Hwakakakak πŸ˜› seperti ini rasanya dikejar-kejar penagih utang, gara2 aku mengganti judul terusannya, dianggapnya belum menyelesaikan cerita soal rukyah rumahku.

Padahal apa salahnya sih punya ending yang unpredictable? πŸ˜€ Punyaku kan bukan seperti sinetron yang itu, dan endingnya diserahkan pada pemirsa untuk menyimpulkan sendiri menurut tingkat pemahaman masing-masing.
Aku kan sudah cukup berbusa-busa membahas endingnya sampai jadi 2 posting tersendiri.

Oklah, jadi endingnya tidak seperti yang dibayangkan ya?
He he he he he…. Gimana ya boss…

Aku cuman bisa bilang begini.

Segala sesuatu di alam dunia ini berlapis-lapis. Tepatnya 7 lapis. Bumi ada 7 lapis, langit ada 7 lapis. Lha iya, yang namanya atmosfer itu kan 7 lapis. Layer komunikasi data ada 7 lapis. Perasaan kita berlapis-lapis.
Demikian juga tingkat pemahaman kita terhadap sesuatu, itu tidak lepas dari kata berlapis-lapis.

Waw, aku mulai sok bijak lagi. Tapi kalau aku tidak membagi cerita tentang yang ini, aku nanti dibilang masih ngutang…. Kuterusin ya.

Seperti ketika kita membaca buku tentang suatu konsep untuk pertama kalinya, meski hapal kata per kata pun, kita baru sampai pada tataran teori. Tapi begitu kita praktekkan pengetahuan itu, kita akan mendapat insight yang lebih mendalam.
Lebih sering kita praktekkan pengetahuan itu, makin dalam dan makin luas pemahaman kita. Mungkin kita bisa menghubungkannya dengan hal lain, memodifikasi teori, membuat analogi, sintesa, hipotesa, antitesa, protesa (ooops bukan yang ‘itu’ ) bahkan bisa sampai membuat konsep baru.

Contoh paling gampang, urusan masak. Prosesnya mulai dari baca resep trus praktek dan kalo udah pinter prakteknya, bisa bikin tips and tricknya bahkan bisa bikin resep baru.

Semua ini memerlukan kecerdasan, memang. Tapi orang yang IQnya rendah pun bila EQ dan atau SQnya tinggi, bisa mencapai tingkatan pemahaman yang tinggi selama ia gigih menyelaminya.

Mengenai rukyah yang dilangsungkan oleh pak Ahmad Nur Alam di rumahku.

Ok, menurut teori, yang dipahami pada tataran pengetahuan kita pada umumnya, itu BUKAN rukyah secara syar’i.
Puas?
The end.
.
.
.

Hahahaha… πŸ˜€
Belum selesai ding πŸ˜›

Menurut teori, rukyah secara syar’i adalah rukyah dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat manapun dari Al-Qur’an, bisa dijadikan perukyah. Oh ya, rukyah artinya mantra atau spell, untuk mengingatkan makhluk halus yang berbuat melebihi batas pada manusia. Dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, makhluk sebangsa jin yang sama-sama ciptaan dan menyembah Allah pun akan takluk, karena diingatkan oleh firman Allah. Bisa dengan ayat Kursi, surat Yaasiin, surat al-Baqoroh dsb.
Surat Al-Munafikun akan cocok dibacakan pada jin munafik. Pada jin Islam mungkin lebih mudah, tinggal dibacakan al-Ma’tsurat subuh dan maghrib, dan bila merasuki seseorang tinggal diajak dialog dan diingatkan.
Dsb dsb yang kubaca dari informasi mengenai rukyah syar’iyyah yang bertebaran di internet.

Namun,….

Nah di sini mulai rame nih.

Wah tiba-tiba aku jadi ga pede menulis ini,….
Tapi mungkin harus kuteruskan dulu, daripada dikejar2 penagih utang! Tapi aku akan mohon konfirmasi pihak-pihak yang lebih paham soal ini ya, jadi jangan diterima mentah-mentah. I might be wrong.

Berhubung tingkat pemahaman kita berlapis-lapis…

Aku ingin seseorang menjelaskan lagi padaku, bagaimana prosesnya Sunan Kalijaga mencapai tingkat kewaliannya?
Di film tentang penyebaran Islam di Jawa yang dibintangi Deddy Mizwar dulu (aku lupa judulnya, ‘9 wali’ atau ‘Syekh Siti Jenar’ ya?) sebelum mencapai gelar sunan, beliau bertapa di pinggir kali tentunya tidak sholat secara jungkir balik, tidak wudhu, tidak makan, hanya diam sampai tubuhnya dililit akar-akaran.
Lalu bagaimana prabu Siliwangi mendapat gelar Syekh Qudratullah setelah beliau mengucap kalimah syahadahnya dengan bahasa sunda kuno? Sebagai keterangan, orang jaman baheula memiliki gelar atau nama baru biasanya setelah dianggap lulus dari perguruan/pesantren. Begitu dia masuk perguruan lain lagi, namanya akan berganti lagi. Itulah sebabnya raja2 jaman dulu punya banyak alias yang suka bikin aku bingung (dan jadi benci pelajaran sejarah, apalagi gurunya gak asik).

Pada para sejarawan, mohon konfirmasikan kembali apa yang kutulis di sini bila ada yang membaca ini ok?

Anak2 prabu Siliwangi dari istri Subang Larang pun : Rara Santang, Kian Santang dan Raja Sangara mencapai tingkatan wali dan menjadi tokoh utama penyebaran Islam di nusantara (dan menjadi penyebab bubarnya kerajaan Pajajaran yang Hindu) padahal sebelumnya mereka dibesarkan secara Hindu sebelum dimasukkan ke pesantren. Aku akan melengkapi ceritanya nanti setelah riset lebih jauh. Sementara ini aku tulis yang kuingat dulu saja.

Kembali pada kalimat ‘berhubung tingkat pemahaman kita berlapis-lapis…’

Bagaimana kita bisa menilai bahwa Sunan Kalijaga adalah wali palsu atau bukan, melihat prosesnya? Bagaimana para wali itu bisa sukses menyebarkan Islam dan banyak diceritakan memiliki karomah yang tinggi, segala doanya dikabul oleh Allah, seperti menurunkan hujan di musim kemarau, mengubah buah kurma menjadi emas, berjalan di atas air dan lain sebagainya.
Bagaimana kita bisa menilai prabu Siliwangi itu Islam atau kejawen, bila syahadatnya khusus?

Aku tidak berani menilai apa-apa, terutama karena aku baru paham syari’ah secara kulit-kulitnya saja.
Ingat, ilmu Allah sangatlah luas dan Ia hanya turunkan pada yang dikehendaki-Nya.

Sampai pada ilmu yang dimiliki pak Ahmad Nur Alam.

Sumbernya dari Allah dengan izin Allah. Siapa tahu, walau pakaiannya kumal, mungkin hatinya lebih bersih dari segumpal kapas.

Pemirsa.
Yang menjadikan rukyah syar’i efektif bukanlah ayat Al-Qur’an mana yang dibacakan. Tapi adalah person PEMBACA rukyah ayat2 Qur’an itu sendiri. Apakah ia seorang yang bersih hatinya, selalu makan dari rizki yang halal, dan merupakan orang yang memiliki keyakinan yang kuat akan kekuasaan Allah? Orang seperti inilah yang sulit dicari pada zaman sekarang ini.
Orang seperti kita pun, kadang masih sering dihinggapi keragu-raguan dan rasa was-was. Aku sendiri mengakuinya. Aku selalu ragu apakah gajiku halal bila jam kerjaku di kantor separuhnya untuk urusan pribadi (ngeblog misalnya… Halah!).

Sementara di luar sana ada orang yang menggantungkan rizkinya hanya pada Allah. Dia yakin pada saatnya, Allah akan memberinya cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya. Saat dia tidak punya uang, mendapat ujian anaknya masuk rumah sakit, tapi dia bersabar dan yakin, lalu tiba2 saja ada kenalan yang menanggung biaya pengobatannya. Demikianlah, sering terjadi yang serupa itu. God works in mysterious ways.
Bila dia menjaga kebersihan hati dan selalu yakin pada Allah, maka orang2 seperti inilah yang doanya akan didengar oleh-Nya.

Seperti cerita pada postingku yang berjudul Musyawarah Burung (di blog telkom.us)… Upaya mengenal Tuhan adalah upaya mengenal dirinya sendiri. Dan upaya itu ditempuh dengan cara melakukan perjalanan melalui marabahaya, onak dan duri, cobaan demi cobaan hingga tak ada lagi yang tersisa dari diri kita kecuali pasrah, dengan kepasrahan total. Tanpa tekad yang kuat, si pencari Tuhan akan gugurlah dari pencapaian tujuannya.

Mungkin Pak Ahmad telah melalui proses itu. Mungkin Allah telah menyingkapkan lapisan hijab demi hijab yang menghalanginya dengan-Nya (lagi-lagi lapisan). Mungkin Allah telah merangkulnya sangat dekat.
Mungkin juga belum sedekat itu. Tapi Allah telah berkenan memberinya ilmu yang tidak diberikanNya pada orang awam yang bodoh dan ogah susah seperti kita.
Ok ok. Seperti aku.

Sampai pada rukyah yang dilakukan pak Ahmad Nur Alam.
Apakah rukyahnya (aka kertas yg diberikan padaku) syar’i atau bukan? Mungkin ya mungkin tidak. Aku tidak berani bilang apa-apa.

Karena aku masih bodoh dan baru paham kulit-kulitnya dari syar’i, maka daripada aku ragu-ragu akan keberhasilan rukyah di rumah kami, kami (aku & suami) pun meneruskan melakukan rukyah syar’i menurut pemahaman kami, secara mandiri (pinjem istilah Moumtaza).

Begitu.

Apakah hutangku telah lunas?

Iklan

8 pemikiran pada “Kesimpulannya

  1. Tapi kayaknya kalo aku di posisimu, aku juga akan melakukan hal serupa. Yang penting pengganggu itu pergi. πŸ™‚

  2. @ayah, kalo jari2 ini sudah ada yg menggerakkan, sulit berhenti. maaf tidur ayah jadi terganggu.

    @anis, lagi-lagi atas nama penasaran…. πŸ˜›

  3. Dua kalimat untukmu Mbak D :
    “Setiap amal itu bergantung pada niat”
    dan
    “Menyempurnakan ikhtiar hanya bisa dilakukan dengan ilmu”
    Wallahu’alam bishshawab…:)
    Semoga masalahnya cepet tuntas-tas-tassss…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s