Ini aku!
Ini aku!

Kalau diharuskan untuk menggambarkan karakter Yasmin, aku ingin sekali menambahkan kata ‘Angin Ribut Puting Beliung’ di nama tengahnya.  Aku punya 2 anak, dan aku tahu bahwa Yasmin cocok dengan sebutan itu.  Kidding!  Aku tak pernah benar-benar memanggilnya Puting Beliung.

 
Sejak lahirnya, dia anak yang super aktif.  Aku harus mengaku bahwa sebelumnya aku sempat menyangkanya menderita hiperaktif.  Aku tak berhasil mengajarkannya Flash Card ala Glenn Doman!  Dia tidak bisa diam barang satu detik pun.  Rentang konsentrasinya sangat sangat kecil, tapi anehnya bila matanya sudah melihat obyek menarik di televisi, namanya dipanggil keras-keras pun dia tak kan menoleh.  Itulah sebabnya aku memasang TV Kabel dan mengoncinya pada level anak-anak, supaya dia bisa belajar ‘good manners’ dari sumber yang disukainya.

Aku harus bangga dengan diriku sendiri setelah berhasil mengajarkan duduk manis saat menonton televisi dengan jarak yang cukup, dan bukannya tiduran atau menempelkan matanya di layar langsung.  Itu setelah dia mengenal kata ‘jual’.  Karena aku bilang akan menjual televisi bila dia dan adiknya tidak sayang matanya.  
 
Dia sering menggodaku dengan cara menghindar kalau ingin aku peluk.  Tapi kalau minta susu atau minta sesuatu yang lain, ga bisa sabar.  Harus NOW NOW NOW! Sangat sangat bossy!

Selagi dia di bawah 3 tahun sih aku terima saja, mungkin punya anak kecil di rumah memang begitu.  Kata orang tuaku, harus gede sabar…  berdasarkan pengalaman mengasuh anak-anak dulu.  Dan aku akan akan menganggapnya sebagai hukuman karena sebagai anak aku mungkin bandel sekali… hehe…   mungkin lho,  karena aku sendiri gak mau tahu kalo aku bandel apa enggak.  Come on, waktu itu aku kan hanya anak kecil!
Kadang aku menganggap karakternya yang ‘harus sekarang gak bisa menunggu’ itu adalah bawaan dari nama tengahnya, KANIA. 

KANIA itu .. hihi.. adalah nama nenekku, yang didikan zaman Belanda.  Waktu aku kecil, aku diasuh beliau, dan percayalah, jangan pernah mengulur waktu kala nenek memerintahkan sesuatu.  Aku percaya akan segera diterkamnya bila tidak cepat menurut.

Aku memang sengaja memasang nama KANIA itu di belakang nama anak perempuanku, supaya ketika ia bandel dan aku sampai marah, aku bisa menegurnya seperti ini:   ‘KANIA! CUKUP SUDAH!’ Kencang-kencang.  😛
Sehingga ketika Yasmin mulai bertingkah seperti neneknya, aku jadi menyesal dan mulai berwacana untuk mengganti namanya.  Biasanya Ayah hanya tertawa dan membiarkannya berlalu.
Senjata makan tuan.

Yasmin selalu mengoceh sebisanya,  dengan obyek atau pun tanpa obyek pembicaraan, dengan subyek ataupun tanpa subyek lawan bicara, dengan alur cerita, maupun dengan bunyi-bunyi tanpa arti.   Dan bila ia melihat aku berbicara dengan ayahnya atau tamu, dan percakapannya serius, dia akan mengoceh sekencang-kencangnya sampai suara kami tidak terdengar dan aku rasa ingin mencubitnya.  Cubitan yang tentu saja kukonversi menjadi pelukan.  Ya iyalah, anak itu pasti merasa kurang diperhatikan ketika kami mengobrol, sehingga perlu disuplai segera. 

Kala menegurnya, aku akan mengucapkan kalimat yang paling sabar sampai kalimat yang paling keras.  Tapi aku masih ingat untuk tidak menggunakan kata-kata yang tidak baik,  jadi perbedaan antara  kalimat lembut dengan kalimat keras letaknya hanya pada perbedaan output  jumlah desibel.    ‘SAYANG!!!!  TIDAK SEPERTI ITU!!’  atau ‘BABY!!! NO NO NO NO NO!  INI BUKAN MAINAN!!!’

Yang bikin aku suka bicara keras kalau dia mengganggu pekerjaanku dengan alat yang berbahaya untuk anak-anak.  Jarum, gunting, laptop, pisau atau peralatan yang mengandung listrik.  Dia harus tahu mana yang bukan mainan anak-anak.  Tapi akhir-akhir ini aku beri juga dia gunting untuk praktek memotong kertas origami, yang segera ia kembangkan sendiri obyeknya menjadi tissue, koran, majalah dan seprai.

Aku tak melarangnya, maupun menganjurkannya!
Aku tak melarangnya, maupun menganjurkannya!

Sekarang dia sudah bisa mengembangkan alasan menghabis-habiskan air di halaman belakang (mengepel dan menyikat lantai), menumpahkan seluruh isi pelembut dalam jerigen volume 4 liter (memandikan Speedy Bop, bonekanya), atau menghanyutkan mainannya di parit depan rumah (mereka ingin berlayar, Bubu).
 
Dalam ilmu Psikologi Perkembangan Anak, ada istilah ‘The Rebel Two’ alias usia 2 tahun yang sulit.  Pada tahap itu anak sedang mencari identitas dirinya dan mulai bereksperimen dengan konflik.  Menantang perkataan orang tua, singkatnya.  Saat aku melihat usia ini terlewati dengan sukses dan tak ada tanda-tanda Yasmin kehilangan nafsu memberontaknya, aku langsung tahu dia bergolongan darah B.  

Aku OB, ayahnya OA.  Jadi Yasmin punya kemungkinan bergolongan darah O, A, B atau AB.     Aku berani taruhan kalau dia B.

Soalnya, golongan darah B memiliki ciri paling suka menjadi pusat perhatian, dan bersifat bola liar, suka melanggar peraturan, sulit sekali baginya menuruti perintah di atasnya bila tidak sesuai dengan keinginannya.  Dia harus melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri, dan pada waktu yang ditentukannya sendiri.   Kadang aku harus mengakui yang dia hasilkan lebih baik dari ekspektasi.
Jadi aku tak bisa menyalahkan dia sepenuhnya bila kelihatan suka memperlihatkan sifat kurang ajar. 
Dia hanya menjalani takdirnya bergolongan darah B,  dia tidak minta dilahirkan dengan golongan darah itu.
Tentu saja aku sudah tahu trik khusus untuk mengarahkannya pada perilaku tertentu.  Sebut saja itu cinta, dari sesama pemilik golongan darah B 😛

Aku juga menyadari, kalau nama FATIHA di akhir namanya sudah mulai berfungsi.  FATIHA, Suatu saat kau akan mencapai puncak, nak!artinya PEMBUKA, PEMBUKAAN,  dan yang searti dengan itu.  Yasmin adalah anak pembuka.  Pertama, ia adalah anak pertama.  Dan yang kedua, dia adalah pembuka pintu kesabaran, pintu keikhlasan, pintu ilmu, pintu hidayah.   Dia sudah banyak menjadi sumber cobaan kesabaran kami… hihihi… dan menjadi batu ujian keikhlasan kami sebagai orang tua.  Jadi kami harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk mampu mengasuh titipan Allah yang satu ini.

Tentu saja kami berusaha mencegah semoga hal ini tidak berlanjut hingga ia dewasa.  Jangan seperti ibunya.   Cukuplah menjadi trouble maker saat kecilnya.  Biarkan dia puas.  Dan biarkan dia mengetahui bahwa kami tetap mencintainya.

Oh ya, dia sudah tahu kok.  Setiap saat yang memungkinkan, dia selalu konfirmasi kalau dia sayang bubu, ayah dan dede. 

Sebagai orang tuanya, aku dan ayahnya sangat bangga padanya.
Kami pun jadi ingin dia bisa bangga dengan kami.

Dengan Yasmin, biarpun kadang capek, kesal dan ingin marah, aku masih bisa sering tertawa, yah, karena Yasmin…….. emang  gue banget! 😛

Iklan

13 pemikiran pada “Yasmin Kania Fatiha

  1. InsyaAllah, kami hanya berusaha yang menurut kami terbaik, dan semoga juga menurut Allah.
    Dulu aku pernah nangis karena merasa nggak mampu menjaga Yasmin… sempet curhat juga di blog yg satunya.. Sekarang sih… enggak lagi hehehe… 😀

  2. aku pikir emang ‘like mother like daughter’, sama sama lasak nya,liat aja photo nya, masih kecil tp udah ikutan kampanye partai Hanura… 🙂

  3. Dulu ada mitra yang bercanda, kalo ‘Puting Beliung’ mah anginnya kecil. Kalo yang gedhe namanya ‘Susu Beliung’. Canda.. canda.. jangan dianggap jorok ya.. 😀

  4. Wah, kebeneran nama anak kami jg kania
    Kania Putri Khalisa (2tahun), setelah saya membaca kisah mbak, kok mirip banget dgn anak saya yach?, apa semua anak yg namanya kania jg seperti itu

  5. Nggak kalik Daf, cuman anak-anak kecil memang rata-rata seperti itu, ya kita musti belajar sabar aja hehehe…. itung2 ngerasain ortu kita waktu ngurusin kita dulu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s