Musim hujan sepertinya sudah nampak di depan mata.  Ada satu pe-er kami untuk lingkungan yang masih belum terlaksana, padahal semua detil rencana sudah ada di kepala.

Membuat biopori.

Ini di Bor Bioporinya...
Ini dia Bor Bioporinya... Terlalu berat untuk jadi mainan toya-nya Salman... syukurlah!

Alat Biopori yang dipesan langsung via informasi dari situs www.biopori.com, sudah datang sebulan yang lalu.  Tinggal mencari waktu yang ‘pas’ untuk mulai mengerjakannya.  Ada-ada saja yang menghalangi kami untuk mulai bekerja.  Salman kena Morbili (kerennya campak), aku menyusul sinusitis,  lalu persiapan sekolah Yasmin, dan ayah menunggu musim hujan (????).

Dan sekarang sudah mulai datang hujan.  Selamat datang hujan!  Bogor menjadi aneh sekian lama tanpa dirimu….  Eh tapi kita di Cimanggis ding! (hihihi lupa mulu).  Dan sekarang ayah tidak punya alasan lain lagi :mrgreen:

  

Paralon dan kasa nyamuk, untuk membuat lubang menjadi rapi
Paralon dan kasa nyamuk, untuk membuat lubang menjadi rapi

 Jadi, peralatan lain mulai dipersiapkan.  Seperti paralon dan kasa nyamuk.  Kedua bahan ini tidak disebutkan di manual pembuatan biopori.  Kegunaannya kita lihat nanti.

 

 

 

Tanah sejengkal yang akan dilubangi
Tanah sejengkal yang akan dilubangi

 

Lokasi lubang pertama, dipilihlah halaman belakang yang tanahnya hanya berukuran 140 x 40 cm, tapi menjadi tempat lewat air hujan dan pancuran air tempat mencuci macam-macam.  Cukup untuk menjadi 2 buah lubang dengan jarak 100 cm.

Persiapan awal, batu-batu gosokyang menutupi tanah dikumpulkan dan dibersihkan dulu, supaya tidak ikut jatuh ke lubang.  

 

 

Mata bor memudahkan penggalian dan pengangkatan tanah galian, dan mencetak lubang berdiameter persis 10cm
Mata bor memudahkan penggalian dan pengangkatan tanah galian, dan mencetak lubang berdiameter 10cm

Dengan bor khusus ini, kita bisa dengan mudah membuat lubang dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm.     

 

Putar searah jarum jam, jangan dibalik, nanti waktu mundur ke belakang *canda*
Putar searah jarum jam, jangan dibalik, nanti waktu mundur ke belakang *canda*

 

Untuk menggali, putar bor searah jarum jam, jangan dibalik.  Demikian pula pada saat mengangkat tanah galian, tetap searah jarum jam hanya sedikit demi sedikit diangkat ke atas.

Tanah yang digali ternyata berjenis tanah liat.  Nggak ngaruh sih 😀  Cuman lengket hihihi…

 

 

 

 

 

 

Hasil galian pertama
Hasil galian pertamaTampungan tanah liat
Mandor Salman memeriksa kualitas lubang galian
Mandor Salman memeriksa kualitas lubang galian
Ketika penggalian mentok tanah yang keras, Yasmin punya solusinya.
Ketika penggalian mentok tanah yang keras, Yasmin punya solusinya.
Menggali lubang kedua, buat stok *????*
Menggali lubang kedua, buat stok *????*

 

Memotong paralon, sebagai tahanan dinding lubang
Memotong paralon, sebagai tahanan dinding lubang

 

See what I mean?

Selanjutnya memotong paralon sepanjang 20 cm, untuk dijadikan penahan dinding lubang supaya tanah di atasnya tidak mudah jatuh/turun dan memenuhi lubang yang udah susah-susah digali (Ehm… nggak begitu susah sih, dengan bor ini….) Aku nggak tahu ayah begitu terampil dengan alat tukang, mungkin karena terinspirasi film kartun Handy Manny… hahahaha ….  Canda, sebenarnya ayah memang berpengalaman dengan alat pertukangan…. sejak dulu pernah juga menjadi tukang b.. !#@$%!#%$ *keburu dibekep ama ayah*.   Dinding paralon cukup sedalam 20 cm, harga paralon mahal sekarang.

Kedalaman dinding paralon tidak usah terlalu dalam, karena fungsinya hanya untuk menahan tanah jatuh.  Sebenarnya bukan karena harganya mahal, tapi helooo… lubang itu kan supaya cacing-cacing bisa mulai bekerja menggemburkan tanah disekelilingnya dan membuat kompos dari limbah dapur yang masuk ke dalam lubang.  Akan susah hidup si cacing kalau terhalang paralon, kita tidak mau itu terjadi kan?

To make long story short…..
Karpet kasa nyamuk, supaya batu-batu gosok tidur dengan nyaman
Karpet kasa nyamuk, supaya batu-batu gosok tidur dengan nyaman
Ciluup baa
Ciluup baa

Sebenarnya kita cuman bingung untuk membuat tutup lubang itu.  Lubang biopori kan kadang-kadang harus dibuka untuk diisi limbah, dan supaya baunya tidak menyeruak ke atas,  juga harus ditutup dan ditimbuni batu sedikit.   Syarat lain adalah air di atasnya harus tetap bisa mengalir masuk.

Jadi kasa nyamuk menjadi solusinya.  Memanfaatkan sisa kasa nyamuk di rumah juga sih, jadi nggak perlu beli lagi.
Dan ini hasil akhirnya……
Nggak kelihatan ada lubang kan? Batu-batu gosok jadi lebih bersih... sedikit... yeah right..
Nggak kelihatan ada lubang kan? Batu-batu gosok jadi lebih bersih... sedikit... yeah right..

Gampang kan bikinnya?

Yang susah, pertama ngusir malesnya.  Kedua, ngusir malesnya.  Ketiga, ngusir malesnya.   Yang keempat, bersihin peralatannya.  All the dirty works!

Kita berencana membuatnya di halaman depan, dan di seberang rumah.  Lalu kita mau hasut tetangga juga, tentunya kita pinjamkan juga alatnya.  Kalau mereka mau, kita bisa sewakan tenaga untuk pembuatannya juga.  Lumayan jadi ada penghasilan tambahan untuk suaminya teh Pipih, yang ngasuh anak-anak di rumah.  Tarifnya berapa ya…..  25rb satu lubang, berani nggak?  hehehe…. *komersil.. komersil…*  Ok deh untuk 10 lubang dapat diskon 10%.  Blom termasuk ongkos transport ya… 😛 hehehe….

So Honey, how green are we???  😉

Iklan

21 pemikiran pada “Biopori Pertama di Rumah

  1. Ok bagus biar buminya ga kehausan, kalau aku sih baru bikin 4 lubang, mungkin sih masih bisa bikin 3 lubang lagi, kebetulan halaman rumahku pakai conblok jadi gampang ngangkatnya. Aku di Perumanas Klender Jakarta Timur.

  2. Wah kalo semua warga pada sadar pentingnya menjaga air tanah seperti sampeyan, hidup bisa lebih indah ya kang.. nggak pake bonus banjir n kekurangan air.. he he he .. Wajib ditiru tuh …

      1. Alhamdulillah bu. Acara berjalan seru & lancar!
        Fotonya ada di FB saya.

        Thx ya buat postingnya. Sangat membantu. Kemarin saya sempat tengok2 gedung sate lihat pembuatan 100 biopori…sayang ada yg terlupakan, lubang 1m ditutup dgn paralon 1m pula.

        Hehehe…nutup rejeki si cacing namanyah 😀
        mudah2an sudah diperbaiki.

  3. Wah saya baru niat doang nih….
    ngomonginnya sudah 1 tahun lalu.
    Sepertinya harus segera laksankan niat nih . . .

    Go Green !

    Ayuk lah, bumi kita perlu lebih dari sekedar omong-omongan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s