Minggu kemarin kayaknya kebanyakan minum bajigur (dan teman-temannya) kalik ya, rasanya badan jadi melaa..ar ditandai sempitnya baju. Kalo udah gitu, kepala jadi nyut2an sendiri, perut jadi mual dan pandangan jadi agak ngeblur mungkin karena setengah pingin nangis…

Aku sudah berusaha menjaga badan supaya gak jadi gajah bengkak habis punya anak dua. Bukan apa2, bakat gendut rasanya memang sudah melekat pada tubuh pendekar (pendek kekar) ini.
Kadang ini menjadi sebab aku membenci diri sendiri, sampai2 malu tampil di depan publik. Aku ingin sembunyi sambil ngemil bajigur lagi. Bila sudah begitu, aku akan makin melar dan melar.
Lalu bila saatnya aku harus keluar kepompong, datanglah penyakit pusing dan mual tadi.
Begitu.

Si ayah sih bilang aku masih ‘meujeuhna’, artinya, ga lebih ga kurang. Sayangnya, cuman kata itu aja yang bisa bikin aku tambah ngamuk. Bikin si ayah makin ga ngerti.

Emang susah ya jadi perempuan… Hahaha…

Menyedihkan memang.
Untungnya aku masih cukup waras untuk tidak berlama-lama sedih. Hanya gara2 ini, plis deh! 😛 *getok kepala sendiri*

Akhirnya aku buka-buka buku Shaidul Khatir tulisan Imam Ibnu al Jauziy, ulama besar yang sangat peduli pada masalah masyarakat dan merenungkan solusinya. Buku itu bermoto ‘cara manusia cerdas menang dalam hidup’.
Oh oh oh! Buku ini soo recommended buat orang-orang bodoh seperti aku. Selalu aku mendapat insight setiap kali membuka buku ini.

Termasuk ketika menghadapi masalah yang kusebutkan di atas.

Tahu nggak, dan ini mungkin telah kubaca puluhan kali tapi baru kali ini berbunyi Dong! di kepalaku dan sekaligus memecahkan masalahku. Tak apa telat, berhubung aku memang bodoh, daripada tidak dapat insight sama sekali.

Dulu sudah pernah kubaca bahwa Imam al Ghozali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa manusia dianugrahi bala tentara yang digunakan untuk mencapai misinya di dunia, yaitu beramal sebagai bekal di akhirat nanti. Bala tentara itu adalah panca indera, tangan, kaki dan semua pembentuk jasad manusia.
Hati adalah rajanya dan akal sebagai penasihatnya. Karena yang memutuskan tentara untuk berbuat apa adalah hati, bukan otak.

Ok, jadi jasad adalah bala tentara. Ruh, qalbu dan akal adalah hal yang lain lagi. Namun bila disatukan semuanya adalah elemen pembentuk manusia.

Dalam Shaidul Khatir aku baca lagi, bahwa jasad manusia bukanlah manusia itu sendiri. Dia hanya tunggangan. Ya. Tunggangan. Kurang lebih sama dengan yang dinyatakan Imam al Ghozali.

Sebagai tunggangan, kita wajib mencukupi jasad kita dengan gizi yang cukup untuk memelihara kekuatannya. Tidak berpuasa berlebihan, berpura2 zuhud sambil melaparkan diri lalu menjadi malas beraktifitas yang bermanfaat.

Tentunya lagi, ‘penunggang’ adalah suatu kata benda tersendiri yang berbeda dengan ‘tunggangan’nya.

Bila ia berbeda, maka aku si ‘penunggang’ tidak perlu menggantungkan ‘self esteem’ku pada tunggangan ini. Bukan begitu, bukan?

Aku bisa gendut namun bila kuanggap, ah itu bukan aku. Yang gendut tungganganku.
Aku bisa lumpuh namun bila kuanggap ah, yang lumpuh tungganganku. Aku sendiri tidak lumpuh.
Demikian seterusnya. Yang kurus bukan aku, tapi tungganganku. Yang hitam bukan aku, tapi tungganganku. Yang putih dan cantik bukan aku, tapi tungganganku. Aku tidak perlu sampai malu atau terlalu bangga dengan tungganganku, ia milik Allah. Aku hanya bertugas memeliharanya sesuai tuntunan Allah.

Dengan cara yang sama, aku juga memandang orang lain sebagai elemen yang berbeda dengan ‘tunggangan’ mereka. Ok dia gajah, tapi dia baik. Dia berminyak, tapi itu kan tunggangannya? Efeknya, aku jadi selalu mencoba untuk lebih paham manusia penunggangnya daripada tunggangannya, dan ini membuat aku lebih respect dan obyektif ketika menghadapi seseorang.

Aku sebagai penunggang adalah penghuni dalam jasad tunggangan ini.
Aku tidak perlu malu atau bangga dengan tungganganku, karena ini pemberian Allah untuk kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk memenuhi misiku di dunia. Sebagai kapal yang kupakai berlayar dalam mengarungi kehidupanku di dunia.

Demikian kukatakan pada diriku berulang-ulang, sampai aku paham benar-benar. Dan hey, rasa pusing, mual dan tidak percaya diri tadi hilang dengan sendirinya!

Subhanallah.

Iklan

11 pemikiran pada “Beauty Only Goes Skin Deep

  1. kok pada seneng baca buku sihh… aku kok nggak… bosen rasanya… gimana dong numbuhin pengen baca buku lagi .. any rekomended gak buku apa yang must have to read …

  2. Biasanya buku-buku yang direkomendasiin di Kick Andy tuh bagus-bagus, atau Oprah Show…atau hasil referensi qomm.wordpress.com , hehehe…:)

  3. @ningnong : *jilat on*
    @devy: lha ya susah kalo emang ga hobby. tapi iri pada hal-hal yang baik itu bagus… hehe
    baca buku yg sesuai hobby Devy aja atuh. tentang fotografi, misalnya.

  4. Jadi teringat lagu di kampung 🙂

    …….

    Eman-eman temen ayu ra’ sembahyang,
    Fatimah ayu, kok gelem sembahyang,

    Eman-eman temen, bagus ra’ sembahyang,
    Nabi Muhammad bagus kok rajin sembahyang,

    ……..

    { Eman-eman ~ sangat disayangkan, ayu ~ cantik, gelem ~ mau, bagus ~ ganteng }

  5. @masgi: mungkin sudah nasibku mengingatkan orang akan kampung, berbau kampung, dan hal2 kampungan lainnya.
    *menghela nafas*

  6. Lagu itu dinyanyikan oleh ustadz di madrasah kampung waktu aku kecil, dan di jelaskan bahwa melihat manusia itu bukan dari cantik dan bagus tampangnya saja. Cantik dan bagus saja percuma kalau tak sembahyang, kalau tak beriman, kalau tak berbudi pekerti baik, gitu maksudnya 🙂 * semoga dong *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s