Yah, sampai hari ini aku masih bingung kenapa ada aja orang yang liat-liat isi blogku yg di multiply yang gak pernah kuupdate itu.  Prediksi sih mungkin orang yang nyasar.  Yang jelas bukan fans berat aku.   Mungkin juga lagi survey pasar.  Untuk jualan, multiply udah jadi tempat yang nyaris official, liat aja di guestbook aku 50%nya berisi orang yg nawarin barang.  It’s not a bad thing though.  Bukankan itu gunanya internet?  Membuat komunikasi menjadi mudah dan efisien?  Dan membisakan pergerakan ekonomi riil lebih cepat?  Membisakan transaksi secara global?

Harus diakui, internet memang mengasyikkan dan banyak manfaatnya.

Kita juga bisa punya banyak teman yang susah kita dapatkan dalam hidup kita sehari-hari.  Mau punya target nambah teman seberapa banyak? Satuan? Puluhan? Ratusan? Ribuan?  Kamu cuman bisa melalui situs jejaring sosial yang ada di internet.

Hmmmm….

Nah kalo udah keluar gumaman hmmm… berarti aku sedang menarik kepala ke belakang, duduk lebih tegak atau bahkan bersandar ke kursi.  Atau seperti joki menarik tali kekang kudanya supaya melambat atau berhenti.

Aku sedang berpikir.  Aku selalu merasa sedang men-‘juggling’ hidup di dua dunia yang  perbedaannya  drastis.  Di internet, aku sering bertemu orang yang sangat ceria, ceria, sampai dengan agak ceria.  Di dunia nyata, aku lebih banyak ketemu pemulung, penggali tanah tanpa Alat Pelindung Diri supaya selamat dalam melaksanakan pekerjaannya, peminta-minta sumbangan, dan keluarga-keluarga yang gak mampu membiayai anak-anaknya sekolah atau berobat.

Waktu aku bergabung dengan plurk.com, dan melihat-lihat isinya, aku jadi bergumam hmmm… lagi. 

Aku jadi sadar bahwa dunia plurk,  sudah bukan duniaku lagi.  Aku  tidak perlu menyebarkan pada dunia SECARA INTENS mengenai pikiran-pikiranku (update: secara aku bukan selebritis atau ilmuwan terkenal yang buah pikirannya selalu dinanti orang) , atau berusaha tebar pesona karena aku ingin orang lain menganggapku smart atau pantas dikagumi.  Aku merasa tidak perlu lagi punya fans, atau teman yang tak pernah ada kala aku membutuhkan. 

Yang aku perlukan sudah ada di rumah, sahabat-sahabatku menempuh perjalanan di dunia yang paling baik :  suami, anak-anak, teteh Pipih, kak Ita, orang tuaku, tanteku, adik-adikku, keponakanku.  Lain-lainnya hanya menyusul.  Sahabat-sahabat yang aku selalu doakan 5 kali sehari semoga masih selalu berkumpul suatu saat nanti di keabadian.

Mungkin plurk akan cocok untukku kalau aku masih bujangan dan perlu mengeluarkan aroma atau bunyi-bunyian tertentu untuk menarik seseorang mendekat.  Maafkan kalo aku menganalogikannya seperti tarian birahi hewan.  Aku tahu pasti akan banyak yang menghujat aku karena pernyataan ini.  Tapi aku harus sampaikan apa yang kupikirkan tentang itu, coz’ last time I check  blogging supports democracy.

Teman-teman, innamal ammallu bin niyat.  Bila niat kalian baik dengan gabung di situs jejaring sosial dan komunitas, teruskanlah.  Tiap orang memiliki peran masing-masing.
Aku sendiri sadar nggak cocok menjadi seorang pengasuh komunitas, aku masih repot mengasuh diri sendiri.  Peranku mungkin peran yang antagonis di sini.

Dunia internet memang mengasyikkan.  Bisa membuat orang lupa waktu dan kewajiban dan hak-hak badan sendiri untuk beristirahat.  Bisa membuat seorang anak jauh dari orang tua dan keluarganya sendiri dan lebih dekat kepada teman-teman yang tak pernah ditemuinya secara langsung. 
 
Aku hanyalah seorang perempuan yang ternyata sangat introvert dan berusaha untuk tetap terkendali. Menjuggling dua dunia yang berbeda sungguh sulit bagiku. 
Aku harus memutuskan untuk membatasi penggunaan internet di rumah, supaya keluargaku bisa tetap intact.

Hanya seperlunya.  Hanya untuk hal yang bermanfaat.  Hanya dipakai bila tidak ada anggota keluarga lain yang membutuhkan perhatian. Kecuali kepepet.  Ah, enak kalo ada dua kata terakhir itu.

Seperti sedang berada di persimpangan jalan, aku ingin menangis.

Dunia ini menawarkan banyak tipuan, aku hanya ingin tetap waspada.  Berlebihan?   

NB  : ada ramuan depresi saat aku menulis ini, terkapar sakit di tempat tidur ga bisa ngantor karena sinusitis (atau sakit gigi plus flu berat dan keluar lendir kental kuning hijau, plus meriang plus kepala rasa dijepit tang).  Anak-anak lagi di sekolah.

Iklan

7 pemikiran pada “D is Saying Goodbye to plurk.com

  1. Hehehe.. Aku juga belum tertarik ngisi plurk. Memang udah bikin account, tapi baru 1 entry. Alasanku gak seideal punyamu, Din. Aku cuma gak betah aja mantengin sesuatu seharian. Gak betah dan gak sempet. Aku liat nge-plurk cenderung membuat orang mantengin internet terus, bikin entry, ngeliat response, bikin respon, dll.
    Btw.. kamu kok gak brenti2 ya nge-judging orang yg masih single. Dulu postinganmu soal orang kerja di hari libur, kamu bilang kalo buat orang single sih gak papa.
    Lalu aku pernah liat komentarmu di tulisannya Nining soal demo mahasiswa, kamu bilang kalo masih single memang pasti masih berani menantang bahaya.
    Lalu sekarang, kamu bilang plurk cocok buat orang single yang perlu tebar pesona.
    Gak usah segitunya kaleeee…:-P
    Aku merasa ada aroma diskriminasi, generalisasi, prasangka. Bahwa seseorang yang sudah married harus gini dan yang masih single harus gitu…
    Inget ya, generalisasi dalam bentuk apapun, dengan alasan apapun, adalah salah. 🙂

  2. terima kasih… kukira hanya aku yg punya pikiran plurking is wasting time.
    Tentang yang single itu, nggak apa-apa kalo kata ‘pasti’ diganti dengan ‘relatif’. Secara nggak ada yang pasti di dunia ini.

  3. Btw, aku jd penasaran plurk siapa yg sudah dikau baca, sampai dikau bisa menyimpulkan plurk itu ibarat tarian birahi. Aku baru baca 4 plurk, dan menurutku msh normal aja isinya, cuma blogging biasa. Mrk cuma nuliskan pikiran dan tindakan mereka. Kadang2 nulis hal gak penting. Gak ada bedanya dg Dina ngeblog. Gak ada bedanya dg aku ngeblog. Hanya intensitas mereka lbh sering. Kalo itu dianggap seperti tebar pesona, itu sama saja dgn menunjuk diri sendiri.

  4. Stop sebentar. Kayaknya ada kesalahpahaman yang dipanjang-panjangkan di sini.

    Pertama, semua tulisan di atas memang tentang AKU, bukan tentang orang lain… can you deal with it?
    Jadi kalo aku tulis di atas “….mungkin plurk akan cocok untukKU kalo aku masih bujangan…”, sudah tidak ada masalah lagi kan?

    Kedua, tentang pendapat seseorang.
    Seseorang akan berpendapat mengenai sesuatu sesuai dengan latar belakang yang dimilikinya: ras, gender, agama, golongan, partai, suku, sejarah, pengalaman, pendidikan, bawaan, tingkat kecerdasan dsb dsb.

    Setiap tindak tanduk, gaya berdandan, cara menyisir rambut, pilihan barang dan aksesoris dst dll dsb itu semuanya mencerminkan kepribadian seseorang, termasuk pilihan kata yang diungkapkan dalam setiap pendapatnya.

    Kalo aku bilang secara tidak langsung waktu aku masih bujangan aku ‘menarikan tarian birahi’ itu memang benar.
    Waktu bujangan AKU memang suka tebar pesona. Namanya juga usaha.
    Puas? 😛 Setidaknya aku sudah jujur.

    Waktu bujangan AKU juga lebih berani menantang maut.

    Waktu bujangan AKU juga nggak keberatan masuk kerja pas hari libur kalo lagi nggak ada kerjaan lain. Yang jelas setelah berkeluarga memang lebih banyak hal yang dipikirin dan diurusin.

    Jadi, aku sebenarnya heran banget, kenapa sih semua itu musti jadi bahan argumen? Aku tidak merasa MENGGENERALISIR atau membuat DISKRIMINASI apalagi PRASANGKA. Omg! Kok jadi jauh gini sih.
    Kayaknya malah aku yang harusnya balik menggugat karena aku sudah dikenai PRASANGKA yang bukan-bukan nih… tapi enggak lah.. capek kaleee….?

    Please ya jangan diterus-terusin lagi, udah klir semua kan?

    Peace ya ‘V’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s