Abis nonton Pocoyo dan Pato teman bebeknya jalan2 lalu nyasar ke planet lain karena bagian ekor pesawat Pocoyo jatuh di situ, aku jadi inget rasanya jatuh cinta dulu.   Pasalnya Pato dapat kenalan baru di planet asing itu, yang ternyata nemuin part pesawat tapi lalu tertarik sama si Pato yang aku musti akuin memang super cool.   Kalo aku bebek perempuan mungkin bisa suka juga, untungnya aku bukan bebek mwahahaha… apa seh! Pato yang tadinya ketakutan dikejar-kejar akhirnya jadi gimanaaa gitu ditolongin si makhluk asing yang bentuknya mirip pesawat TV model jadul lengkap dengan 6 kaki yang menyerupai kaki meja dan mulut yang cara buka tutupnya seperti laci. Matanya satu.  Mungkin seperti itulah televisi, hanya ada 1 layar yang selalu memandangi kita sepanjang kita memandangi dia.

Di masa depan mungkin layar televisi diperlengkapi dengan kamera pengintai pemirsa untuk mencatat reaksi atas tontonan tertentu, persis pencatat rating. Ah lagi-lagi ngayal.

Tapi perasaan jatuh cinta tadi.

Aku masih ingat, dan rasanya masih indah kalo dikenangkan >) :mrgreen:

Segalanya malu-malu. Curi-curi pandang.  Jaga imej, maunya keliatan ceria, ga mau keliatan lusuh di depannya.   Atau keliatan menyedihkan sekalian (kebasahan di tengah hujan?). Yang jelas nggak ada di tengah-tengahnya, adanya ekstrim.  Tujuannya apalagi kalo bukan untuk menarik perhatian.

Kalo punya sesuatu, dishare untuk berdua. Atau buat si dia semuanya sekalian. Itu juga kalo nggak malu ngasihnya, atau pake cari-cari alasan supaya bisa nyampe ke tangan dia. Kalo bisa sampe, rasanya jadi seneeeng banget.  Kalo nggak nyampe, rasanya sediiiih banget.

Kalo ada acara yang melibatkan si dia, jadi semangat banget buat ikut terlibat. Pokoknya selama bisa ngeliat dia, bareng-bareng dia, walaupun nggak ngapa-ngapain, udah cukup…

 

CUKUP!!!!

Duh galak amat boss…

Back to harsh reality.

 

Siapa sih yang nggak pernah ngerasain jatuh cinta. Setiap manusia normal yang punya jantung dan hati dan nggak mesti punya otak encer pernah ngerasain jatuh cinta, termasuk manusia dengan fisik yang nggak sempurna juga punya rasa ini, dan rasa ini adalah anugerah yang telah diberikan Allah kepada manusia agar bisa berkasih sayang sesama makhluknya.

 

Kemampuan yang diturunkan kepada manusia ini tentu saja selaras dengan tujuan-tujuan penciptaan yang telah ditetapkan-Nya. Manusia boleh protes ini dan itu tapi rencana Tuhan tetap berjalan.

Manusia bisa menolak adanya Allah (dengan cara menolak aturan-aturan yang ditetapkan-Nya dalam Al-Qur’an dan penjabarannya dalam Al-Hadist walaupun katanya mengakui keberadaan ‘Roh Universal’ or whatever that means)  tapi Allah telah mengirimkan tanda-tandanya sepanjang waktu.

Lambang Allah dalam buah terong, pada foto satelit air laut di wilayah Tsunami Aceh, pada api ledakan pipa gas Lapindo, yang terakhir adalah lambang Allah dan Muhammad pada daging yang ditemukan ketika telah dihidangkan di suatu restoran di negara Turki. Semua orang dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan tidak ada yang bisa menyebutnya hoax.

Allah tidak mensyaratkan seseorang harus jadi pintar atau kuat untuk bisa masuk surga.  Bahkan Allah juga menunjukkan keajaiban-keajaiban pada tiap-tiap manusia yang sedang menjalani ibadah haji di tanah suci, bagi mereka yang pasrah justru mendapatkan sangat banyak kemudahan yang banyak di antaranya sangat tidak masuk di akal.   Orang yang bodoh tapi memiliki keyakinan atas rahmat-Nya lebih berpeluang mendapat syafaat Allah daripada orang yang pintar tapi tidak yakin atas janji-janji-Nya. Allah juga tidak mempersulit orang yang tidak mampu melainkan memberi banyak kemudahan.

Dengan kasih sayang-Nya Allah membuka pintu tobat sepanjang waktu selama hayat masih dikandung badan.

 

Bila aku harus jatuh cinta dan kucinta sepanjang waktu, Dia-lah obyeknya.

 

Karena tujuan-tujuan penciptaan, aku juga ‘jatuh cinta’ dan ‘mencintai’ lawan jenis. Tapi alas, sungguh berbeda antara jatuh cinta dan mencintai!

Bila ingat perasaan Jatuh Cinta maka aku jadi terbayang mantan-mantan pacarku dulu (waks, ketahuan pakai kata plural nih).   Bila ingat perasaan Mencintai, maka aku akan berpaling pada wajah-wajah yang mengelilingiku dalam kehangatan keluarga : suami dan anak-anak kami..

Karena menurutku, mencintai ekuivalen dengan unquestionable love, unconditional love, the kind of love that makes the bearer grows to the full potential.. Sedangkan jatuh cinta, mboh hihihi… yang jelas kalo bertepuk sebelah tangan rasanya sakit sekali… dan kalo disakiti pacar, maunya ngebales aja.

 

Sekali lagi ini menurutku lho… silakan kalo yang lain mau punya pendapat sendiri. Last time I check, bla bla bla bla bla 😀

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “Jatuh Cinta dan Mencintai

  1. Seorang penulis pernah mempertanyakan, kenapa harus kata “jatuh” yang berada di depan kata “cinta”, dan kenapa harus ada kata “mati” di belakang kata “cinta” (kayak duetnya Ahmad Dhani dan Agnes Monica)…
    Jadi inget jargonnya Ti Pat Kai (si siluman babi dalam serial Sun Go Kong)…”Tanyalah dunia apa itu cinta, mengapa deritanya tiada akhir…?”
    Hallllaaahh… :p

  2. Kalo seorang Seno Gumira Aji Darma, menjadikan ‘Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta’ sebuah karya seni kumpulan cerpen yang menghasilkan banyak halll….ah! 😛

  3. Aku ingin dicintai dan mencintai.. jadi komplit. Kalau cuma mencintai terus-terusan suatu saat pasti ada juga demand untuk dicintai. Karena dengan dicintai, akan terasa bahwa kita itu dibutuhkan. Tapi apapun itu bedanya kan cuma awalan saja antara “me” dan “di” he he, sifatnya sangat relatif tergantung sudut pandang setiap orang. akirnya Hidup cinta !!!! wa kak kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s