Setelah pergulatan antara dua buah karakter dominan yang kumiliki yaitu narsistik ala blogger dengan malas untuk mulai menyalakan PC, akhirnya sudahlah dapat disimpulkan siapa yang memenangkan pertarungan.

Tulisan yang muncul di halaman ini asli uncensored, unedited, lahir dari jemari yang masih tergagap mengendalikan ototnya.  Hanya berkat kasih sayang-Nya aku masih bisa berada di sini menuangkan baris demi baris kalimat yang ingin disampaikan-Nya pada dunia lewat diriku.   Allah, Engkau telah menunjukkan perbedaan hidup dan mati pada makhluk fana ini, sekaligus menunjukkan cara yang tepat untuk mengisinya dengan sesuatu yang berharga, bukan untuk disia-siakan seperti yang selama ini sering kali hamba lakukan.
Dalam pembaringan rumah sakit aku terus menerus berpikir tentang banyak hal yang sebenarnya bisa kulakukan tetapi tidak, belum, menanti saat yang tepat atau apalah alasanku waktu itu.   Kini aku tahu semua itu tidak layak untuk menanti lagi.  Sooo much to do sooo little time.

Salah satu dalam list yaitu menuangkan pikiranku dalam blog. 

Sebagai acuan saja, hari ini sudah tanggal 19 September 2008, berarti sudah 18 hari lewat semenjak kejadian.  Alhamdulillah aku sudah bisa aktif lagi di rumah, walau hanya sekedar membuka mata, mengajak berbicara orang-orang rumah dan mulai menulis.  Menurut dokter Bambang spesialis syaraf yang menangani kami berdua, benturan di kepala yang menyebabkan pendarahan subdural di kepala sebelah kanan belakang, yang pengeluaran darahnya silang lewat telinga kiri, persis seperti yang kualami, paling tidak  membutuhkan waktu 3 minggu untuk bersih, maksudnya tidak ada lagi pendarahan di selaput otak, dan pendarahan yang terjadi sudah diresorbsi melalui proses alami.   Mengambil tanggal hari ini yang sudah lebih 2 minggu, aku masih punya jatah istirahat sebenarnya.  Tapi so much to do so little time.  Lagi pula aku bisa gila bila harus diam saja selama 2 minggu.

Aku dan suami rawat inap selama tanggal 1 sd 11 September 2008 di RS Karya Bhakti Bogor.   Selama itu pula pekerjaan kami hanya bedrest total, menerima kunjungan dan makan.  Walaupun judulnya bedrest, dilihat dari sudut pandangku sebagai pasien, istirahat mulai nampak lebih sebagai pekerjaan yang ada target yang harus dicapai.  Makan juga begitu.

Makanan menu awal nasi blender yang disajikan ketika aku masih belum mau membuka mata, rasanya kayak dicampur daging cincang…… Enak, tapi kok nggak habis-habis ya? Lama-lama aku  tutup mulut  saja untuk menunjukkan aku sudah kenyang.  Orang sakit kok dikasih makanan dengan porsi yang sama kayak kuli pelabuhan.

Ini salah satu kritikku pada sistem rumah sakit: mengenai makanan pasien.   Menurut tante Hera yang Ahli Gizi dan juga Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit MM di Bogor, memang standar jumlah makanan yang disediakan untuk pasien sebegitu banyaknya.  Menurutku, pasien sebenarnya tidak mampu menyelesaikan target makan sebanyak itu, apalagi dengan aktivitasnya yang hanya makan dan tidur sepanjang hari. 

Rumah Sakit lain lagi pendapatnya, pasien itu harus lekas sembuh salah satu caranya dengan diberi asupan gizi sebanyak mungkin untuk regenerasi sel-sel yang rusak seperti kasusku.  Tapi kuperiksa, asupan gizinya juga belum diupdate dengan teori baru tentang Diet berdasarkan Golongan Darah.   Menurutku Rumah Sakit jangan tanggung-tanggung menerapkan ilmu baru ini supaya pasiennya lebih cepat menuju pemulihan.  Food for the body, food for the soul, food for the brain sekalian. 

Sebodo amat dibilangin cerewet banget pasien satu ini.  Pokoknya udah kusampaikan pada tanteku ini, mudah-mudahan suatu saat ada perubahan sistem di Instalasi Gizi Rumah Sakit.

Aku sangat menghargai prosedur yang berlaku di rumah sakit dalam menangani pasien.  Semuanya ada protapnya, dan semua bisa dijamin efisiensinya.  Alangkah lebih baik bila Instalasi Gizi Rumah Sakit tidak membuang begitu banyak sisa makanan hanya gara-gara pasien tidak mampu menghabiskan target pekerjaan eh makanan yang harus dihabiskannya dalam satu waktu.

Aku masih misuh-misuh aja, soal ini, soalnya kalo dilihat badanku tambah bengkak selama di rumah sakit. Aku musti menyalahkan siapa kalo aku jadi bulat bin ajaib seperti ini, memangnya gampang nurunin berat badan hare gene?  Di mana logika, orang sakit tapi badannya tambah berat secara signifikan?  Aku mulai merasa seperti ayam broiler yang digemukkan di kandang tanpa boleh melakukan aktifitas berlari-lari mengejar cacing seperti ayam kampung yang liat dan sehat, tapi ujungnya ke tiang pancung penjagalan ayam juga.  Aku rasa gak ada seorangpun  yang mau bahagia sesaat seperti itu. 
Oleh karena itu semenjak di rumah aku hanya mau makan apel potong, bukan jus lagi, berhubung sekarang udah bisa ngunyah hehehehe…

Iklan

12 pemikiran pada “Makanan Rumah Sakit

  1. D, Daniel worry banget waktu kamu di RS. Aku sama Lis jenguk dirimu waktu hari pertama, masih bobok.. tapi spiritmu waktu itu sangat kuat. Aku bilang ke Ibumu, proses pemulihannya akan sangat cepat karena dari sisi spirit kuat.

    BTW, kalo koma itu apa kamu mimpi atau just do not know anything ?

    Daniel email ke Pasabri untuk minta supaya kamu bisa pindah ke Kandatel Bogor.

    Aku punya kakak sepupu yang dulu pernah gegar otak, dia sembuh total menggunakan obat sinshe.

    Wish you get well soon 🙂

  2. Honey, pantesan waktu itu mamaku bilang ada temenku yang ‘tinggi langsing’ yang bisa nerawang aku, aku langsung mikir itu kamu. Btw makasih atas rasa comfort yang kauberikan pada keluargaku.
    Saat itu aku ngapain aja? hahahaha… aku akan bilang suatu waktu di sini. Tapi mostly aku cuman tidur, dan kadang-kadang mendengar suara-suara yang nengok aku, cuman aku nggak mau bother buka mata aja hehe.

  3. Kang Firman tau aja, hari ke berapa di rumah sakit setelah merasa nggak puas ama makanan rumah sakit yang anti cabe, aku minta dipesenin pizza hut cheesy bites tuna pedas, langsung di orderin sama adik via delivery service. Nyamm.. langsung sembuh saat itu juga… ngidamnya 😀

  4. Honey, terima kasih infonya, tapi aku akan sembuh dengan obat sapu jagat yang ada di rumah : Habasauda, Jelly gamat dan kopi radix yang menemani malam-malamku ngeblog selama istirahat di rumah. Dan satu lagi, mulai berpuasa karena berpuasa itu upaya mendetox racun dari fisik kita maupun batin kita.
    Juga doa dari mamaku (mamaku doa berjalan, i love you mom) mempercepat kesembuhan juga.
    Contoh, istirahatku masih diperpanjang seminggu oleh dokter syaraf, tapi aku udah berani melepas teteh yang ngasuh anak-anak pulang saat jadwal libur weekendnya datang (dan itu berarti mulai malam ini sampai senin pagi). Dan itu jeng, berarti aku harus ngerjain segala kerjaan ibu rumah tangga sendiri. InsyaAllah aku udah sanggup. You are so right, spiritku sangat kuat, mungkin karena aku bershio macan wakakakak 😀

  5. Alhamdulillah..3x. Syukur, senang, lega, setelah lihat tulisan Dina udah segar bugar seperti sedia kala..
    Yang paling bahagia pasti Yasmin dan Salman. Mereka punya ayah ibu jempolan. Tambah semangat, Bu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s