Aku tidak bermaksud dan tidak berkenan mendiskreditkan siapapun dalam cerita ini.   Tidak Oki, tidak pak Ahmad Nur Alam,  tidak siapapun.

Mungkin hal ini tidak berhubungan, tapi aku perlu menceritakan latar belakang keluargaku.

Aku terperangkap di antara dua budaya : Sunda dan Jawa.  Papa asli Pemalang Jawa Tengah,  sedang mamaku keturunan Madiun (kakek) dan Cianjur (nenek).  Tapi karena keluarga besar kami berkembang di Bogor, jadi budaya Sundalah yang dominan di keluarga walaupun sebenarnya darah Jawa yang lebih banyak mengalir di tubuhku dan saudara2ku (eh, sebenarnya darah ada sukunya nggak sih :P)

 

Aku lebih banyak mengenal keluarga dari pihak nenek dari mama yang Sunda asli.  Nenek masih mempunyai gelar Raden di depan namanya, tapi karena menikah dengan kakek yang ikut Long March bersama pasukan Siliwangi dari Madiun ke wilayah Jawa Barat pada tahun 1948 (kalau tidak salah), akhirnya keturunannya sudah tidak ada yang bergelar Raden lagi. 

Di antara om dan sepupuku, beberapa memiliki tanda lahir berupa tonjolan kecil sebesar suweng bulat di telinga kiri atau kanan.  Termasuk aku dan Salman (anakku yang laki-laki) memilikinya.  Aku diberitahu pak Jatnika (yang membangunkan rumah bambu kami) bahwa yang memiliki tanda seperti  itu, atau bila telah ada bekas tindik telinga semenjak lahir, maka itu tandanya masih keturunan dari pihak kerajaan Pajajaran yang telah masuk Islam.

Sejarahnya berawal dari Prabu Siliwangi yang menikahi Subang Larang, anak Kyai Gede Tapa SyahBandar Cirebon yang telah masuk Islam, lalu memiliki 3 anak yang menjadi penyebar Islam di tanah Parahiyangan. 

Ketika menikah, prabu Siliwangi pun masuk Islam, dan mendapat gelar Syekh Qudratullah.  Pak Jatnika yang mengabarkan pada kami, bahwa kalimat syahadat  Prabu Siliwangi berbeda dengan syahadat yang biasa kita ucapkan.  Menggunakan bahasa Sunda sansekerta, namun maknanya merupakan Syahadat kesaksian atas keesaan Allah SWT dan Muhammad sebagai Rasulullah.

Ah ini cerita lain lagi kan?  Tapi inilah yang sedikit banyak membuat aku jadi serba salah dalam menghadapi issu yang sedang kami hadapi di rumah kami.

Bagaimana pun, aku adalah seorang awam yang tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menilai itu benar atau salah dalam hal ini.  Jelas tidak, bila Prabu Siliwangi sendiri ternyata bergelar Syekh Qudratullah, dan anak-anaknya adalah para Wali.

Seorang abangku yang bijak pernah mengatakan sesuatu yang selalu kuingat:  ‘Hiduplah dengan akal dilingkupi Ilmu, jangan ilmu yang  dilingkupi oleh akal.’


Manusia cenderung menolak hal-hal yang tidak bisa dicerna oleh akalnya.
Padahal ilmu Allah itu sangat luas, dan akal kita dibanding ilmu Allah bagaikan setetes air di samudra.  Maka dari itu dalam menyikapi hal-hal baru yang belum bisa diterima akalku, aku mengambil sikap hati-hati tapi tidak langsung menolak.

Karena itulah aku tidak dapat menilai pak Ahmad Nur Alam ini. 

Karena apa yang dikatakannya, sebagian besar aku setuju.  Matanya merah  karena ia jarang tidur malam dan siang pun demikian saking seringnya dimintai bantuan oleh orang.  Pakaiannya, ah… Soal pakaian memang kelihatannya kumal, tapi aku tidak mencium bau apek orang yang tidak mandi berhari-hari.  Dan soal mantra itu, aku harus mengkonsultasikannya dengan orang-orang yang lebih mengetahui. 

Mudah-mudahan suatu saat aku bisa mendapat pencerahan dari Abang Dana dan atau pak Jatnika atau siapapun yang berkenan…   (berlanjut)

Iklan

Satu pemikiran pada “Pembahasanku tentang Cerita Kemarin (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s