone😀

4 pemikiran pada “Keyakinan, Sudahkah Kita Memilikinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s