Hai halo assalaamu’alaikum semua orang yang kucintai dan kusayangi dan menyayangi aku 😀

I’m back, yes  I’m back to the blog world, good as new!  Aku yakin akan ada banyak orang di sana yang rindu akan racauanku, baik yang mengaku atau tidak mengaku.  Yeah, pede never end!  Aku akan meracau lebih banyak lagi, especially setelah mengalami gegar otak, aku jadi merasa berhak untuk meracau lebih ngaco dan lebih banyak lagi.  And yes,  I don’t care what you think about it.  For now I just want to celebrate so please oblige me to do what I want to do in my blog.   

Ini catatan pertama yang akan kuposting di blog pasca insiden kecelakaan ditabrak motor ketika sedang hepi-hepi menyeberang bersama ayah di gerbang komplek perumahan tempat tinggal kami, memikirkan akan berbuka puasa di rumah, pada waktu menjelang maghrib pada hari pertama Ramadhan, tanggal 1 September 2008.

Sampai hari ini pun masih misteri bagaimana rekonstruksi kecelakaan itu.  Seingat kami, sebelum menyeberang kami selalu melakukan prosedur rutin yang telah diimplant di otak kami sejak kecil : lihat kiri lihat kanan, setelah clear, baru menyeberang.   Rupanya memang sudah tertulis di Lauh Mahfudz bahwa ini sudah harus kami alami.   Tapi Engkau Maha Tahu ya Allah, apa yang aku pikirkan mengenai semua ini dan berapa karat tingkat keikhlasan kami menjalani hal-hal yang telah Engkau tetapkan.  Ini semua test ujian kami menjalani rukun iman yang ke-enam, dan Engkau telah memegang nilai kami berdua. 

Enam belas hari telah berselang dari waktu itu. Aku sudah di rumah 4 hari, setelah tanggal 12 sore dokter Bambang ahli syaraf yang merawat kami memutuskan aku dan ayah sudah bisa dikirim pulang dengan catatan bedrest total seminggu penuh.

 

Untuk meluruskan kabar yang simpang siur mengenai kecelakaan itu, baiklah kucatat di sini hal-hal yang aku tahu, aku ingat dan dengar dari para penolong kami.

 

Karena kecelakaan terjadi di wilayah Cilangkap Cimanggis Depok, di mana Rumah Sakit terdekat adalah RS Bina Husada Cibinong, pertama kali kami beserta 2 atau 4 korban lain diboyong ke sana.

Ada kabar bahwa total korban adalah 6 orang termasuk penabrak dan yang membonceng motornya, sebuah Honda Revo.   Di Bina Husada aku sempat menjalani CT Brain (dan dinyatakan mengalami perdarahan subdural otak kanan, dengan perdarahan silang di telinga kiri) dan ayah di CT Scan (dan dinyatakan ada perdarahan ringan di otak belakang, tapi mengalami luka luar lebih banyak termasuk ruas jari atas jempol tangan kanan pecah dan harus diamputasi).  Karena di Bina Husada tidak ada ruang rawat yang kosong, aku dan ayah langsung diangkut oleh 2 buah ambulans ke ke IGD (instalasi Gawat Darurat) Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor tanggal 1 September 2008 malam harinya.

Bukan menakuti nih, katanya aku koma selama 2 hari 2 malam, darah terus mengalir di telinga kiri dan hidung.  Kondisi yang tak henti aku syukuri sebagai  kasih sayang-Nya, karena pertama, selama aku tidak sadarkan diri sistem syaraf badanku juga mati sehingga aku tidak merasakan kesakitan apapun (subhanallah), kedua dengan adanya perdarahan di telinga berarti pendarahan di dalam selaput otak kananku menemukan outlet untuk keluar sehingga alhamdulillah kepalaku tidak perlu dioperasi untuk keperluan pengeluaran darah yang mengendap.  

Sedangkan Ayah sadar terus semenjak diangkut bersama para korban lainnya menggunakan mobil bak oleh personil security komplek dibantu para tukang ojek yang mangkal di situ yang langsung melaporkan kejadian pada pak Muji Hartono RT lingkungan rumah kami.  Bukannya sok nih, tapi kami dengan  para tukang ojek itu bukan saja simbiosis mutualisma, tapi aku juga sudah dapat julukan dari mereka sebagai ‘ibu Bajigur’ karena aku pernah mengirimi mereka segentong bajigur dan kukusan pisang tanduk sebagai perkenalan kami sewaktu baru jadi penghuni komplek.  Aku terus terang saja masih berpikir apakah mereka juga bergerak secepat itu menolong kami bila kami orang yang tidak mereka kenal sebelumnya.   

Teteh Pipih pengasuh anak-anak oleh pak RT ditugaskan menjaga anak-anak di rumah sambil terus berusaha menghubungi Dini adikku, dan iparku kang Ade dan Ceu Yuyu yang setelah berhasil dihubungi semuanya langsung menyusul ke RS Bina Husada. Kepindahan ke RS Karya Bhakti Bogor berkat usaha Dini menghubungi ke setiap rumah sakit terdekat yang masih memiliki ruang ICU dan ruang rawat yang kosong. Rumah sakit lain penuh sesak dengan pasien.

Di RS Karya Bhakti aku dan ayah di bawah perawatan dr. Bambang spesialis Syaraf.

Hari-hari pertama aku sadar, setiap kali membuka mata dunia serasa berputar dan langsung muntah-muntah, makanan yang dicoba disuapkan oleh mama juga langsung keluar lagi.

Aku diinfus di tangan kiri, setiap hari perawatan menerima suntikan 5 jenis obat 3 kali sehari lewat selang infus sampai pembuluh darah di tangan kiriku tegang serasa mau pecah, pada hari keberapa akhirnya dipindah ke tangan kanan sebelum benar-benar pecah. Kuperhatikan telapak tangan kiriku bengkak dan pembuluh darah berwarna kebiruan di banyak tempat.

Menurut suster yang merawatku, kelima jenis suntikan itu adalah pereda rasa sakit, anti perdarahan, anti mual, anti bentur, dan antibiotik. Aku tanya pada suster apakah bisa sekalian ditambahkan suntikan anti miskin dan anti kafir sekalian, dia hanya tertawa. Setiap aku disuntik aku berusaha bersikap sebaik mungkin dengan berpura-pura semua itu tidak terjadi dengan cara diam memejamkan mata dan mencoba tidak bereaksi setiap kali ketegangan terasa mendera pembuluh darah dan lidah tiba-tiba merasakan pahit yang membuatku merasa mual.

Ayah menerima lebih sedikit suntikan dariku, hanya 2 macam saja. Mungkin antibiotik dan pereda sakit, karena luka luarnya. Selain luka yang kusebutkan di atas, ayah juga beberapa kali muntah darah selama 3 hari pertama. Tapi hasil CT Scan tidak menunjukkan ada luka dalam, entah alatnya yang tidak akurat atau memang bukan untuk keperluan mendeteksi luka dalam. Rupanya darah itu sebagian dari lambung dan sebagian lagi ada bagian lidah yang tergigit sewaktu kejadian. Walaupun hasil rontgen rongga dada aku dan ayah menunjukkan tidak ada fracture atau sesuatu tulang iga pun yang patah pasca benturan keras (alhamdulillah), tapi aku dan Ayah masih merasakan sakit di rongga dada.  Mudah-mudahan hanya otot rongga dada yang mungkin cedera masih dalam proses pemulihan. Terasa ada otot yang salah urat juga di bagian bahu kiriku yang membuat tangan kiriku setengah lumpuh. Mudah-mudahan salah urat ini bisa sembuh sendiri setelah beberapa waktu tanpa perlu mendatangkan ahli pijat urat. Bukan apa-apa, aku belum siap merasakan sakit lagi hehe.  

Di ruang rawat kami boleh satu kamar berdua, karena suami istri. Tapi beda tempat tidur lah, emangnya kamar hotel hehe. Itu pun masih dipisahkan oleh sekat bernuansa hijau. Hiburan satu-satunya adalah pemandangan ketika Ayah lewat bolak-balik di depan tempat aku berbaring dalam upaya ke kamar mandi. Setiap gerakan seperti slow motion. Senyumnya yang diarahkan khusus kepadaku membuat mentalku semakin kuat dan makin ingin cepat sembuh.

Bila saat ini sudah ada teknologi manusia yang mampu mencatat lintasan-lintasan pikiran dalam kepala manusia dalam suatu bentuk dokumen, mungkin sudah ada berpuluh lembar halaman berisi kalimat yang kususun-susun selama berbaring di rumah sakit maupun di rumah. Oh ya aku ingat, bila teknologi itu benar ada, saat ini baru malaikat Rokib dan Atib sajalah yang memilikinya.

Semenjak aku di rumah, sebenarnya akses internet sudah diujung jari saja, namun kenapa aku masih takut membuka halaman blog sampai hari ini?  Ya karena kepalaku sakit banget dan jalan aja masih belum bisa lurus kayak orang mabuk.  Bukannya aku tidak rindu kalian semua.  Hik.

Iklan

13 pemikiran pada “Hello Blog World! :D I’m back!

  1. Horeee..TD dah bisa ngeblog lagi..!! Did you get my email? Blackberry nya nganggur banget nih..:D. Pokoknya I’m happy TD dah baikan…Yeeehhaaawww..eh, Alhamdulillah..ehhehehe..

  2. Dinaa.
    ternyata tahun ini loe mengalami banyak cobaan berat yah.. you’ve been a tough mom and wife… ternyata Danii yang gue kenal dulu sekarang jadi dewasa banget (ya iya lah yaw)… miss you girl, semoga bisa cepet ketemuan dah!!!

  3. Cobaan yang paling berat sama anak-anak dan orang-orang yg paling butuh kami kalik Han, buat aku dan ayah itu cuman episode intermezzo… 🙂
    Alhamdulillah sekarang tinggal nyisa sedikiiit vertigonya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s