Kamis 14 Agustus 2008

Hari ini, aku diliputi keinginan kuat untuk berbuat sesuatu di luar rutinitas, namun UUD.  Ujung-ujungnya duit…..   Sebagai manager keuangan keluarga, aku melihat gejala-gejala tidak sehat.  Pengeluaran lebih besar dari pemasukan. 

Bukannya aku dan lebih keluarga sudah bersikap boros selama ini… walaupun memang aku selalu berusaha memenuhi apa  yang diperlukan keluarga. 
Bagi yang pernah menjadi gantungan hidup orang lain, pasti bisa mengerti rasanya. 
Aku belum bisa merdeka dari perasaan bersalah, bila menolak permohonan bantuan dari saudara, adik asuh, orang lain, komitmen.. komitmen… Tahu sendiri lah kondisi perekonomian rakyat seperti apa.

Tapi dengan pemasukan sebagai karyawan yang hanya mengandalkan gaji yang jumlahnya relatif tetap, dengan jumlah permohonan bantuan yang makin meningkat, bisa terbayang kondisinya…

Aku perlu memikirkan untuk mulai membuka pintu rejeki yang lain.  Yaitu berdagang.  Allah telah menjanjikan 9 pintu rejeki bagi para wirausahawan, berbanding 1 pintu bagi para karyawan.   Terakhir namun penting, mengusir rasa malas.  Tapi rasa malas itu kabur dengan sendirinya, ditendang kekuatan motivasi. 

Mungkin kinilah saatnya memulai kelembaman dalam status bergerak…!!!…. yang mungkin hanya berhenti kalau ada yang memaksa aku untuk berhenti…. 
Ayo bangkit!


Jum’at, 15 Agustus 2008
Aku dapat sumber grosiran susu kambing kemasan beku,  harganya masih mahal dibanding punya pak Khendro.  Tapi kemasannya lebih baik.  Aku akan coba dulu dengan yang ini, kalau sukses, yang ditandai volume pesanan meningkat, aku akan ambil dari pak Khendro juga. 

Sabtu,  16 Agustus 2008
Susu kambing pesananku datang juga, alhamdulillah.  Berarti bisa dijual pada momen acara perayaan 17an warga perumahan, di Taman Kodok, hari Minggu besok.  Siapa tahu ada yang perlu susu kambing….  Mudah-mudahan mereka sudah tahu manfaat susu kambing…
Aku dapat spanduk juga, yay!  Bisa dipasang di depan rumah, lumayan untuk menutupi sorot matahari ke bambu teras.
Malam menjelang tanggal 17 Agustus 2008.
Aku minta ayah membantu membongkar celengan kaleng yang dulu suka iseng kuisi receh dan lembaran seribu atau lima ribuan, sekedar untuk memberi contoh anak-anak tentang menabung.  Daripada disimpan nilainya akan berkurang terus dari hari ke hari, kuputuskan untuk menggunakannya sebagai uang receh untuk kembalian bila nanti ada pembeli yang  tidak membayar dengan uang pas. 

Minggu Pagi, 17 Agustus 2008
Jam 5.30, ayah sudah ganteng dengan seragam karyawannya lalu menciumku untuk pamit upacara ke kantor.
Aku hanya *rolling-rolling my eyes* karena sebagai karyawan aku juga harusnya upacara di kantor, tapi tidak sedisiplin itu.  Lagian anak-anak di rumah tidak ada yang menjaga, si Teteh kan diliburkan kalau hari libur kantor! 

Aku segera mempersiapkan roti selai coklat supaya anak-anak bisa segera sarapan setelah mandi pagi, yang direncanakan dilakukan segera setelah mereka bangun.  Lalu segera  mempersiapkan item-item yang akan dibawa saat berjualan nanti:

  • Container, diisi 30 bungkus susu kambing. 
  • Kantong plastik.
  • Uang kembalian.  
  • Brosur yang sudah kucetak dan kuperbanyak sebelumnya.

Target penjualan hari ini tidak terlalu banyak.  Aku belum tahu respon pasar di perumahan ini tentang susu kambing.   Targetku hanya pengenalan produk, dan sosialisasi bahwa kami menjual susu kambing di rumah.

Setelah anak-anak bangun, sarapan dan pupup (untung saja bisa pagi-pagi, repot juga kalau tiba-tiba Salman minta pup pada saat sedang di lapangan), kita pun berangkat ke lapangan.  Bismillah. Menjinjing container seberat 10kg, dan perlengkapan lain di tangan kiri, kubiarkan anak-anak berjalan mengiringi, kadang di belakang kadang di depan.  Aku senang melihat mereka semangat.  Aku juga bersemangat!

Sampai di lapangan, aku pasang spanduk dan menyebarkan brosur.  Kulihat reaksi mereka. 
“Oh, susu kambing ya? Aduh saya tidak suka susu… kalo susu kedelai mungkin masih bisa…”
“Anak saya nggak suka susu, entah kenapa ya…”
“Sunnah rosul ya?  coba saya baca dulu…”
Atau sekedar terima kasih.

Aku tersenyum.  Dalam hati pun aku tersenyum.  Aku jadi ingat reaksiku sendiri bila disodori brosur produk tertentu yang tidak aku yakini manfaatnya. 
Mungkin penghuni perumahan yang datang ke lapangan ini, saat ini lebih perlu makanan yang instan bisa dimakan saat itu juga, mereka kan habis lomba jalan santai, sedangkan jualanku dalam keadaan beku, harus dicairkan dulu.  Nggak praktis.

Stand mpek-mpek, asinan, fried chicken dan burger lebih banyak dirubung pembeli.  Yasmin dan Salman minta nasi uduk  dan teh botol yang dijual di stand sebelahku.  Mereka sangat menikmati suasana taman…  Aku jadi lebih banyak melongok mereka di tempat jungkat-jungkit dan ayunan di seberang taman yang berlawanan dengan arah orang-orang ramai berkumpul.

Akhirnya, aku merasakan berkeringat di pinggir lapangan menonton orang-orang lalu lalang di depanku tanpa menoleh sedikit pun pada kontainer.   Beberapa melihat spanduk.  Selebihnya, aku menyapa beberapa penghuni yang kukenal, bunda Sina temannya Yasmin di sekolah dan mbak Kiki, yang sekantor sama ayah, tapi mereka hanya mengangguk hormat, mundur teratur ketika mengetahui aku menjual susu kambing, karena belum mengetahui manfaatnya, mungkin…

Coba tebak, aku hanya bisa menjual sebungkus… hahahahahahaha😀

Sedatangnya ayah, kami langsung berkemas.  Ayah menghiburku, nanti brosurnya kita bagikan saja ke rumah-rumah.    Tunggu order di rumah saja, tidak usah ke lapangan lagi. 
Tapi aku tidak menyesal.  Namanya juga ikhtiar :p 

Hiks.. beda ya, antara orang yang jualan karena butuh duit untuk kebutuhan sendiri, ama yang butuh duit untuk dikasih orang lain!  Kalau aku benar-benar berjualan untuk bisa makan, mungkin usahanya akan lain.  Lebih gencar.  Lebih seru.  Lebih tegang.

Namun….
MERDEKA!!!!

Hari ini aku bisa mengucapkan kata itu dengan sepenuh keyakinan.

Aku merdeka dari rasa takut rugi.
Aku merdeka dari belenggu rasa malas.
Aku merdeka dari rasa takut menuruti kata hati.

Ayo teriakkan anak-anak,

MERDEKA!  MERDEKA!  MERDEKA!

12 pemikiran pada “Merdeka Ala Pedagang Kagetan

  1. Keberanian untuk memulai latihan berjualan adalah modal awal yang sangat penting. selanjutnya tinggal belajar cara memasarkan produk supaya laku. Untuk produk yang kurang dikenal, perlu promosi dulu. Misal dengan membagikan ke para tetangga terdekat. Berikutnya permintaan pesanan pasti mengalir. Semoga sukses yach🙂

  2. Yukkk Marriii….

    Berjualan itu menyenangkan kok. Aku sudah sangat sering mencoba. Sekarang aku lagi belajar menjadi intermediary saja untuk produk pertambangan, dan yang membuatku mampu menghadapi buyer yaaa latihan berjualan dari yang kecil-kecil… MLM, bakso, baju, sweater..

    Anak-anak sebaiknya sudah mulai merasakan melayani, negosiasi, dll dari kecil.. akan mendukung kemampuannya survive nantinya.

  3. Anis, Masgi dan Honey, kalian adalah teman-teman sekaligus mentor-mentorku, terima kasih atas dorongan semangatnya😀
    Betul, hikmah yang kami dapat dari berjualan kemarin sangat banyak.
    Pertama, kami jadi lebih menghargai uang. Jadi lebih sulit mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dihemat, atau tidak diperlukan.
    Kedua, anak-anak bisa melihat dan MERASAKAN sendiri sulitnya mendapatkan uang, jadi mereka memahami apa saja yang dilakukan orang tuanya untuk menghidupi mereka.
    Ketiga, kegiatan ini menstimulasi kreativitas. Harus melakukan apa lagi, dengan cara apa dan bagaimana, untuk menarik pelanggan. Otak kita jadi berputar terus… lebih dari 7 keliling hehehe..
    Keempat, paham perasaan orang berjualan yang hanya bisa memasrahkan diri pada rejeki yang sudah ditentukan oleh Allah untuk datang pada kita hari itu.
    Kelima, hidup makin hidup, adrenalin memuncak, kehidupan keluarga makin asik dan kompak…
    Keenam, jadi punya makin banyak alasan untuk bergaul ama tetangga komplek.
    Ketujuh, punya bahan buat ngeblog😛 *weeekk… bukan tujuan utama loh…*

  4. Asik asik…😀
    Pengumuman pengumuman, buat jualan kita bisa manfaatin http://www.Ebay-indonesia.com , bikin toko online gratis, baru bayar kalo mau barang kita didisplay di halaman utama atau jadi pemasang iklan dispace yang tersedia di sana.

    Yang mau blanja blanji on line juga bisa check barang2 di sana loh…
    Mall Online gitu loh..

  5. Ada yang dimudahkan, ada yang harus berliku. Menurutku usaha seperti mancing ikan. Kadang dapat 10 ikan, kadang dapat 2. Tapi kalo gak mancing, mana mungkin dapat ikan.

    Btw jualan “enak”, apa jualan “manfaat”. Orang Indo kebanyakan masih beli yang “enak” walaupun gak manfaat.

  6. Memang betul kang Firman, heran juga sebenarnya. Orang lebih suka bersenang-senang dahulu sakit kemudian.
    Pangsa pasar susu kambing memang spesifik, buat yang ingin sehat dengan cara yang ditunjukkan Rosululloh.
    Berapa banyak orang yang seperti itu?

    Btw, selamat peluncuran situs ‘tebas’-nya ya, makin ‘galak’ euy… hehehehe..

  7. kata orang sih dagang itu memang berat di awal-awal. tapi kalo dah tau ‘celahnya’ mantab rasanya…

    hehe tapi itu jg kata orang. saya sendiri masih belum punya nyali untuk itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s