Tambahan tanda kutip pada kata televisi, tentu ada maksudnya. Maksudnya, yaitu bahwa kecenderungan perilaku orang terhadap internet sudah mirip dengan perilaku orang terhadap televisi. Manteng terus nggak ada habisnya.

Padahal internet ini lebih powerful lagi efeknya, karena membisakan interaksi peer to peer, B2C, B2B, C2C dan sebagainya.

 

Dunia baru tanpa kitab suci, demikianlah, content yang hilir mudik di internet tidak ada yang boleh mengendalikan.   Bahkan percobaan dunia nyata untuk mencampuri urusan dunia maya pun banyak yang dihujat oleh pakar-pakar pendukung demokrasi.    Seperti kasus terakhir pemblokiran situs -situs yang menayangkan film FITNA.   “Biarkan masyarakat menjadi dewasa dengan diberi kebebasan untuk memilih,” kata seorang pakar terkenal di Indonesia yang juga blogger.

 

Bila benar-benar ada sebuah Free Country, internet inilah tempatnya.  Mau mencari yang baik-baik dan paling suci hingga yang saru-saru hingga yang paling iblis pun ada.

 

Saya sudah membayangkan, Internet akan menjadi substitusi yang lebih ampuh dari televisi sebagai sumber kekacauan moral dan pencetus lemahnya fisik pada manusia.

 

Padahal, televisi saja (maksudnya pihak2 di belakang layarnya) sudah menayangkan banyak adegan yang ‘tidak biasa’ untuk membuat masyarakat luas tertarik menontonnya, demi kepuasan perusahaan pengiklan, setelah itu masyarakat mendapat ide untuk mempraktekannya pada kehidupan sehari-hari – ada yang baik ada yang buruk- dan lama-lama adegan ‘tidak biasa’ itu akhirnya jadi memasyarakat, dan televisi perlu mencari adegan-adegan lain yang lebih luar biasa untuk dipertunjukkan. Terus begitu seperti spiral setan.  Dengan internet, efeknya akan lebih powerful dari itu. 

 

Mengenai pemicu kelemahan fisik, karena yang paling rentan dengan televisi adalah anak-anak, maka bila orang tua tidak berhati-hati maka otot yang paling banyak bekerja pada tubuh anak-anak sekaligus paling cepat aus adalah otot mata. Padahal pada masa tumbuh kembangnya, anak-anak perlu melatih kekuatan ototnya sekaligus membangun jaringan-jaringan sphyngomyelin di otak reptilnya dengan cara banyak merangkak, memanjat, berjalan, berlari, menarik, mendorong dan kegiatan fisik lainnya agar saat dewasa ia memiliki kemampuan survival di alam dan bisa optimal meneruskan perkembangan jaringan otak kecil dan otak besarnya.

Bila sejak balita anak-anak sudah diperkenalkan dengan internet, atau game di komputer  maka orang tua harus sangat berhati-hati agar anak tidak kecanduan dan bermain dengan komputer sepanjang hari.  Yang paling aman adalah membatasi dalam tingkat yang minimal.  Anak-anak sering kali belum memiliki kendali atas waktunya (wong orang dewasa juga banyak yang keteteran kalo udah nyandu sama internet atau game komputer).  

Aku jadi teringat satu ilustrasi kartun Dilbert, ketika Dilbert bertemu muka dengan remaja yang kebanyakan ngegame komputer sehingga perilakunya paranoid dan violent, dan Ratbert si tikus yang ada di situ sebagai pengamat.  Adegannya kurang lebih seperti ini seperti ini:

Remaja Paranoid : Awas kamu, kalau macam-macam akan kutembak dengan AK-17

Dilbert                : Coba saja kamu lawan aku.

Dilbert berhasil memasukkan si Anak ke tong sampah, kepala di bawah.

Dilbert (pada Ratbert) :  Aku sudah duga kok, anak jaman sekarang nggak punya otot.

 

 

 

Iklan

3 pemikiran pada “Internet telah menjadi ‘Televisi’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s