Perlu kusampaikan juga, ada satu cerita yang sangat terkenal dari  keluarga kami, intinya mengenai keyakinan kepada ALLAH SWT adalah suatu hal yang mutlak.  Mungkin pemirsa yang berasal dari tatar Sunda pernah mendengarnya juga.

Dari daerah lain ada juga cerita yang versinya kurang lebih sama.

Ceritanya kurang lebih seperti ini:

Ada anak lelaki dari keluarga petani miskin, oleh orang tuanya didorong untuk belajar mencari ilmu untuk kemaslahatannya di dunia dan di akhirat.  Pada waktu itu ada seorang kyai yang namanya sudah termasyhur ke seantero negeri, ahli di bidang pengobatan.  Sebagai orang tua yang selalu menginginkan yang terbaik, walaupun miskin,  anak ini dijurung untuk menemui kyai itu dan berusaha supaya diangkat sebagai murid. 

Untuk itu sang ibu membekali anaknya dengan apa yang terbaik yang ada di rumah mereka. 

Akhirnya si anak pun menempuh perjalanan dengan membawa setandan pisang yang sangat bagus, karena memang hanya itu yang mereka punyai.

Sesampainya ke tempat Kyai itu, si anak mempersembahkan bawaannya lalu menyampaikan maksudnya.  Si Kyai memandang bawaan si anak itu.  Namun sayang, pisang hanya dipandang dengan sebelah mata. 
Perlu dipahami bahwa kemasyhuran Kyai itu telah mencapai seantero negeri dan mungkin telah melebihi batas-batasnya, sehingga ada banyak sekali orang-orang yang datang ingin diangkat sebagai murid, membawa persembahan barang-barang berharga.  Setandan pisang yang dibawa anak itu tidak mencapai seperseribu nilai persembahan murid lainnya. Dan pasti langsung habis dalam sekejap mata setelah mencapai meja makan.

Namun begitu si Kyai tetap menerimanya di perguruan.   Tapi mungkin karena kurang berkenan dengan persembahannya, anak ini diperlakukan bukan sebagai murid, tapi sebagai pesuruh. 
Dia paling sering disuruh-suruh melakukan hal-hal yang bukan merupakan bagian proses belajar sebagai murid.  Seperti bersih-bersih, melayaninya, melayani murid lain dsb.

Bila si anak bertanya (karena ia menganggap dirinya sedang berguru di situ) ia harus belajar apa hari ini, si Kyai hanya memberinya wirid ini “Cauna, butitina”.

Baca terus menerus, perintahnya. Lalu ia segera menyibukkan diri dengan murid lain.

Wirid ini artinya: ‘pisangnya, ujung tandannya (yang biasanya buntet dan jelek) doang.’  Tentu maksudnya untuk menyindir si anak ini yang dulu hanya membawa setandan pisang. 
Si anak yang sabar, melaksanakan perintah gurunya hingga suatu saat dia dinyatakan lulus bersama dengan rekan-rekan seperguruan lainnya, walaupun sebenarnya ia tidak diberi ilmu apa-apa.

Waktu berlalu dan suatu saat si Kyai jatuh sakit, penyakit yang sukar disembuhkan.  Dia ahli penyembuh, tapi bukan berarti dokter tidak bisa sakit kan?  Pergi ke mana-mana masih belum bisa sembuh jua.  Setelah menyerah, akhirnya ada yang menunjukkan bahwa di suatu kampung di daerah pelosok ada seseorang muda yang mungkin bisa mengobatinya.  Dia juga sudah termasyhur ke mana-mana.

Bergegaslah ia memerintahkan orang2nya untuk membawanya pergi menemui orang muda itu. 

Setelah bertemu, tak dinyana, dia adalah murid pisangnya dulu itu! 

Pertama dia tak yakin, tapi karena sudah kadung pasrah dan tak ada lagi tempat yang belum didatanginya, ia pun memohon pertolongan mantan ’murid’-nya itu.
Si ’murid’ membaca wirid sebentar, lalu memberinya segelas air untuk minum.

Setelah airnya habis, tiba-tiba dengan kekuasaan ALLAH tubuhnya langsung terasa segar seketika.

“Ki Sanak, bacaan apa yang kauwiridkan pada air ini? Beritahukanlah padaku!” pintanya, saking penasarannya melihat efek positif yang dirasakannya.

“Apa yang guru ajarkan padaku dulu, itu yang saya bacakan,” jawab si orang muda dengan khidmat.

“Dan…. apakah itu?” ia bersiap-siap mengingat jenis-jenis wiridnya dulu.

“Silakan.  Ini saja, ‘Cauna, butitina’…”

Seketika merahlah wajah sang Kyai karena malu.

Moral of the story:  Apapun mantra yang diucapkan, bila disertai keyakinan kepada ALLAH yang akan mampu melakukan apapun yang dikehendakiNYA dengan kuasaNYA, dan diucapkan oleh orang yang bersih hatinya, pasti akan dikabul oleh-Nya.

Kembali pada pak Ahmad Nur Alam ini, aku hanya mampu berkomentar bahwa yang berhak menurunkan ilmu adalah ALLAH semata pada orang-orang yang dipilih-Nya dan hanya atas izin-Nya itu terjadi. 
Seperti Abangku pernah bilang: sangat berat menjadi orang yang diamanati ilmu oleh ALLAH. Karena ilmu itu harus diamalkan, dan diamalkan secara benar dan ikhlas.

Sangat panjang tuntutannya bagi orang yang diamanati ilmu oleh ALLAH oleh karenanya orang itu benar-benar harus teguh, tegar dan tidak memperjualbelikan ilmu yang dipunyainya. 
Maka gaya hidup alim ulama yang benar biasanya sederhana dan hanya makan dari rezeki yang halal.

Semua pengetahuan di atas kuhubungkan, aku makin tidak mampu memutuskan apa yang harus kunilai. 
Mungkin aku akan menerima semuanya secara perlahan sebagai kenyataan dalam kehidupan di alam dunia ini.  Bahwa ada banyak hal-hal yang diluar cerna akal kita, sangat banyak dan jauh lebih banyak dari yang bisa kita bayangkan.  Dan bahwa sebagai awam itu tidak terlalu jelek. 

Namun aku ingin menjadi awam yang terus belajar.

Namun satu hal yang pasti, sebagaimana saran Moumtaza, akhirnya kami memutuskan untuk menghangatkan rumah dengan bacaan al-Qur’an dengan suara kami sendiri.

Tidak mengapa baru bisa dilaksanakan setelah sholat Maghrib dan Isya, berhubung pada hari-hari kerja kami termasuk yang pergi subuh pulang malam.
 
Alhamdulillah, belum pernah ada gangguan lagi di rumah.  Kecuali yang terakhir yang menimpa Teh Pipih -pengasuh anak-anak- pada hari Minggu itu ketika selamatan rumah bersama keluarga. 

Sengaja tak kuceritakan detail nanti disangka aku mau bikin sinetron mistik lagi, huh! *melotot ke Nining*

Gitu aja pemirsa… maaf ya jadi bikin penasaran….. 😀  Kesimpulannya

Iklan

7 pemikiran pada “Pembahasanku tentang Cerita Kemarin (2)

  1. Kurasa lagu “Gantung”nya Melly cocok dinyanyiin buat mbak D, huh…!
    Jelas-jelas di serial ke 3 masih ada keterangan ‘to be continued’, eeh… malah bikin sinetron.. eh, posting judul baru… (mode ‘keukeuh’ on) :p

  2. gampang, ntar kuedit deh tulisan to be continuednya 😛 tapi baru minggu depannya lagi, usai pelatihan ya.
    *kabur dari kejaran para penagih utang*

  3. Tuh kan bukan cuma aku yg nganggep cerita kmrn msh belum selesai. Krn blm ada kesimpulan, rukyah kmrn sesuai syariah nggak? Kok masih ada bau mistis di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s